Alarm Bahaya: 83,5 persen Siswa SMA/SMK Bojonegoro Berselancar di Ruang Digital hingga Larut Malam

BERI BEKAL LITERASI DIGITAL: Salah satu narasumber saat memaparkan materi dalam Kampanye Praktik Baik Siswa. (Foto: Dok. EMCL)

BOJONEGORORAYA – Aktivitas digital siswa SMA/SMK di Bojonegoro ternyata mengkhawatirkan. Banyak yang berselancar di ruang digital seperti scrolling media sosial, hingga larut malam.

Waktu istirahat mereka pun tidak optimal. Aktivitas belajar di sekolah pada keesokan paginya berpotensi terganggu. Materi diberikan para guru di kelas, rawan amblas.

Alarm bahaya digital itu mengemuka dalam survei dilakukan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro terhadap 1.282 siswa SMA/SMK di Bojonegoro, baru-baru ini.

Sebanyak 83,5 persen responden survei mengaku terbiasa berselancar di ruang digital hingga larut malam. Dan, 52,5 persen responden pernah menyaksikan langsung aksi cyberbullying di ruang maya tersebut.

Ketua PDPM Bojonegoro M. Imam Akbar Al Haromein menyimpulkan, hasil survei itu mengonfirmasi tantangan digital saat ini bukan lagi masalah akses internet.

Melainkan, bagaimana perilaku digital—terutama remaja—harus tetap sehat, aman, dan etis. Meresponsnya, PDPM Bojonegoro menggelar pembekalan literasi digital di SMAN 1 Kalitidu.

Pembekalan literasi digital tersebut berlangsung selama dua hari. Rabu (4/7/2026) dan Kamis (5/7/2026). Tajuknya, Kampanye Praktik Baik Siswa.

Kegiatan itu didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Menjadi bagian dari Program Literasi Digital Cerdas dan Sehat untuk Remaja yang digulirkan EMCL dan SKK Migas sejak April 2026.

Pemkab Bojonegoro menyambut baik kegiatan tersebut. Kepala Dinkominfo Arif Afandy hadir memberikan santiaji kepada lebih dari 600 siswa dan guru perwakilan 20 sekolah di wilayah barat, tengah, dan timur Bojonegoro.

Dia salah satunya menekankan, siswa dan guru SMA/SMK di Bojonegoro harus punya bekal dalam beraktivitas di ruang digital. Sehingga, tidak berakhir menjadi objek. Melainkan, subjek.

‘’Kita harus punya bekal untuk bisa menjadi pemenang dalam kemajuan teknologi (digital, red) ini. Jangan mau menjadi objek,’’ tuturnya kepada para audiens kegiatan itu, Selasa (4/8/2026) pagi.

Baca Juga :  Modal Koperasi Merah Putih Bojonegoro Masih Buntu, Baru Jelas soal Agrinas

Birokrat anyar Pemkab Bojonegoro itu meneruskan, siswa atau pelajar saat ini merupakan generasi digital native. Mereka lahir di era teknologi digital. Sulit menghindari teknologi digital.

‘’Kita, orang tua, dan guru harus membekali mereka (generasi digital native, red) dengan pengetahuan, pemahaman, serta mentalitas,’’ imbuh eks Sekretaris KPU Bojonegoro itu.

Hal senada disampaikan perwakilan EMCL Almaliki Ukay Sukaya Subqy. Dia menyebut, pembekalan literasi digital seperti dalam Kampanye Praktik Baik Siswa merupakan fondasi penting.

Oleh karena itu, Malik sapaannya mengatakan, EMCL bersama SKK Migas mendukung penuh kegiatan tersebut melalui Program Literasi Digital Cerdas dan Sehat untuk Remaja.

‘’Ini komitmen industri hulu migas (EMCL, red) dalam mendukung program yang memberi manfaat berkelanjutan di dunia pendidikan,’’ terang lulusan Murdoch University itu.

Devons Defaniel Waruwu salah satu peserta Kampanye Praktik Baik Siswa di SMAN 1 Kalitidu tersebut. Siswa kelas 11 SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi Bojonegoro ini mengaku senang.

Selama pembekalan, siswa bermarga Suku Nias di Sumatera Barat itu meneguk aneka pengetahuan ihwal literasi digital. Disampaikan dengan gaya yang santai, lugas, serta mudah dipahami.

‘’Saya juga melihat EMCL tidak hanya berfokus pada industri energi. Tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas SDM melalui literasi digital,’’ ujarnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!