Kisah Ibu-Ibu Purwosari Lebih 30 Tahun Setia Membuat Ledre, Meneruskan Trah Ibu

TURUN-TEMURUN: Para perempuan pembuat ledre saat tampil di Festival Ledre Bojonegoro, Kamis (8/10/2026) di Kecamatan Purwosari. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Ledre mengundang rasa dan aroma. Juga, cerita dan budaya. Ledre tidak sekadar camilan, tapi jajanan gulungan sebagai jalan kehidupan.

—————————————-

BOJONEGORORAYA – Tiga puluh tahun lalu, Suratmi masih belia. Masih energik. Persisnya pada 1996 tersebut, perempuan tinggal di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro, tersebut memilih jalan hidup membuat ledre.

Suratmi memilih istikamah. Memilih patuh sama dawuh orang tua. Yakni, jalan cerita sebagai pembuat ledre. Ia melanjutkan kisah ibunya yang lebih dulu sebagai pembuat ledre. Turun-temurun.

Bertahun-tahun membuat ledre di rumah. Ngeledre di pawon atau dapur, sambil jaga anak-anak.

Namun, Suratmi merasakan atmosfer berbeda ketika membuat ledre bersama-sama 56 perempuan lain dalam Festival Ledre Bojonegoro. Festival berlangsung Kamis (8/10/2026) malam itu terasa hidup. Banyak pengunjug datang.

Ada cerita unik. Guyon bareng emak-emak (perempuan) pembuat lainnya di jalan raya sepanjang Festival Ledre.

Suratmi mengatakan, selama 30 tahun membuat ledre, baru kali pertama ini masak bersama. Berjajar di sepanjang jalan. Banyak orang melihatnya. Pengunjung berdatangan melihat langsung proses membuat ledre.

‘’Beberapa orang tadi mencicipi,” tuturnya kepada Bojonegoro Raya di lokasi festival.

AROMA: Pisang raja menjadi rasa khas ledre. Rasa pisang begitu terasa. Membuat ledre ini tanpa memakai minyak goreng. Alami. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya).

Bertahun-tahun Baru Kali Pertama Bikin Ledre Bersama

Sebanyak 56 emak-emak memasak ledre serentak itu menebar aroma gurih. Harum pisang dari loyang semerbak.

Pengunjung tampak gayeng, melihat pembuatan ledre secara langsung. On the spot. Ledre fresh. Masih anget. Renyahnya terasa di bibir. Kriuk-kriuk.

Pengunjung yang penasaran sebagian mengabadikan lewat layar smatrphone. Bertanya sambil icip-icip ledre yang baru mentas dari wajan. Gurih dan harum pisang menyatu dalam cerita.

Suratmi memakai batik dengan jilbab merah muda itu mempersilakan pengunjung mencicipi ledre yang sudah jadi. Gratis.

Baca Juga :  BKN Tinjau Empat Peserta Lelang Jabatan Sekda Bojonegoro, Satu Harus Tersingkir

Jari jemarinya tidak henti, menungkan kembali adonan. Loyang kembali terisi. Hawa panas wajan sudah menjadi kawan. Tangannya cekatan saat menggulung ledre.

Satu ledre butuh waktu satu menit. Rerata ledre dengan ukuran sekitar 20 sentimeter (cm).

“Sudah terbiasa (panas). Kalau membuat ledre hati harus tenang. Kalau muring-muring (marah, red) nanti tidak jadi,” tuturnya perempuan sudah mendamarbatikan 30 tahun membuat ledre.

Agen Penjualan di Kecamatan Padangan

Suratmi dan emak-emak lainnya saban hari terus membuat ledre. Selama ini, ledre sudah ada yang membeli. Agen-agen penjualan dari Kecamatan Padangan, datang ke rumahnya.

Lalu, agen mengemasnya dalam kardus mini. Sudah menjadi kemasan unik. Agen menjajakan di toko-toko oleh-oleh. Toko kelontong.

‘’Paling banyak pesanan itu saat Lebaran,” bebernya.

Dwi, pembuat ledre lainnya juga tidak kalah lincah dalam membuat ledre malam itu dalam Festival Ledre. Memipihkan adonan di loyang. Mengoleskan irisan pisang raja.

Setelah adonan panas sekiranya sudah kecokelatan, tangannya dengan cekatan memindahkan ledre ke telenan kayu. Dan, menggulung-gulung dengan tangan.

“Kalau saya membuat ledre ini belajar dari ibu. Meneruskan usaha,” katanya kepada Bojonegoro Raya.

Dwi bahagia dengan pekerjaannya membuat ledre. Terlebih dengan adanya Festival Ledre, berharap jajanan gulungan aroma pisang raja ini bisa lebih terangkat. Lebih banyak yang pembeli untuk ke depannya. Semakin populer.

“Harapannya ledre bisa lebih banyak lagi peminatnya, banyak yang beli,” imbuhnya.

EVENT KULINER: Keramaian Festival Ledre Bojonegoro di sepanjang Jalan Desa Purwosari, Kamis (8/10/2026) malam. Ada 56 pembuat ledre tampil bikin bersama-sama. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya)

Festival Ledre Mengundang Pengunjung dari Perkotaan

Festival Ledre Bojonegoro berlangsung di jalanan turut Desa Purwosari tersebut menyedot animo masyarakat. Pengunjung datang dari berbagai daerah, terutama warga perkotaan. Terutama setelah Festival Ledre tersebut banyak pegawai negeri sipil (PNS) hadir.

Bahkan, ada pengunjung yang datang dari Bandung. Kebetulan pas di Bojonegoro.

Baca Juga :  Empati dan Histori di Balik Mandat Memimpin Sekolah Rakyat

Ayu Khoiriyah, bersama lima temannya sengaja mengunjungi Festival Ledre di tengah penempatan kerja di Bojonegoro. Ayu tampak antusias, melihat dan mengabadikan ibu-ibu membuat ledre di loyang melalui layar smartphone.

“Saya tanya ke warlok (warga lokal) ledre itu apa, ternyata makanan khas Bojonegoro,” tuturnya dengan senyum.

Ayu mengaku, saat melihat ibu-ibu memasak ledre terbesit dalam pikiran seperti jajan Sunda. Kue semprong. Namun, setelah menggali informasi ternyata ada yang khas.

‘’Tapi tadi saya diberi tahu kalau ledre itu ada pisangnya,” ujarnya.

Bagi Ayu, Festival Ledre Bojonegoro begitu seru. Ada cerita. Bisa melihat ibu-ibu membuat ledre secara langsung. Dirinya mengaku merasa penasaran dengan rasanya.

“Mirip-mirip kue semprong, tapi belum coba sih,” tutupnya. (man/kza)