Obsesi 2029, Produksi Beras Bojonegoro Menyamai Indramayu

PRODUKTIF: Bupati Wahono dan Nurul Azizah saat ikut panen raya, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORORAYA – Produksi gabah atau beras Kabupaten Bojonegoro telah melesat ke urutan dua di Jawa Timur. Berhasil menyalip Kabupaten Ngawi. Tapi, masih di bawah Lamongan. Namun, obsesi tersebut belum berhenti.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bermimpi produksi gabah atau padi bisa melampaui Kabupaten Indramayu. Saat ini, Indramayu sebagai produsen padi tertinggi secara nasional.

Optimisme menyamai Indramayu tersebut menjadi tantangan. Terutama setelah Bojonegoro memiliki lahan baku dan luasan hutan yang membentang.

Butuh kolaborasi dengan Perhutani. Setidaknya menjadi instrumen obsesi menyamai produksi beras Indramayu. Sama-sama sebagai lumbung pangan.

‘’Targetnya tahun depan (produksi beras) melebihi Lamongan. Dan, khususnya target pada 2029 bisa di atas Indramayu,’’ tutur Bupati Wahono saat pelantikan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bojonegoro dan pembukaan Festival Gumregah Tani Bojonegoro (Gutanbo), Jumat (16/10/2026).

Obsesi menyamai Indramayu tersebut, Wahono sering kali menelpon Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani. Menanyakan perkembangan pertanian.

Selain sering menelpon DKPP, pihaknya juga memantau kinerja dinas pekerjaan umum sumber daya air (PU SDA).

‘’Kadin (kepala dinas) SDA keruk-keruk. Bikin embung. Saluran air. Karena kata kuncinya (sektor pertanian), yakni air, pupuk, dan teknologi pertanian,’’ tutur bupati kelahiran Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, tersebut.

Kenapa harus menargetkan 2029? Wahono memastikan alasannya karena kompletnya instrumen pertanian di Bojonegoro. Pemkab akan support kebutuhan pertanian.

Mulai kebutuhan program hingga advokasi pertanian. Termasuk, upaya meningkatkan lahan baku sawah. Cetak sawah baru.

‘’Kami minta Pak Sekda, pertanian sebagai skala prioritas,’’ tegas Wahono.

Bupati pernah menjabat komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut mengaku akan mengajak administrator (adm) Perhutani KPH Bojonegoro untuk menambah lahan baku dengan cetak sawah.

Baca Juga :  Mempertahankan Ledre di Pecinan Padangan, Tetap Pakai Anglo dan Arang

‘’Yang punya lahan Pak Adm Perhutani. Targetnya bisa cetak sawah minimal 300 hektare. Maksimal kebutuhan air, instrumen tinggal menambah bahan baku sawah,’’ jelasnya.

Namun, sebelum target 2029 menyamai Indramayu, Wahono lebih dulu memasang badan untuk capaian 2027. Target 2027 pertanian Bojonegoro, bisa urutan pertama di Jatim. Wahono optimisme karena pemkab akan support alat tanam padi.

‘’Kendala wong tandur (petani tanam padi), (alat tanam) wes larang, inden sisan. Tentu, repot kalau umur padi lebih 25 hari, pasti akan jadi masalah,’’ jelasnya dan memastikan sudah koordinasi dengan salah satu BUMD terkait alat tanam.

OPTIMISME: Wabup Bojonegoro Nurul Azizah mengibarkan bendera HKTI. Didampingi Bupati Setyo Wahono. Pelantikan pengurus HKTI bersamaan Festival Gutanbo di Alun-Alun Bojonegoro, Jumat (16/10/2026). (Foto: Istimewa)

Selisih Produksi Padi Bojonegoro dan Indramayu

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Indramayu, produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 1,5 juta ton per tahun. Sedangkan, produksi GKG Bojonegoro mencapai 810.000 ton.

Sehingga, selisihnya sekitar 740.000 ton agar Bojonegoro bisa menyamai produksi GKG Indramayu.

Sementara, perbandingan produksi beras siap konsumsi juga berbeda. Indramayu produksi beras 800.000 ton sampai 900.000 ton. Sedangkan, Bojonegoro produksi beras kisaran 500.000 ton hingga 507.000 ton.

Selisih produksi beras antara Indramayu dan Bojonegoro, sekitar 300.000 ton.  Kalkulasi produksi beras ini mengacu rendemen BPS sekitar 50 persen hingga 57 persen.

