Lulus SD di Bojonegoro, Minimal Hafal Juz Amma

EDUKASI: Bupati Setyo Wahono dan Wabup Nurul Azizah menyalami para jawara dalam MTQ. Bupati meminta lulus SD hafal juz amma. (Foto: Dinas Kominfo Bojonegoro).

BOJONEGORORAYA – Budaya cinta Alquran sejak dini mulai bergulir di Bojonegoro. Bupati Bojonegoro Setyo Wahono meminta agar siswa sekolah dasar (SD) yang lulus harus bisa hafal juz amma. Harus hafal surat-surat juz 30 Alquran.

‘’Saat pengambilan ijazah, minimal hafal juz amma. (Kalau tidak hafal) jangan dikasihkan,’’ tutur Setyo Wahono saat sambutan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Pendapa Malawapati, Kamis (16/10/2026).

Wahono mengajak Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Anwar Mukhtadlo untuk serius dalam kebijakan lulus SD harus bisa hafal juz amma. Menjadi persyaratan saat pengambilan ijazah SD.

‘’Nanti kita buat aturan, kepada kepsek (kepala sekolah), bisa mengambil ijazah minimal hafal juz amma. Budaya cinta Alquran dimulai sejak dini,’’ tegas putra daerah Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo tersebut.

Wahono mendadak teringat masa kecilnya yang sederhana dan berkesan tinggal di Desa Dolokgede. Sehabis salat Mahrib, budaya mengaji di musala sampai isya.

‘’Ingat masih kecil, saat mahrib dipecuti (diperintah) ke musala, kalau di Desa Dolokgede namanya langar sampai isya. (Setelah) itu baru belajar,’’ tutur Wahono dengan senyum.

Budaya mengaji di musala saban malam adalah tradisi sejak dulu. Setelah itu belajar untuk persiapan sekolah. Namun, Wahono terenyuh melihat tradisi tersebut sudah luntur. Bahkan, anak-anak saat ini lebih suka bermain handphone (HP) daripada mengaji.

Bupati juga masih teringat saat mengenyam pendidikan SMA di Jogjakarta. Saat itu, syarat mengambil ijazah harus hafal juz amma.

Upaya hafal juz amma, menurut Wahono, upaya Bojonegoro sebagai ladang generasi hebat. Ikhtiar membangun generasi qurani di Bumi Rajekwesi-sebutan Bojonegoro.

‘’Generasi qurani ini tidak hanya cerdas, tapi juga sehat spiritual,’’ tegas Wahono.

Implementasi tidak sekadar membaca, menurut Wahono, generasi qurani arahnya sikap kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Dia berharap lembaga pengembangan tilawatil quran (LPTQ) terus aktif. Bergerak. Estafet pembinaan.

Baca Juga :  Datangkan Juara Satu Nasional, 788 Guru TK Berlatih Finger Painting, Membuat Permainan Kreatif

Menghidupkan Generasi Qurani di Bumi Rajekwesi

Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah haru dan bangga ketika menyapa para anak-anak generasi qurani. Mereka para jawara musabaqah tilawatil quran (MTQ) tingkat kecamatan. Bersalaman dan menebar semangat.

Wabup Nurul Azizah kini menjabat ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Bojonegoro. MTQ tingkat kabupaten berlangsung Kamis (15/10/2026).

Sebelumnya berlangsung MTQ tingkat kecamatan dengan tiga zona. Yakni, zona timur berlangsung di Ponpes At-Tanwir Talun, Kecamatan Sumberrejo dengan 273 peserta.

Zona tengah di Ponpes Abu Dzarrin dengan 321 peserta. Serta, zona barat berlangsung di Ponpes Al-Bahroin Kecamatan Padangan, dengan 289 peserta. Total ada 889 peserta MTQ.

‘’Bojonegoro punya aset dengan 270 hafidz dan 380 hafidzah. Data ini perlu up-to-date lagi. Aset ini menjadi kebanggaan,’’ tutur Nurul Azizah.

Nurul Azizah mengatakan, perlu merawat aset Bojonegoro dengan hafidz dan hafidzah tersebut. Menjadi modal sebagai daerah menebar dan siar Alquran.

‘’Pesan Pak Bupati, agar terlaksana ngaji sebulan sekali di pendapa,’’ tutur Wabup.

Pelaksanaan MTQ ini secara organik. Berlangsung dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Nantinya, perwakilan atau kafilah MTQ asal Bojonegoro ini dari penjaringan tersebut.

Sebaliknya, kafilah MTQ bukan dari comotan. LTPQ juga akan menggiatkan audisi MTQ. Dari audisi ini lahir generasi qurani. Serta, LPTQ akan giatkan munaqasah atau ujian.

‘’Dari audisi dan munaqasah MTQ ini nantinya LPTQ akan memberi prestasi. Ada sertifikat atau identitas legal. Dan, bisa untuk jalur prestasi,’’ tegas Nurul Azizah. (kza)