BOJONEGORORAYA – Ramah lingkungan dan minim sampah plastik begitu terasa dalam pelaksanaan Festival Media (Fesmed) Selat Malaka.
Sebanyak 500 kilogram (kg) tutup botol plastik disulap menjadi plakat penghargaan di Fesmed Selat Malaka 2026. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengajak bikin plakat sebuah karya seni menjadi suvenir.
Suvenir menjadi buah tangan untuk akademisi, pembicara, komunitas, dan seluruh delegasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
Beragam lokakarya berlangsung dalam Fesmed Selat Malaka pada 19-21 September 2026. Fesmed tahun ini berada di Batam dan Tanjungpinang.
Ketua AJI Indonesia Nany Afrida mengatakan, akan menyerahkan plakat berbentuk logo Fesmed Selat Malaka kepada para delegasi AJI Kota se Indonesia, pada Sabtu (20/9/2026). Sebagai kenang-kenangan, saat pulang.
Plakat itu terbentuk dari proses upcycling. Pemrakarsa oleh Free The Sea. Mencegah sampah plastik melenggang bebas ke laut.
Mengumpulkan ragam tutup botol menjadi limbah. Lalu, mengolahnya. Melalui sistem pengelolaan sampah tersistem. Mengubah menjadi material memiliki nilai guna.
Produk daur ulang tersebut sebagai merchandise dalam penyelenggaraan Fesmed Selat Malaka 2026.

Ajak Jurnalis Kampanye Jaga Laut dari Sampah
General Manager Free the Sea Deswandy mengatakan, kolaborasi dalam Fesmed Selat Malaka menjadi kesempatan mempertemukan dua isu.
Yakni keberlanjutan lingkungan dan kebebasan pers. Kedua isu tersebut memiliki dampak luas bagi masyarakat di kawasan Selat Malaka.
“Selat Malaka adalah ruang hidup bersama. Menjaga lingkungan pesisirnya membutuhkan kolaborasi dan perhatian publik. Termasuk melalui kerja jurnalistik mampu mengangkat persoalan lingkungan dan masyarakat di kawasan ini,” ungkapnya.
Bagi Free the Sea, menurut Deswandy, penggunaan material upcycling dalam forum media bukan sekadar pilihan material. Tetapi, membawa pesan tentang bagaimana persoalan sampah dapat bermanfaat. Menjadi bagian dari solusi.
Plakat dari material bekas itu seperti mengingatkan, bahwa mengatasi persoalan sampah tidak selalu harus dari sesuatu yang besar.
“Kami berharap pesan ini juga dapat dibawa lebih jauh oleh para jurnalis, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan yang hadir di Fesmed Selat Malaka,” tutur Deswandy.
Perusahaan asal Jerman itu menegaskan diri berfokus pada pencegahan sampah plastik agar tidak mencapai laut.
Membangun solusi pengelolaan sampah yang praktis. Dapat menelusuri melalui Material Hub. Sudah terhubung antarpulau.
Bikin Infrastruktur Sampah Lokal
Kegiatan menghambat sampah itu bisa berkelanjutan karena bekerja sama dengan komunitas di Batam. Mengembangkan infrastruktur sampah lokal.
Menghubungkan rumah tangga dengan sistem pengumpulan, dengan fasilitas pengolahan satu jaringan.
Mengolah daur ulang plastik menjadi bahan baku sekunder. Sementara material tidak dapat didaur ulang, pengelolaan secara bertanggung jawab.
Melalui plastic keepers atau para penangkap atau pengepul sampah plastik, komunitas menjadi bagian penting dari sistem mereka.
Menggerakkan melalui edukasi, keterlibatan, insentif, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sehari-hari.
Saat ini, sudah ada 1.955 rumah tangga terhubung dengan total 226 ton plastik. Sampah sulit terurai tersebut agar tidak sampai ke laut lepas.
Bojonegoro pun bisa menirunya. Jika Free the Sea memulai menghambat sampah masuk ke laut, Bojonegoro bisa menghambat sampah masuk ke Bengawan.
Memulai dengan mengajak setiap rumah tangga di bantaran Bengawan untuk menjadi relawan. Serta, sadar menjadi bagian menjaga ekosistem perairan. (man/kza)

