Ledre Mini ala Kerupuk Udang Finna

07/10/2026

Oleh: Mahmudi
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro

——————

ADA rasa gembira. Optimisme. Hingga semangat kala melihat anak-anak muda di Kecamatan Purwosari, Bojonegoro, ini berlatih membuat ledre.

Ceria. Saling berdiskusi. Saling berkomunikasi ihwal ledre. Teknik membuat ledre bagi generasi muda. Bahan dan adonan ledre. Muaranya bagaimana ledre ini menjadi jajanan yang khas Bojonegoro.

Zaman boleh bergerak. Angin boleh berlalu. Namun, ledre sebagai camilan renyah gurih asal Bojonegoro, ini tetap menjadi identitas. Tetap menjadi ikonik camilan khas Bojonegoro.

Ledre dalam pusaran ragam camilan. Ledre dalam lingkaran jajanan pasar hingga pabrikan. Menukil dari liputan khusus media Bojonegoro Raya pada awal Oktober 2026 ini, ledre yang kali pertama dibuat pada 1930.

Rentang waktu itulah, ledre bisa disebut terasa awet. Empat tahun lagi, ledre bisa persis satu abad. Seratus tahun. Ledre mampu menembus zaman. Ledre dalam keabadian.

Cikal bakal ledre dari Kecamatan Padangan. Dari permukiman etnis Tionghoa yang bermukim di bantaran Sungai Bengawan. Namun, ledre yang menjalar, hingga akhirnya produsen ledre merambah di Kecamatan Purwosari dan Kasiman.

Liputan dan riset dari Bojonegoro Raya, memastikan bahwa produsen ledre lebih dari 120 orang. Semua produsen membuatnya secara rumahan. Ledre menjadi IKM yang barokahi. Jalan hidup yang renyah meski melewati tantangan hidup terjal.

KEMASAN PRAKTIS: Ledre kemasan mini mulai ramai. Lebih praktis dan renyah semua kalangan. Festival Ledre Bojonegoro berlangsung di Kecamatan Purwosari jadi daya ungkit agar ledre semakin populer. (Foto: Istimewa/Bojonegoro Raya).

Kemasan Ledre Semakin Adaptif

Meski ledre mampu menembus zaman. Namun, ledre sebagai industri kecil menengah (IKM) harus adaptif dalam zaman.

Misalnya, bagaimana membayangkan ledre ini menyerupai kemasan kerupuk udang merek Finna. Kerupuk udang selama ini identik dengan camilan renyah yang lebar dan besarnya seukuran lima jari. Sehingga, sulit dimasukkan toples jajan.

Namun, kerupuk udang Finna, hadir dengan kemasan yang fleksibel. Praktis. Dan, imut. Ukuran minimalis. Ukuran seperti jajan kecil-kecil. Harganya pun praktis, tidak sampai Rp 2.000.

Baca Juga :  SDA Digeledah dan Omon-Omon Otonomi Daerah

Namun, identitas kerupuk udang yang mahal, namun ada sisi praktis dan portabel membuat kerupuk udang Finna kemasan mini ini jadi buruan.

Makan di kereta api, bahkan di pesawat pun kerap kali ada kerupuk udang ukuran mini tersebut. Katering-katering hotel mulai memakai kerupuk udang kemasan mini.

Meski kemasan kecil, menjaga cita rasa dan kerenyahan membuat kerupuk udang jadi buruan. Bahkan, kerupuk udang merek Finna ukuran mini ini jadi salah satu menu dalam makan bergizi gratis (MBG).

Satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) mulai melirik kerupuk udang kemasan mini ini jadi bagian menu harian.

REGENERASI: Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Mahmudi memberi motivasi terhadap peserta Pelatihan Pembuatan Ledre di Kecamatan Purwosari. Pelatihan selama tiga hari.

Ledre Kemasan Murah, Semakin Ramah di Warkop

Nah, terobosan kerupuk udang Finna ini sekadar contoh. Bagaimana kalau ledre juga ada kemasan mini. Ledre ada kemasan praktis dan murah. Terutama ramah di kantin dan warung kopi (warkop).

Selama ini, ledre identik dengan camilan gulungan menyerupai gapit. Panjangnya sekitar 20 sentimeter (cm). Cukup panjang untuk ukuran ragam camilan atau jajanan.

Sejak awal ditemukan, hingga zaman digital ini, ukuran ledre masih sama. Ya segitu itu. Khasnya.

Masyarakat Bojonegoro atau umumnya, melihat ledre kemasannya berupa kotak kertas persegi panjang. Jualnya dalam kemasan segitu. Kemasan isi banyak. Boks ukuran kecil, berisi dua bungkus ledre. Satu bungkus plastik rerata berisi 15 ledre.

Tentu, cukup tidak praktis, apabila makan ledre di warkop atau di pinggir jalan. Selain kebanyakan, juga tidak ramah dengan kantong. Satu kotak rerata harga ledre sekitar Rp 20.000.

Harga segitu, tentu anak-anak atau generasi muda, tidak begitu akrab. Tidak sesuai dengan jatah uang saku dari orang tua.

Nah, selama sebulan ini ikut mengamati ledre Bojonegoro, setidaknya perlu ada gagasan agar ledre dengan kemasan mini. Kemasan mungil dan imut.

Baca Juga :  Pesan Kacabdindik Bojonegoro--Tuban dalam Hardiknas 2025

Bahkan, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, pernah memberi masukan, agar ledre ada kemasan mini.

Kini, terasa bangga, setelah ada salah satu produsen mulai membuat ledre kemasan mini. Harga sekitar Rp 3.000. Tentu, arga yang renyah dan ramah bagi para anak muda.

Harga terjangkau tersebut tentu cukup cocok atau berani apabila ledre mulai ada di toples-toples warkop. Mungkin bisa jadi ledre semakin ramah di kantin-kantin sekolah. Bahkan, ledre semakin renyah di kedai hingga restoran di Bojonegoro.

Ledre yang dalam keabadian akan terus berkembang. Terutama setelah Pemkab Bojonegoro bersama warga Kecamatan Purwosari, menggelar Festival Ledre.

Sarasehan Ledre Bojonegoro sebagai rangkaian festival sudah berlangsung. Kini, puncak resepsi Festival Ledre bakal semarak sejak pagi hingga malam pada Kamis (8/10/2026).

Ada puluhan produsen ledre akan meramaikan dan membuat on the spot di jalan raya sekitar Kecamatan Purwosari. Yuk, bersama menyukseskan Festival Ledre.

Seruput kopi atau teh hangat, dengan nyemil ledre, seakan menjadi cerita. Satu kesatuan rasa yang sempurna. (kza)