Limolasan di Situs Wura-Wari, Meneguk lagi Amrtasanjiwani

AGENDA PURNAMA: Forum Limolasan di Situs Wura-Wari, Rabu (1/7/2026) malam. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Bulan purnama menggantung di langit Blora, Rabu (1/7/2026) malam. Sinarnya temaram. Tampak jelas dari Situs Wura-Wari di Desa Ngloram.

Di situs sejarah turut Kecamatan Cepu itu, belasan orang duduk melingkar dialasi terpal biru. Mereka peminat sejarah budaya dari Blora dan Bojonegoro. Brang kulon—wetan Sungai Bengawan.

Mereka dalam helatan forum Limolasan. Membahas aneka. Tentang celaka di Bengawan baru-baru ini, gejolak negeri, Prasasti Pucangan dan Maribong, hingga Situs Wura-Wari sendiri.

Salah satu bahasan Forum Limolasan memantik banyak interaksi ialah mengenai Amrtasanjiwani: air suci yang menghidupi. Dan, bagaimana membawa air itu di masa kini.

Budayawan Blora Totok Supriyanto mengemukakan, Amertha Sanjiwani dikisahkan Prasasti Pucangan dan naskah Adiparwa. Keduanya sezaman. Era Airlangga, Raja Medang Kahuripan.

Dalam Prasasti Pucangan maupun naskah Adiparwa, Amrtasanjiwani menjadi perantara yang meredam pralaya. Juga membangkitkan kebaikan dan pengetahuan.

‘’Hari ini, Amrtasanjiwani bisa kita asumsikan sebagai sikap kemandirian,’’ ujarnya dalam Limolasan, Rabu (1/7/2026) malam itu.

Dengan bermandiri, lanjut Totok, individu maupun kelompok tidak mudah bergejolak. Semua kebutuhan bisa dicukupi sendiri. Suci. Memungkinkan pula membantu sesama.

‘’Makna Amrtasanjiwani merupakan air suci yang menghidupi, relevan dengan kemandirian,’’ imbuh penulis buku Lwaram dalam Lipatan Masa itu.

Ketika Amrtasanjiwani diteguk atau kemandirian telah terbentuk, masyarakat di satu wilayah bisa tiada kurang suatu apa. Membuat wilayahnya berstatus Swatantra.

‘’Wilayah Swatantra disegani para raja. Karena, masyarakatnya mandiri. Tidak bergantung pada intervensi politik dan birokrasi,’’ terang Totok.

Budayawan Blora itu meyakini, sebagian Blora dan Bojonegoro yang dulunya bersatu dalam Jipang, ialah Swatantra. Sebab, tercatat banyak rsi atau resi di Jipang.

‘’Para rsi inilah yang menjadi pemimpin Swatantra. Sosok agamawan dan cendekiawan. Paham spiritual, tanggap sosial,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Petani di Jalur Pipa Minyak Bumi, Merawat Padi–Menjaga Distribusi Energi

Masa ini, Amrtasanjiwani perlu diteguk lagi. Kemandirian harus dibangun kembali. Agar, masyarakat tidak mudah payah diterpa masalah. Tidak gampang tercekik gegar politik.

‘’Masyarakat Blora dan Bojonegoro perlu membangun kemandirian. Mulai dari hal-hal kecil. Misal, menanam bumbu dapur sendiri,’’ imbuhnya.

Ahmad Wahyu Rizkiawan, budayawan Bojonegoro punya keyakinan serupa. Dulu, sebagian Blora dan Bojonegoro merupakan wilayah Swatantra karena sanepa Amrtasanjiwani.

‘’Sumber daya alam Blora dan Bojonegoro begitu kaya. Hutan, pegunungan, migas, Bengawan. Modal logis untuk sebuah kemandirian,’’ terangnya.

Lebih dari itu, masyarakat Blora dan Bojonegoro di masa lalu juga terampil dan kreatif, memahami pentingnya refleksi dan kontemplasi, sikapnya egaliter dan antifeodal. Khas ajaran rsi.

‘’Kita perlu kembali belajar pada masa lalu. Meneguk lagi Amrtasanjiwani,’’ tutur penulis buku Peradaban Nggawan Bojonegoro itu. (sab/kza)

error: Content is protected !!