Indramayu bisa menembus angka GKG mencapai 1,5 juta ton per tahun karena memiliki hamparan sawah teknis cukup besar. Areal pertanian di sepanjang pantai utara. Pasokan air dari irigasi bersumber Waduk Jatiluhur/ Jatigede.

Selain Indramayu, urutan berikutnya daerah penghasil beras tertinggi yakni Kabupaten Karawang dengan 689.925 ton. Subang dengan 632.216 ton beras. Banyuasin Sulawesi Selatan dengan 676.271 ton beras.

Serta, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dengan 512.901 ton. Selanjutnya, Lamongan 508.126 ton beras. Berikutnya, Bojonegoro.

Baca Juga :  Festival Geopark Perkuat Posisi Bojonegoro di Level Regional, Nasional, hingga Internasional

Bojonegoro masih berada di 10 besar urutan kabupaten/kota penghasil beras secara nasional. Masih masuk ring 10 besar lumbung pangan.

Bojonegoro berpotensi ke urutan papan atas produksi beras nasional, terutama setelah pasokan air Sungai Bengawan. Bojonegoro merupakan kabupaten terpanjang di aliri Sungai Bengawan.

MENUJU PANEN: Areal pertanian padi di kawasan perkotaaan Bojonegoro. Pemkab Bojonegoro berusaha mengajak cetak sawah baru untuk menopang produksi beras. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Regenerasi Petani dan Pelantikan HKTI

Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah mengangkat bendera HKTI. Mengibarkannya dengan senyum. Optimisme sektor pertanian dari Bupati Setyo Wahono, segera dijalankan, terutama setelah pelantikan HKTI Bojonegoro.

‘’Senantiasa mendukung kebijakan bupati, agar petani bisa tersenyum,’’ tutur ketua HKTI Bojonegoro tersebut.

Wabup Nurul Azizah mengatakan, saat ini luas lahan baku sawah atau lahan sawah dilindungi (LSD) kisaran 92.373 hektare. Dengan target kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B) 87 persen. Angka tersebut agar lahan pertanian tidak beralih fungsi.

Skala prioritas pertanian sudah menjadi garis besar. Wabup Nurul Azizah sudah sering kali menyampaikan pesan bupati kepada tim anggaran pemerintah daerah (TAPD).

‘’Pesan Pak Bupati, yakni ketersediaan air, pupuk, harga pascapanen, bibit, dan hama,’’ tegasnya.

Wabup Nurul memastikan, kebijakan makro Pemkab Bojonegoro, mengarah pertanian. Tata kelola air menjadi pemantauan. Serta, strategi listrik masuk sawah.

Pemberantasan hama tikus secara alami, dengan menebar burung kukuk beluk. Burung hantu pemakan tikus. Mengantisipasi pemakaian jebakan tikus dengan aliran listrik, yang justru memakan korban jiwa.

Upaya cetak sawah baru juga menjadi strategi lainnya untuk menambah produksi beras. Berharap ada penambahan, terutama setelah bupati meminta merekap cetak sawah baru.

Sementara itu, pelantikan HKTI Bojonegoro cukup komplet. Selain pengurus kabupaten, sekaligus pelantikan pengurus HKTI kecamatan.

Struktur pengurus, menurut Wabup Nurul Azizah, ini merupakan tokoh pertanian dari desa. Serta, perwakilan kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan).

Baca Juga :  Denyut Iduladha di Bojonegoro, Bak APBD Tandingan yang Organik

‘’Tentu berdasar masukan dari kepala desa. Pengurus di 28 kecamatan rerata dari gapoktan dan menjati tokoh di desa atau kecamatan,’’ tutur Wabup.

Pelantikan HKTI ini menjadi penanda agar turut sengkuyung atau kolaborasi sektor pertanian. Regenerasi pertanian menjadi instrumen untuk menambah produksi beras Bojonegoro. Bersemangat agar generasi saat ini cukup senang menjadi petani atau pengusaha pertanian.

Pelantikan HKTI Bojonegoro penuh makna. Ada perwakilan HKTI Jawa Timur. Selain bupati, hadir pula Ketua DPRD Bojonegoro Abdulloh Umar. Ketua HKTI Bojonegoro Nurul Azizah dan sekretaris Sofan Solikin. Pelantikan bersamaan dengan pembukaan Festival Gutanbo di Alun-Alun Bojonegoro. (kza)