BOJONEGORORAYA – Anggapan bahwa minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia telah terkuras, tidak sepenuhnya benar. Kita masih punya banyak potensi cadangan migas di perut bumi. Belum tereksplorasi.
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ada 128 basins atau cekungan di Indonesia. Membentang dari Aceh hingga Papua.
Dari 128 cekungan tersebut, baru 20 cekungan telah dibor dan sudah berproduksi hingga saat ini. Lalu, delapan cekungan sudah dibor tetapi belum memasuki tahap produksi.
Sementara, 19 cekungan telah menunjukkan indikasi keberadaan hidrokarbon. Di sisi lain, terdapat 13 cekungan telah dibor, tetapi belum menghasilkan temuan migas yang ekonomis.
Yang paling menarik, sebanyak 68 cekungan atau lebih dari separuh total cekungan di Indonesia, belum pernah dibor sama sekali. 68 cekungan ini sarat potensi. Ruang baru eksplorasi.
Hal tersebut diungkapkan Koordinator Deputi Komunikasi SKK Migas Arif Hermawan dalam presentasinya di Ruang Blambangan, Hotel Kokoon Banyuwangi, Jumat (10/7/2026) pagi.
‘’68 cekungan belum dibor sama sekali ini, adalah potensi. Harapan migas masa depan,’’ tuturnya.
Melalui presentasi dalam Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina itu, dia juga mengemukakan, cadangan minyak bumi Indonesia saat ini mencapai 4,70 miliar barel.
‘’Sedangkan, cadangan gas bumi kita mencapai 55,76 triliun kaki kubik,’’ imbuh Arif Hermawan.
Dia meneruskan, total ada 167 wilayah kerja (WK) migas di Indonesia. Baik di darat maupun lepas pantai. Dari 167 WK, sebanyak 104 WK memasuki tahap produksi, 44 WK tahap eksplorasi, 19 WK proses terminasi.
Dalam agenda yang sama, Senior Manager External Communication & Stakeholder Relation Pertamina Hulu Energi (PHE) Fitri Erika menyatakan, industri hulu migas di Indonesia saat ini dalam performa bagus.
PHE bersama grup Pertamina di sektor hulu migas, kata Fitri Erika, saat ini berkontribusi memasok 65 persen minyak bumi dan 35 persen gas bumi untuk kebutuhan energi nasional.
‘’Wilayah operasinya dari Aceh sampai Papua. Juga memiliki aset internasional. Seperti di Malaysia, Aljazair, dan Irak,’’ imbuhnya.
Fitri Erika meneruskan, seluruh operasi PHE dan grup Pertamina di sektor hulu migas akan terus ditingkatkan. Sebagai upaya mendukung terwujudnya ketahanan energi nasional.
Di Bojonegoro, Dua Harapan sedang Diwujudkan
Bojonegoro sudah masyhur sebagai lumbung migas nasional. Di kabupaten bagian dari cekungan Jawa Timur Utara ini, sudah beroperasi beberapa lapangan migas yang berkontribusi besar untuk ketahanan energi nasional.
Tiga di antaranya Lapangan Banyu Urip, Lapangan Kedung Keris, dan Lapangan Jambaran Tiung Biru. Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris memproduksi minyak bumi. Dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Sedangkan, Lapangan Jambaran Tiung Biru memproduksi gas bumi. Lapangan gas di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro tersebut dioperatori Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, anak usaha PHE.
Pada 2026 ini, ada dua lapangan migas baru di Bojonegoro. Yakni, Sumur Banyu Geni dan Kedung Keris West. Keduanya memasuki tahap persiapan eksplorasi. Menjadi bagian dari harapan yang sedang diwujudkan.
Sumur Banyu Geni di Desa Sidomukti, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro. Berdasarkan data PHE, lapangan ini diperkirakan menyimpan cadangan minyak bumi sebanyak 12 miliar barel dan gas bumi sebanyak 13 triliun kaki kubik.
Sementara, Kedung Keris West berada di Desa Leran dan Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Dioperatori EMCL. Lapangan ini diperkirakan menyimpan cadangan minyak bumi sebanyak 9,9 miliar barel.
Namun demikian, dua project itu belum dapat ngegas sepenuhnya. Sebab, ada sedikit kendala soal perizinan lahan. Persisnya, sebagian kecil lahan dua project tersebut menapak lahan sawah dilindungi (LSD).
Berkenaan dengan kendala dialami dua harapan migas Indonesia di Bojonegoro itu, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman datang ke Bojonegoro, Selasa (7/7/2026) pagi.
Ditemani Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dan beberapa pejabat lain dari sejumlah kementerian, Pemprov Jawa Timur, serta Pemkab Bojonegoro, dia menilik Kedung Keris West.
Setelahnya, mantan Kepala Staf TNI AD itu rapat koordinasi dengan para terkait di Hotel Eastern Bojonegoro. Dalam rapat dimaksud, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman menunjukkan atensi serius.
Dia meminta lintas kementerian, Pemprov Jatim, dan Pemkab Bojonegoro berkolaborasi menyelesaikan izin LSD atas Sumur Banyu Geni dan Kedung Keris West. Secara cepat. Tetapi, tetap sesuai aturan.
‘’Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, setiap potensi tambahan produksi migas harus segera direalisasikan,’’ tegasnya.

Jenderal TNI (Purn) kelahiran Bandung itu meneruskan, setiap upaya menambah produksi migas dalam negeri harus dikawal secara baik dan didukung bersama.
‘’Jangan sampai potensi (produksi migas di Bojonegoro, red) sebesar ini tertunda karena proses administrasi,’’ tandasnya.
Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman juga menegaskan, pemerintah tidak mempertentangkan kepentingan sektor pangan dengan energi. Keduanya prioritas nasional. Jalan beriringan.
“Keduanya agenda strategis presiden. Lahan pertanian harus dijaga, tetapi kebutuhan energi nasional juga harus dipenuhi,” jelasnya.
Terpisah, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan, pihaknya berkomitmen mendukung dua project eksplorasi migas Sumur Banyu Geni maupun Kedung Keris West.
Perihal perizinan LSD atas dua project tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Bojonegoro.
Menurut adik Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno ini, LSD terdampak Sumur Banyu Geni dan Kedung Keris West bisa dilepaskan. Asal, ada LSD pengganti.
‘’Kami berharap (LSD pengganti, red) di daerah (sekitar project, red) situ saja,’’ ujarnya, usai rapat paripurna di Gedung DPRD Bojonegoro, Selasa (7/7/2026) siang. (sab/kza)

