Kisah Pendidikan dari Kecamatan Kedewan (3)

Jika Sekolah Rakyat Berdiri, Cemas Bangku Tak Terisi

RAMAI: Sejumlah siswa SMPN 1 Kedewan saat mengikuti pembelajaran di kelas. (Foto: Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

RENCANA pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Desa Beji, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, jadi harapan baru. Oase pendidikan di kawasan pedalaman. Sekaligus tantangan pemerataan pendidikan di kawasan rimba.

Kepala SMPN 1 Kedewan Wahyudiono menyambut baik rencana SR di Desa Beji tersebut. Namun, dia juga khawatir SR akan mengurangi pagu atau rombongan belajar (rombel) di SMPN 1 Kedewan.

‘’Ranahnya (SR, red) memang untuk siswa tidak mampu. Hanya, khawatir saya, kalau semua siswa tidak mampu diminta ke SR, bisa kukut (bubar, red) SMPN 1 Kedewan ini,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/4/2026) pagi.

Wahyudiono merefleksi, jumlah siswa baru pada PPDB di SMPN 1 Kedewan naik turun setiap tahun. Rombelnya pernah mencapai lima kelas, empat kelas, tiga kelas. Dia berharap, bisa stabil empat kelas.

‘’Jika terdapat SR dan penerimaan siswanya tidak dibatasi, akan mengurangi rombel kami. Perkiraan, dapat 50 siswa baru saja, sulit,’’ imbuhnya.

Saat ini, SMPN 1 Kedewan total memiliki 376 siswa. Mulai kelas tujuh hingga sembilan. Mereka diampu oleh 25 guru dan enam tenaga kependidikan.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro Agus Susetyo Hardiyanto mengatakan, pembangunan SR di Desa Beji masih proses usulan di Kementerian Sosial (Kemensos).

‘’Kami masih berusaha mencukupi lahan. Agar sesuai yang disyaratkan,” jelasnya di DPRD Bojonegoro, Senin (16/3/2026) lalu.

Pejabat akrab disapa Antok itu mengemukakan, pembangunan SR standarnya butuh lahan 7,4 hektare. Sementara, di Desa Beji saat ini baru tersedia 5,4 hektare. (man/sab/kza)

— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

Baca Juga :  Meringis dan Menangis setelah Makan Bergizi Gratis
error: Content is protected !!