Balada Kemarau Panjang Bojonegoro: Sumber Mengering, Air Jadi Asin, Kekeringan Melanda 74 Desa

KRISIS AIR BERSIH: Warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, silih berganti mengisi air kedalam jeriken dari bantuan air. (Foto : M. Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Puluhan jeriken warna-warni mengantre dropping air bersih. Berjejer. Sayem bersama warga menunggu di teras rumah. Menanti mobil tangki penyalur air bersih tiba.

Sayem bersama warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, butuh air bersih. Butuh air untuk sehari-hari.

September ini, teguk sumurnya mengering. Kemarau. Berharap krisis air bersih yang melanda saban kemarau itu sirna.

Saat mobil tangki tiba, Sayem bersama warga lainnya tampak bungah. Penantian bantuan air bersih tiba. Sorak-sorai warga. Selang dari mobil mulai bergerak. Menyalurkan ke wadah penampungan terpal.

Air keluar deras dari selang. Warga mengambil air dengan cekatan. Keroyokan. Menggunakan gayung plastik. Menguras air dari penampungan, dan memasukkan ke moncong jeriken.

Jeriken-jeriken sudah berisi air, lalu mengangkutnya ke rumah masing-masing warga. Memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya.

‘’Sudah empat bulan lebih air di lingkungan sini habis. Berharap terus ada bantuan air bersih yang datang,” ungkapnya.

KEROYOKAN AIR: Warga Desa Nganti, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, bergantian mengambil air bersih. Bantuan air bersih menjadi harapan suplai air. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya)

Warga Beli Air Bersih Dua Drum Rogoh Rp 120.000

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, hingga September 2026, sudah 74 desa terdampak kekeringan. Pengiriman air sementara terdata mencapai 626 tangki. Total air 3.130.000 liter.

Jika bantuan tidak datang, warga musti megeluarkan uang untuk membeli air bersih. Seperti Dinda warga Desa Jatimulyo, dan keluarganya harus merogoh kocek dari dompet senilai Rp 120.000.

‘’Dapat 2 toren atau 2 drum. Kalau memakai sendiri bisa 2 minggu lebih. Kalau satu keluarga sekitar satu minggu,” jelasnya.

Dinda berharap ada bantuan yang bisa menyelesaikan masalah. Seperti pembangunan sumur bor yang bisa menjangkau air lebih dalam.

Sumur bor yang milik warga-warga selalu habis saat musim kemarau datang. Mengering.

‘’Ada yang mencoba mengebor, tapi belum kelihatan air. Kedalaman bisa 15 meter,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Wahyudiono, Pengalaman Tangani Siswa Kesurupan dan Tidak Bisa Membaca

Balada nestapa kekeringan juga melanda di desa-desa lain di Bojonegoro. Selama lebih dari empat bulan. Nurkin Alim warga Desa Nganti, Kecamatan Ngraho, mengungkapkan, dropping air bersih saat ini menjadi penolong warga.

Sebab, sendang di desa jaraknya jauh dari rumah warga. Airnya mulai mengering.

‘’Sendang airnya sudah habis. Sering membeli satu drum Rp 130.000. Mendapat dua tandon bisa memakainya sekitar satu minggu,” keluhnya.

Alim mengaku pernah melakukan pengeboran sumur hingga kedalaman mencapai 60 meter. Bahkan, hingga 100 meter. Namun, air yang keluar air asin. Saking asin rasanya, malah terasa pahit. Getir.

‘’Tidak layak dipakai. Rasanya pahit,” ungkapnya.

Kekeringan juga terasa bagi warga Desa Nganti, Kecamatan Tambakrejo. Empat bulan krisis air bersih. Warga menunggu distribusi air bersih. Tampak bantuan air bersih tiba. Warga mengantre air dan mengambil air ke jeriken untuk membawa pulang.

Temukan Sumur Bor Air Bersih Justru Asin

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi membeberkan, hasil pemetaan hingga September tahun ini terdapat 74 desa terjadi kekeringan. Butuh air bersih. Tersebar di 19 kecamatan. Rerata wilayah selatan Bojonegoro.

Data tersebut mengalami peningkatan jika berbanding dengan data 2025 lalu. Hanya 14 desa tersebar di 13 kecamatan.

‘’Tapi, kalau dibandingkan dengan 2023 lalu (kekeringan) mencapai 125 desa, tahun ini mengalami penurunan,” tutur pria pernah menjabat sebagai Camat Padangan tersebut.

Heru mangatakan, anggaran dropping air tahun ini Rp 1,8 miliar. Berasal dari dana bencana tidak terduga (BTT) sebanyak Rp 500 miliar. Kegunaannya mulai terealisasi pada Senin (28/92026).

‘’BMKG memperkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga November mendatang,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya Jumat (25/9/2026).

Selain bantuan air bersih, menurut Heru Wicaksi, telah memberikan bantuan berupa tempat berbahan terpal untuk penampungan saat dropping air datang.

Baca Juga :  Ke Wisata Edukasi Gerabah, Bicara Soal Warna Produk

Menjalin komunikasi lintas OPD. Pemerintah daerah melalui dinas perumahan, kawasan permukiman dan cipta karya (DPKPCK).

‘’Hasil koordinasi kami dengan dinas PKPCK, sampai tahun ini ada 400 titik sumur bor,’’ bebernya.

Namun, sebagian titik terkendala debit air menipis saat musim kemarau. Airnya menjadi asin. Seperti terjadi warga di Desa Nganti, Kecamatan Ngraho. Warga sudah merasa putus asa melakukan pengeboran.

‘’Tujuh dusun di Desa Nganti saat ini mengalami kekeringan,” tambahnya.

BANTUAN AIR: Empat Bulan Kekeringan, warga Desa Nganti, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro mengantre bantuan air bersih. Memikul air bersih dari tampungan sementara ke rumahnya dengan jalan kaki. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya).

Brida Butuh Kajian Kekeringan Libatkan UB dan UGM

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Bojonegoro Dilli Tri Wibowo mengaku sedang melakukan kajian untuk mengurai masalah kekeringan di daerah.

Konservasi sumber-sumber air bakal menjadi terobosan untuk jangka panjang. Brida, bakal menggandeng Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Untuk riset atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

“Kami saat ini masih melakukan penjajakan dengan kedua kampus tersebut,” katanya. (man/kza)