Milenial Tidak Merokok Itu Keren, Riskesdas 2023: Perokok Tembus 70 Juta Jiwa

22/05/2026
PENGENDALIAN TEMBAKAU: Forum Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) ke-11 pada Kamis, (21/5/2026) di Universitas Airlangga Surabaya. Diikuti mahasiswa, akademisi, pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat.

BOJONEGORORAYA – Milenial harus mengetahui bahaya-bahaya merokok. Menimbulkan berbagai penyakit katastropik, dengan biaya tinggi. Seperti jantung, gagal ginjal, stroke.

Tentu, generasi muda tidak merokok itu keren. Sebaliknya, jangan terlena dengan tren dan budaya menganggap bahwa merokok itu keren. Apalagi, sebagaian generasi muda sering merundung temannya yang tidak merokok.

“(Merokok) ini memicu beban ganda penyakit katastropik (penyakit membutuhkan biaya tinggi seperti jantung, gagal ginjal, stroke),” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman dalam Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) ke-11 pada Kamis, (21/5/2026) di Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower Universitas Airlangga Surabaya.

Adapun, jumlah perokok aktif di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Indonesia (Riskesdas) 2023 mencapai lebih dari 70 juta jiwa. Menempatkan Indonesia salah satu negara jumlah konsumen tembakau tertinggi secara global.

Kecanduan rokok, menurut Dedi, berkaitan erat dengan munculnya penyakit tidak menular. Di Indonesia, tingkat kematian akibat penyakit tidak menular mencapai 74 persen.

Dedi berharap adanya penguatan regulasi dan kolaborasi multisektor sebagai kunci mengendalikan konsumsi dan perilaku merokok. Agar generasi muda terlindungi dan bonus demografi 2030 bermanfaat secara optimal.

Melalui IAKMI, Dedi menambahkan tiga poin mengendalikan konsumsi rokok. Pertama, larangan total iklan rokok seperti beberapa negara dunia. Kedua, menaikkan bea masuk untuk menutup kesenjangan keterjangkauan harga rokok bagi masyarakat miskin dan anak-anak.

‘’Ketiga, memperluas kawasan tanpa rokok (KTR) dan memastikan penegakan hukum KTR secara konsisten,” jelasnya.

Dedi optimistis pengendalian tembakau mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto. Terutama, Prabowo sangat anti-rokok.

Dinkes Jatim Berupaya Cegah Jumlah Perokok Aktif

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur Erwin Astha Triyono, mencatat jumlah penyakit metabolik dan keganasan di Jatim masih tinggi. Seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan jantung.

Baca Juga :  Para Pekerja ExxonMobil Cepu Limited Santuni Ratusan Anak Yatim di Bojonegoro

‘’Sebagian besar di antaranya karena perilaku merokok,” tuturnya.

Menurut Erwin, Dinkes Jatim berusaha langkah-langkah strategis mencegah peningkatan jumlah perokok aktif. Salah satunya mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) KTR yang disahkan 2024 dan Peraturan Gubernur tentang KTR pada 2025.

‘’Ini luar biasa perjuangannya selama bertahun-tahun,” kata Erwin.

Ketua Tim Penyakit Tidak Menular dan Populasi Lebih Sehat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tara Mona Kessaram juga menyoroti hasil Riskesdas 2023 mendata bahwa jumlah perokok aktif usia 10-18 tahun di Indonesia mencapai 7,4 persen.

Menurut Tara, salah satu pemicu tingginya jumlah perokok anak dan remaja adalah promosi dan kemasan rokok yang menarik.

”Maka, segera melakukan kebijakan mencegah hal ini,” ucap Tara.

Tara berharap konferensi ini membuka taktik industri rokok dan tembakau yang mempromosikan dan menjual rokok secara masif. Perlu sikap melalui aturan ketat.

Pengendalian Tembakau Upaya Lindungi Generasi Muda

Merespons pernyataan Tara, Wakil Rektor Universitas Airlangga (Unair) bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat, Muhammad Miftahussurur, menyetujui pengendalian tembakau bukan hanya sekedar isu kesehatan.

Sebaliknya, upaya perlindungan terhadap generasi muda di masa depan. Kampus harus melakukan pencegahan perilaku merokok, terutama pada anak-anak dan remaja.

“Misalnya Unair setiap tahun menganggarkan untuk sidak KTR. Ini bisa ditiru oleh kampus lain,” jelasnya.

Konferensi Nasional Pengendalian Tembakau atau ICTOH 2026 berlangsung pada Kamis dan Jumat, 21-22 Mei 2026. Turut hadir para pengajar, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah yang melakukan diskusi ilmiah soal pengendalian tembakau.

Ketua Panitia ICTOH 2026 dr Sumarjati Arjoso menyatakan agenda ini meliputi 3 pleno, 7 simposium, 12 diskusi paralel, dan presentasi poster. Terdapat 155 abstrak artikel ilmiah yang mendaftar dalam ICTOH tahun ini. Namun, hanya 125 yang masuk untuk presentasi. (kza)

Baca Juga :  Geosite Geopark Bojonegoro menjadi 21 Titik, Ditinjau UNESCO Tahun ini
error: Content is protected !!