Cukup Urus Satu Hari, Kepesertaan BPJS Kesehatan di Bojonegoro Bisa Aktif Lagi

BERI KETERANGAN: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bojonegoro Wahyu Giyanto saat ditemui di kantornya. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
BERI KETERANGAN: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bojonegoro Wahyu Giyanto saat ditemui di kantornya. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Sebanyak 36.845 warga Bojonegoro tidak lagi menjadi peserta BPJS Kesehatan. Mereka sebelumnya terdata sebagai warga yang iuran BPJS Kesehatan-nya dibiayai pemerintah. Istilahnya, penerima bantuan iuran (PBI).

Adapun, status kepesertaan BPJS Kesehatan mereka dinonaktifkan buntut pembaruan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) oleh pemerintah pusat. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bojonegoro Wahyu Giyanto membenarkan hal ini.

Wahyu sapaannya mengimbau para warga Bojonegoro terdampak penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan imbas pembaruan DTSEN tetap tenang. Dia memastikan, para peserta BPJS Kesehatan nonaktif bisa mengaktifkan lagi kepesertaannya.

‘’Proses aktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan bisa dalam waktu satu hari saja. Silakan mengajukan di Dinsos Bojonegoro,’’ ujar Wahyu Giyanto saat ditemui Bojonegoro Raya di kantornya, Senin (2/11/2026).

Dia mengemukakan, aktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan hanya butuh waktu sehari karena Bojonegoro telah berpredikat Universal Health Coverage (UHC). Dan, Pemkab Bojonegoro punya program khusus soal aktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan.

‘’Namanya Diare Kesuma. Dalam program itu, aktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan warga Bojonegoro bisa diproses lebih cepat. Lebih terkoordinasi dan terintegrasi,’’ terangnya.

Pria kelahiran Wonogiri ini meneruskan, ada kemungkinkan 36.845 warga Bojonegoro itu tidak bisa lagi menjadi PBI seluruhnya ketika mengaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan. Keputusan mengenai menjadi PBI atau non-PBI, ditentukan Dinsos Bojonegoro.

‘’Yang jelas, jika warga desil 1—5, pasti bisa menjadi PBI. Bagi warga desil 6—10, namun kondisi riilnya desil 1—5, juga bisa menjadi PBI. Nanti pengajuan PBI-nya diikuti pembaruan desil,’’ imbuhnya.

Bahkan, lanjut Wahyu, dalam keadaan gawat atau butuh layanan medis segera, warga prasejahtera yang kepesertaan BPJS Kesehatan-nya nonaktif, bisa diaktifkan lagi saat itu juga. Fasiltas kesehatan (faskes) terkait wajib membantu reaktivasinya.

Baca Juga :  Bupati Wahono Hadiri Malam Natal, Tuturkan Pesan Kedamaian

‘’Negara atau pemerintah menjamin seluruh warga bisa mengakses layanan kesehatan yang baik dan layak. Terutama, warga prasejahtera. BPJS Kesehatan hadir untuk itu,’’ tegasnya.

Lebih lanjut, mantan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pati ini mengemukakan, total kini ada 1.362.359 warga Bojonegoro menjadi peserta BPJS Kesehatan. Jumlah itu sekitar 99,11 persen dari total penduduk Bojonegoro yang berjumlah 1.374.547 jiwa.

‘’Untuk persentase keaktifannya di angka 90,45 persen. Sudah melebihi target RPJMN (rencana pembangunan jangka menengah nasional, red) sebesar 80 persen,’’ imbuhnya.

Adapun, ungkap Wahyu, dari 1.362.359 warga Bojonegoro yang menjadi peserta BPJS Kesehatan, sebanyak 652.988 warga merupakan PBI dari pemerintah pusat atau dibayai APBN. Sedang, 447.166 warga merupakan PBI dari Pemkab Bojonegoro atau dibiayai APBD Bojonegoro.

‘’Sisanya, 28.202 warga merupakan peserta mandiri, 215.282 warga peserta sektor pekerja (dibiayai perusahaan, red), dan 18.721 warga peserta pensiunan (dibiayai program pensiunan),’’ jelasnya.

Ditanya berapa total uang yang sudah bayarkan BPJS Kesehatan Cabang Bojonegoro untuk menanggung biaya pengobatan warga Bojonegoro peserta BPJS Kesehatan Bojonegoro pada 2026 berjalan ini, Wahyu mengungkapkan angka cukup fantastis.

‘’Dari Januari 2026 hingga September 2026, total uang (klaim, red) dibayarkan sekitar Rp 1,345 triliun. Sementara, total iuran masuk (premi peserta, red) sekitar Rp 1,122 triliun,’’ pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Ninik Susmiati mengemukakan, Diare Kesuma merupakan salah satu progam Pemkab Bojonegoro di bidang kesehatan. Program tersebut diinisiasi dan diotoritasi oleh Dinkes Bojonegoro.

Diare Kesuma, kata dia, merupakan akronim dari Pendaftaran Setiap Hari Jaminan Kesehatan untuk Semua. Program tersebut mempercepat proses aktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan. Semula butuh waktu 14 hari, melalui Diare Kesuma cukup satu hari saja.

Baca Juga :  Tingkatkan Sinergi, PEPC Zona 12—SKK Migas Gelar Lokakarya dengan Pemerintah dan Mitra

‘’Dalam Diare Kesuma, kami bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, dinsos, dan disdukcapil. Sehingga, pelayanan lebih terkoordinasi dan terintegrasi. Bisa lebih cepat,’’ jelasnya. (sab/kza)