Oleh: Yusab Alfa Ziqin
Jurnalis Bojonegoro Raya
——————
Masyarakat Bojonegoro tengah memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Kemerdekaan daerahnya sendiri, tidak pernah diorkestrasi.
——————
SEBAGAI kabupaten bentukan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 25 September 1928, Bojonegoro tidak memiliki sejarah kemenangan. Namun, sebelum itu, ada. Salah satunya, ketika Bojonegoro masih bagian dari kawasan Jipang, mancanegari wetan Kesultanan Yogyakarta.
Tepatnya pada 1827 saat Perang Jawa berkecamuk, salah satu kadipaten di kawasan Jipang, yakni Jipang-Rajekwesi, merupakan pemenang. Bahkan, mencapai kemerdekaan. Bebas dari cengkeraman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda maupun Kesultanan Yogyakarta.
Sosok di balik kemerdekaan itu ialah Sasradilaga. Dia putra Sasranegara, bupati pertama Jipang-Rajekwesi. Dalam geger Perang Jawa, Sasradilaga merupakan salah satu basyah atau panglima perang Dipanegara di mancanegari wetan Kesultanan Yogyakarta.
Sebelum menjadi salah satu basyah putra Sultan Hamengku Buwana III itu, Sasradilaga sudah perwira tinggi militer Kesultanan Yogyakarta. Dia pernah menjadi Panglima Korps Nyutro Kesultanan Yogyakarta atau panglima pasukan elit pengawal utama Sultan Hamengkubuwana.
Jabatan terakhir Sasradilaga di lingkup militer Kesultanan Yogyakarta adalah Wakil Komandan Pasukan Kesultanan Yogyakarta atau Wakil Manggala Yudha. Itu jabatan tertinggi nomor dua di lingkungan militer Kesultanan Yogyakarta. Kiwari, mungkin seperti Wakil Panglima TNI.
Selain hubungan militer, Sasradilaga memiliki hubungan kekerabatan dengan Dipanegara. Itu karena, Sasradilaga menikah dengan Markamah. Perempuan tersebut putri Sultan Hamengkubuwana III, saudari tiri Dipanegara.
Ulah Merdeka Sasradilaga
Sejak Perang Jawa diletuskan Dipanegara pada 20 Juli 1825, Sasradilaga telah undur diri sebagai perwira tinggi militer Kesultanan Yogyakarta. Kemudian, dia memutuskan bergabung dengan iparnya dalam mengobarkan Perang Jawa.
Dalam De Java-oorlog itu, kampanye militer Sasradilaga berada di mancanegari wetan Kesultanan Yogyakarta. Dia membangun basis perlawanan di kawasan Jipang. Membangun aliansi dengan para jagoan Jipang hingga masyarakat Tionghoa di pesisir utara Jawa.
Pada 28 November 1827 atau sekitar dua tahun bergulirnya Perang Jawa, kampanye militer Sasradilaga di Jipang-Rajekwesi berbuah kemenangan. Pemerintahan dan aparatur Jipang-Rajekwesi yang pro-Hindia Belanda maupun Kesultanan Yogyakarta, dilumpuhkan.
Kemudian, Sasradilaga menjadi Bupati Jipang-Rajekwesi tanpa persetujuan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda maupun Kesultanan Yogyakarta. Jipang-Rajekwesi pun merdeka di tangan Sasradilaga. Jipang-Rajekwesi menentukan jalannya sendiri.
Residen Semarang Lawick van Pabst menyatakan, geger di Jipang-Rajekwesi itu terparah dan paling sulit dikelola di seluruh Jawa. Tidak ada bencana yang lebih besar dari pada geger yang ditimbulkan oleh Sasradilaga dan pasukannya.
Adapun, setelah memerdekakan Jipang-Rajekwesi dan menjadi bupati, kampanye militer Sasradilaga tidak berhenti. Bersama pasukannya, putra Sasranegara ini terus bermanuver di seantero Jipang dalam rangka menggelorakan Perang Jawa.
Salah satu pertempuran epic Sasradilaga seusai menjadi Bupati Jipang-Rajekwesi terjadi di Plunturan, Jipang-Panolan pada pertengahan Desember 1827. Dalam pertempuran itu, Sasradilaga dan pasukannya melawan pasukan dipimpin Nahuys, Residen Surakarta.
Kemenangan telak diraih Sasradilaga dalam pertempuran di dekat Bengawan tersebut. Nahuys yang kemudian tidak berdaya, diampuni Sasradilaga. Eks Residen Yogyakarta itu dibiarkan pergi dari medan pertempuran. Dibebaskan. Tidak ditewaskan.
Serangkaian kekalahan di kawasan Jipang, sudah tentu membuat geram Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Sebagai respons, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengerahkan kekuatan militer yang signifikan untuk melumpuhkan kampanye militer Sasradilaga.
Kekuatan militer untuk menghentikan Sasradilaga itu didatangkan dari Semarang, Surakarta, Surabaya. Dan, akhirnya, Sasradilaga dan pasukannya terdesak. Pemerintahannya di Jipang-Rajekwesi berakhir pada 27 Januari 1828.
Namun, kampanye militer Sasradilaga dan pasukannya masih terus berlangsung. Baru pada 7 Maret 1828, kampanye militer itu benar-benar padam. Sasradilaga dan sisa pasukannya kembali merapat ke negaragung Kesultanan Yogyakarta.
Jembatan dan Perayaan
Meski Sasradilaga merupakan sosok yang pernah menciptakan kemenangan bahkan kemerdekaan dalam sejarah Bojonegoro, ketokohan dan sepak terjangnya belum banyak diketahui publik Bojonegoro. Terutama, Generasi Z yang sedang tumbuh saat ini.
Nama Bupati Jipang-Rajekwesi yang menggetarkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu hanya menjadi nama jembatan penghubung perkotaan Bojonegoro dengan Kecamatan Trucuk. Pun, selesainya pembangunan jembatan itu belum pernah diresmikan.
Namun, memang tidak penting peresmian jembatan di atas aliran Bengawan tersebut. Yang lebih penting, Sasradilaga dan sepak terjangnya mesti diketahui publik Bojonegoro secara luas. Terus dikenalkan. Dirayakan. Menjadi bahan edukasi dan orkestrasi dari generasi ke generasi.
Sehingga, Sasradilaga bisa menjadi tokoh populer dalam sejarah Bojonegoro. Generasi Bojonegoro yang tidak menelan mitos Angling Dharma dan Kerajaan Malawapati akan lebih mudah menjawab ketika ditanya: siapa tokoh sejarah Bojonegoro, bagaimana sepak terjangnya?
Lebih lanjut, perihal apakah Sasradilaga memang patut menjadi teladan, kiranya sangat patut. Sasradilaga menjadi contoh nyata: setiap orang harus berani dan bertindak melawan penjajahan dan ketidakadilan. Apalagi, jika keduanya terjadi di tanah kelahiran.
Sayang, sikap semacam itu bukan saja mengganggu penjajah. Namun, juga bisa mengusik setiap pemegang kuasa. Siapa saja namanya, bentuknya, dari mana asalnya, dan dalam tingkat apa saja. Hatta, merayakan Sasradilaga dan sepak terjangnya pun, butuh keberanian. (*)
— Naskah Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat, Babad Ngayogyakarta, dan Laporan De Java-oorlog van 1825—30, menjadi referensi dalam penulisan Persepsi ini.



