BOJONEGORORAYA – Kampus Universitas Brawijaya (UB) bakal membuka di Bojonegoro. Kampus UB berpusat di Malang tersebut rencana membuka program studi di luar kampus utama (PSDKU).
Rencananya membuka dua prodi. Yakni, kedokteran dan teknik industri pertanian. Penjajakan kerja sama sudah berlangsung antara Pemkab Bojonegoro dengan UB, pada Jumat (9/10/2026) lalu.
PSDKU UB rencana berada di Jalan Hos Cokroaminoto, Bojonegoro. Lahan pemkab berada di depan SMAN 2 Taruna Pamong Praja.
Rencana tersebut mendapat sambutan baik dari civitas akademik. Memacu peningkatan mutu pendidikan tinggi atau kampus di daerah. Calon mahasiswa bisa merasa untung, pilihan program studi beragam.
Namun, intervensi Pemkab Bojonegoro perlu proporsional antara kampus negeri dan lokal. Keseimbangan ini agar ekosistem pendidikan tinggi di Bojonegoro, terjaga. Tidak timpang dan berat sebelah.
Rektor Stikes Muhammadiyah Bojonegoro Sudalhar, mengatakan terbuka dengan pendirian kampus negeri di daerah. Rencana PSDKU UB bisa berdampak positif bagi peningkatan sumber daya manusia (SDM).
Kampus lokal semakin terpacu. Dengan catatan, Pemkab Bojonegoro, harus bijaksana.
‘’Perlu mempertimbangkan keberlangsungkan kampus lokal,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya (14/10/2026).
Menurut Dalhar, rencana dua prodi PSDKU UB Malang yakni kedokteran dan teknik industri pertanian belum tersedia di kampus lokal. Sehingga, merasa tidak mengancam eksistensi kampus lokal.
Dalhar membeberkan, Stikes Maboro bakal menjadi universitas tahun ini. Tidak menutup kemungkinan di masa mendatang membuka prodi kedokteran. Meski butuh persiapan matang dan lama, pihaknya optimistis siap bersaing dengan kampus negeri.
‘’Kampus kami sudah terbukti, seperti di Unmuh Surabaya meski ada Unair yang juga ada kedokteran. (Kompetisi) Menjadi hal biasa bagi kampus Muhammadiyah,” tutur pria asal Kecamatan Purwosari, tersebut.

Pemkab Bojonegoro Harus Proporsional dengan Kampus Lokal
Mutu pendidikan, menurut Dalhar, menjadi daya tawar kampus lokal. Namun, kesiapan tersebut harus berbarengan kebijakan pemkab yang proporsional. Seperti pembatasan kuota mahasiswa untuk PSDKU.
“Kuota penerimaan mahasiswa baru jangan dibiarkan tanpa batas, harus ada proporsi,” tutur sekretaris Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bojonegoro.
Dalhar membeberkan, ada sekitar 15.000 mahasiswa di Bojonegoro. Tersebar di 13 perguruan tinggi swasta. Dengan bertambahnya kampus negeri di daerah, warga banyak pilihan menempuh pendidikan. Akan memicu pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM).
Wakil Rektor I IKIP PGRI Bojonegoro Ima Isnaini menyambut positif rencana pemkab menghadirkan PSDKU UB di daerah. Langkah strategis memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Investasi jangka panjang untuk meningkatkan SDM dan IPM Bojonegoro.
“Kami meyakini rencana tersebut telah melalui berbagai pertimbangan,” ujarnya.
Menurut Ima, menjadi kebutuhan daerah, proyeksi SDM, pemilihan bidang keilmuan relevan dengan kebutuhan pembangunan Bojonegoro.
Dua prodi yakni bidang teknik industri pertanian dan kedokteran dapat menjadi bagian dari penguatan sektor strategis daerah.
“Apabila pengembangan secara serius dan terintegrasi dengan kebutuhan industri, pertanian, layanan kesehatan, dan pembangunan ekonomi daerah,’’ tutur dosen menjabat ketua Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro (Inspira Risbo).

Bisa Memacu Mutu dan IPM
Ima Isnaini menambahkan, kehadiran PTN di daerah tidak semestinya hanya sebagai kompetisi dengan kampus lokal. Tetapi, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi saling melengkapi.
Justru dengan semakin banyaknya pilihan perguruan tinggi berkualitas, masyarakat memiliki kesempatan lebih luas. Bisa memilih pendidikan sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuan. PTN dan PTS memiliki karakteristik, jalur, dan ekosistem yang berbeda.
“Bagi PTS (kampus) lokal seperti kami, perkembangan ini tentu menjadi tantangan sekaligus momentum untuk berbenah,” jelasnya.

Ima menambahkan, kampus lokal tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan atau kedekatan geografis. Kampus harus mampu menawarkan kualitas pembelajaran.
Termasuk, lanjut Ima, relevansi program studi dengan kebutuhan dunia kerja, layanan akademik yang baik, penguatan riset dan inovasi. Jejaring industri, serta pengalaman belajar memberikan nilai tambah bagi mahasiswa.
“Kalau PSDKU UB hadir dengan bidang keilmuan yang strategis, sementara PTS memperkuat keunggulan dan kekhasan masing-masing,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor Unigoro Tri Astuti Handayani dan Rektor Unugiri Jauharul Ma’arif saat diwawancara Bojonegoro Raya pada Rabu (14/10/2026) belum bisa memberikan tanggapan. (man/kza)

