BOJONEGORORAYA — Pemandangan memprihatinkan tampak di Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro baru-baru ini.
Di dusun itu, sejumlah anak bersekolah di satu bangunan dari papan kayu, berlantai tanah, mirip kandang ternak. Antarkelas hanya disekat. Tumplek jadi satu.
Sekolah dekat kampung halaman Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Kebudayaan dan Manusia (PMK) Pratikno serta Bupati Bojonegoro Setyo Wahono itu pun tampak kurang layak. Ramai-ramai digunjing publik.
Kepala Desa (Kades) Napis Mulyono tidak menampik hal itu. Dia mengatakan, sekolah bak kandang ternak tersebut memang nyata. Ada di desanya.
Mulyono menyebut, sekolah tersebut merupakan madrasah ibtidaiyah (MI). Berinduk ke Kementerian Agama (Kemenag).
“Punya 35 siswa. Yang belajar di bangunan itu 16 siswa. Kelas satu, dua, tiga. Sisanya di bangunan lain,” ujarnya kepada awak media, Rabu (26/11/2025) sore.



Kades Napis sejak 2019 itu meneruskan, sekolah tersebut berdiri lima bulan belakangan. Hasil swadaya warga. Sebagian material sekolah berasal dari sempalan rumahnya. Misalnya, bagian pintu.
Menurut dia, warga desa terpaksa membangun sekolah itu. Akses menuju SDN Napis yang lebih layak, sulit dilalui. Meski, jaraknya cuma dua kilometer (km).
“Ketika musim hujan, sungai di Desa Napis akan meninggi. Dusun Koripan terisolasi. Tidak ada jembatan,” jelasnya.
Terpisah, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Bojonegoro Sholihul Hadi mengatakan, sekolah tampak tidak layak di Dusun Koripan itu MI Silahul Muslimin.
Terkait bangunan MI Silahul Musliman yang tampak memprihatinkan, Sholihul Hadi mengatakan, MI itu sebetulnya memiliki gedung kelas dan kantor layak.
“Sebenarnya MI itu punya sarpras lebih layak. Satu gedung kelas dan satu kantor. Tapi lokasinya berbeda,” tuturnya.
Namun demikian, pihaknya tidak akan menutup mata perihal ketidaklayakan MI itu. Akan mengusulkan bantuan sarana prasarana untuk MI tersebut.
“Bantuan akan diusulkan ke Kemenag pusat. Nanti dapat atau tidak, tergantung Kemenag pusat,” pungkasnya. (sab/kza)

