Petani Bojonegoro Bersiap Hadapi Ketidakpastian Iklim dan Krisis Pangan

04/05/2026
AGRARIA: Pemulia senior BRMP Padi memberikan materi pemuliaan kepada petani di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro.

BOJONEGORORAYA – Gelak tawa memancar di kediaman Karji, warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Para petani serasa jagongan. Suasana riuh, santai namun mengesankan.

Kegiatan berlangsung 20-24 April 2026 ini mendorong kemandirian dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sebanyak 21 petani berkumpul.

Gayeng mengikuti pelatihan Petani Pemandu Sekolah Lapangan Pertanian 2026. Saling mengisi dan berdiskusi. Menempatkan 21 petani bukan sekadar peserta, tetapi subjek utama pembelajaran.

Semangat belajar bersama ini membawa para petani pada sebuah terobosan teknis yang krusial. Para petani kini mendalami materi pemuliaan tanaman.

Nafisah, peneliti dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Subang larut dalam diskusi para petani tersebut. Kehadiran akademisi di tengah sawah ini memicu antusiasme besar.

Terutama saat para petani mulai fokus melakukan konservasi genetik varietas padi local, Dinamakan varietas Pendok.

‘’Saya memang ingin bekerja bersama petani. Melalui program ini, saya bisa dalam proses pemuliaan padi bersama mereka,” tutur Nafisah dengan optimisme.

Varietas Pendok, Karakteristik Unggul

Proses pemuliaan ini bukan sekadar uji coba singkat. Namun, sebuah konsistensi panjang telah memasuki generasi keenam atau tahap F5.

Keberhasilan mencapai tahap ini menandakan bahwa karakteristik unggul dari padi Pendok sudah mulai konsisten dan seragam. Sehingga siap menjadi tumpuan di atas total luas lahan kelolaan sekitar 23,7 hektare.

Pemahaman mendalam terkait genetika tanaman secara partisipatif, para petani pemandu kini belajar merancang kurikulum. Serta, petunjuk lapangan mereka sendiri. Sehingga varietas ini benar-benar tangguh menghadapi tantangan lingkungan setempat.

Mengubah Paradigma, Jadi Petani Adaptif

Kegiatan bagian dari Program Pengembangan Masyarakat ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ini didampingi Yayasan Daun Bendera.

Perwakilan Yayasan Daun Bendera Devi Wahyunigtyas menegaskan bahwa pembelajaran ini mengubah paradigma petani. Dari sekadar pengolah tanah menjadi penggali pengetahuan.

Baca Juga :  Himpaudi Award 2025, Himpaudi Bojonegoro Raih Penghargaan Tata Kelola Organisasi Terbaik

“Petani itu banyak pengalamannya. Tapi, sering tidak sadar kalau itu adalah ilmu yang berharga,” tutur Devi.

Syaiful petani pemandu dari Desa Sudu mengaku antusias dengan pendekatan ini. Menurutnya, petani itu mau belajar, hanya caranya harus pas.

“Tugas kami sebagai pemandu adalah menggali pengalaman kami para petani, untuk dijadikan pengetahuan bersama,” ujarnya.

Hasilkan 2.400 Ton Gabah Per Musim Tanam

Syaiful menegaskan bahwa peran pemandu kini bukan lagi sebagai guru mengajar. Sebaliknya rekan belajar bersama.

Dampak dari penguatan kapasitas ini akhirnya bermuara angka kesejahteraan yang nyata di lapangan. Manfaat program telah menjangkau lebih 600 petani di wilayah sekitar.

Secara akumulatif, sinergi antara pengetahuan lokal dan pendampingan teknis ini mampu menghasilkan sedikitnya 2.400 ton gabah per musim tanam.

Ali Mahmud perwakilan dari EMCL menyebut bahwa pelatihan ini menjadi bagian upaya mendorong petani lebih mandiri dan adaptif. Kepercayaan diri petani sebagai sumber pengetahuan utama akan terus meningkat.

Sehingga ketergantungan terhadap pasokan benih dari luar dapat ditekan demi mewujudkan kedaulatan pangan di tingkat desa. (man/kza)

error: Content is protected !!