PAGI itu berkabut. Tebal. Halimun berbaur embun menyelimuti Sungai Bengawan turut Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro.
Pelita matahari masih remang. Namun, Rabu (22/4/2026) pagi itu, Iqbal harus berangkat sekolah. Merapikan tali sepatu dan membawa tas sekolah, menerjang kabut.
Iqbal bergegas menuju Bengawan. Jalan kaki. Sampai tepi Bengawan, anak Dusun Jipangulu itu naik perahu. Menyeberang Bengawan. Bersama teman-teman. Menuju Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Blora.
Hawa dingin menusuk badan beradu dengan semangat Iqbal dan teman-teman mengenyam pendidikan di perbatasan. Bersekolah jauh dari perkotaan. Akses seadanya tidak memalaskan mereka.
‘’Setiap pagi, kalau berangkat sekolah menyeberang naik perahu ini,” tutur siswa SMPN 1 Menden itu kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/4/2026) pagi.
Kisah Iqbal dan teman-temannya merupakan potret anak Bengawan. Berangkat naik perahu. Membelah aliran Bengawan. Bahkan, sesekali membantu kemudi perahu.
Pun, ketika sudah sampai tambangan tepi Bengawan turut Desa Mendenrejo, Iqbal dan teman-temannya yang mengurus tali perahu. Mengaitkannya ke tunggak tambangan. Perahu berhenti melaju.
Iqbal mengungkapkan, ada alasan mengapa dia dan teman-teman bersekolah di Blora dan rela menyeberang Bengawan. Yakni, SMPN di Kecamatan Margomulyo jauh dari rumahnya.
“Kalau sekolah di Blora (SMPN 1 Menden, red) lebih dekat,” tutur siswa SMPN 1 Menden kelas sembilan tersebut.
Iqbal mengemukakan, jarak tambangan di Desa Mendenrejo dengan SMPN 1 Menden dekat saja. Dia dan teman-teman biasa menempuhnya jalan kaki. Sekitar lima sampai sepuluh menit.
Setelah rombongan Iqbal, ada anak Dusun Jipangulu lain berangkat sekolah ke Desa Mendenrejo. Naik perahu menyeberang Bengawan. Dia bersandal. Mengakali licin. Sepatu baru dipakai saat sudah di seberang.
Sofia Deliana, salah satu warga Dusun Jipangulu mengatakan, rerata anak-anak di dusunnya usai lulus SD, memang memilih melanjutkan sekolah ke Blora. Tepatnya, di SMPN 1 Menden.
‘’Orang tua pilih yang lebih dekat. Karena, tidak mungkin anak lulus SD lalu berangkat sekolah naik motor,” ujarnya.
Sofia mengungkapkan, butuh waktu 30 menit naik motor dari Dusun Jipangulu menuju SMPN 1 Margomulyo. Biaya lebih banyak. Selain itu, jika diantarkan orang tua, menyita waktu bekerja.
‘’Kalau orang desa kan pagi-pagi sudah bergegas bertani,” tutur guru salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) di perkotaan Bojonegoro itu.
Alumnus SMPN 1 Menden itu melanjutkan, selain SMPN 1 Menden anak Dusun Jipangulu lulus SD juga ada yang melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.
‘’Beberapa anak saja. Pondok pesantrennya rerata di luar Kecamatan Margomulyo,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Dusun Jipangulu memang terpencil. Sekitar 60 kilometer (km) dari perkotaan Bojonegoro. Dusun ini tidak saja di perbatasan Bojonegoro-Blora. Namun, juga perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. (man/sab/kza)
— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

