Dorong Kebangkitan Ledre: DPRD Minta Perluas Pemasaran dan Branding

10/10/2026
PEREMPUAN KREATIF: Ibu-ibu di Kecamatan Purwosari serentak membuat ledre dalam Festival Ledre. DPRD mendorong Pemkab Bojonegoro gencarkan branding ledre. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Komisi B DPRD Bojonegoro mendukung upaya bangkitnya ledre. Festival Ledre Bojonegoro menjadi upaya memopulerkan jajanan khas yang menjadi identitas daerah tersebut.

Branding untuk memperluas jangkauan pemasaran ledre. Serta, pelatihan berkelanjutan pembuatan ledre. Sarasehan Ledre bagian upaya mengemas sejarah kuliner agar mengakar. Menjadi identitas makanan Jonegaran.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, jajanan ledre sudah identik, melekat dengan Bojonegoro. Sehingga perlu gencar branding.

Serta, menegaskan kepada khalayak umum bahwa Bojonegoro mempunyai makanan khas.

“Pemkab harus mengembangkan ledre, karena menjadi identitas makanan khas,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Selasa (6/10/2026).

Legislator asal Kecamatan Baureno tersebut menegaskan, ledre harus menjadi produk andalan UMKM Bojonegoro.

Dengan adanya branding dan serta pelatihan packaging menarik agar ledre tetap lestari.

‘’Kalau ada orang datang ke Bojonegoro mencari oleh-oleh, otomatis mencari ledre jadi jajanan khas,” tutur ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Bojonegoro tersebut.

CAMILAN KHAS: Ledre kemasan mini mulai banyak peminat. Lebih praktis dan portabel. DPRD mendorong branding ledre terus gencar.

Dinperinaker dan Disdagkop Harus Kolaborasi

Dinas perindustrian dan tenaga kerja (dinperinaker) dan dinas perdagangan, koperasi dan usaha mikro (dindagkop UM) perlu ikut terlibat.

Nyengkuyung UMKM ledre. Memperluas jangkauan pemasaran ledre. Serta, memperbanyak pelatihan untuk mengasah keterampilan.

Lasuri mendukung upaya pemkab membuat Festival Ledre. Sehingga ledre bisa kembali menggema. Tidak hanya berhenti di etalase pedagang, menjangkau banyak masyarakat terlibat. Melestarikan dan rasa memiliki bersama.

Selain itu, politikus PAN tersebut menyarankan pentingnya mengulik sejarah ledre. Supaya bisa menjadi rujukan. Mengakar sebagai identitas makanan khas.

Selain menawarkan cita rasa, jajanan ledre menyuguhkan edukasi. Bersemi lintas generasi.

‘’Sejarah bisa untuk branding, agar orang tertarik,” ungkapnya.

Menurut Lasuri, makanan khas dengan pesona cerita akan mempunyai daya tarik. Tidak harus saklek, seperti sejarah aslinya. Bisa disambungkan dengan dunia pemasaraan, relevan dengan zaman.

Baca Juga :  70 Pelajar Duduki Gedung DPRD Bojonegoro

‘’Tugasnya OPD yang bisa mengolahnya dengan strategi pemasaran,” tambahnya. (man/kza)