Bengawan Bojonegoro Asat, Air Tersedak di Bendung Gerak

ASAT: Air Bengawan di wilayah perkotaan Bojonegoro, menyusut signifikan, Rabu (14/10/2026) siang. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Sungai Bengawan menjadi berkah bagi daerah dan masyarakat Bojonegoro. Air Bengawan banyak dipompa untuk mengairi lahan pertanian sepanjang sempadan. Juga membuat desa-desa di sepanjang tepinya, melimpah soal cadangan air tanah.

Namun, saat kemarau sebagaimana kini, berkah itu menjadi timpang. Air hanya melimpah di Bengawan Bojonegoro wilayah barat. Di Bengawan Bojonegoro wilayah timur, minim air. Aliran menyempit. Gundukan bebatuan bermunculan. Bengawan asat.

Batas ketimpangan ini ialah Bendung Gerak di Desa Padang, Kecamatan Trucuk. Air Bengawan Bojonegoro barat, tersedak di bendungan yang mulai beroperasi pada 2012 itu. Tidak bisa mengalir bebas ke Bengawan Bojonegoro timur.

‘’Musim kemarau begini, pintu bendungan (Bendung Gerak, red) mestinya sering dibuka. Supaya Bengawan di timur bendungan tidak terlalu asat,’’ usul Gianto saat diwawancara Bojonegoro Raya, Rabu (14/10/2026) siang.

Petani di Desa/Kecamatan Trucuk ini mengemukakan, air Bengawan di timur Bendung Gerak yang kini asat, masih cukup mengairi lahan pertaniannya. Namun, jika kemarau bertahan hingga Desember 2026 dan pintu Bendung Gerak tidak sering dibuka, Bengawan bisa kering.

‘’Lahan pertanian bisa kekurangan air. Diesel (pompa air, red) kami perlu kerja lebih keras. Kami juga perlu pipa lebih panjang,’’ khawatir petani yang lahan pertaniannya tidak jauh dari tepi Bengawan itu.

Di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro atau seberang Desa Trucuk, sejumlah warga juga mengeluhkan asat-nya Bengawan pada kemarau ini. Sumur mereka krisis air. Menilai asat-nya Bengawan, berpengaruh pada susutnya cadangan air tanah di sumur mereka.

‘’Bengawan asat, sumur ikut asat. Sumur harus dibor lagi, ganti pompa air lebih besar dan mahal, agar air bisa naik,’’ ujar warga Kelurahan Ledok Kulon Munifah kepada Bojonegoro Raya, Rabu (14/10/2026) siang.

Baca Juga :  Hari Kartini, Srikandi PLN Bojonegoro Peduli: Perempuan Sehat sebagai Pilar Keluarga Hebat

Arif Syaifudin salah satu Operator Pintu Air Bendung Gerak. Kemarau ini, sudah banyak orang bertanya: mengapa pintu-pintu Bendung Gerak tidak dibuka? Agar air Bengawan Bojonegoro barat mengalir bebas ke timur. Dan, Bengawan Bojonegoro timur tidak asat.

‘’Sudah banyak orang bertanya begitu. Termasuk, orang-orang sekitar sini. Kami beri jawaban, beri penjelasan,’’ tutur Arif Syaifudin saat ditemui Bojonegoro Raya di kantornya, Rabu (14/10/2026) sore.

Arif sapaannya mengemukakan, ada sembilan pintu di Bendung Gerak. Tidak bisa dibuka sembarangan. Ada aneka pertimbangan teknis dan integratif untuk membuka pintu Bendung Gerak. Tujuannya, agar dinamika air Bengawan Bojonegoro bisa stabil dan berkelanjutan.

Apalagi saat kemarau seperti ini, pihaknya sangat timbang-menimbang dalam mengalirkan air Bengawan. Jika pintu Bendung Gerak banyak dibuka atau bahkan dibuka semua, Bengawan timur dan barat memang bisa sama-sama terisi air. Merata dan seimbang.

‘’Namun, kondisi (merata dan seimbang, red) seperti itu tidak akan lama. Maksimal seminggu. Setelahnya, Bengawan barat dan timur bisa sama-sama kering. Habis airnya,’’ jelasnya.

Pria asal Surabaya ini meneruskan, dari sembilan pintu di Bendung Gerak, terkini hanya dibuka satu pintu saja. Jenis flapegate atau pintu yang memiliki limpasan. Dan, satu pintu itu hanya dibuka bagian limpasannya saja. Tidak dibuka penuh.

‘’Sepanjang kemarau, satu pintu (flapgate, red) ini yang selalu  kami buka. Menerus selama 24 jam. Outflow-nya (debit air yang keluar, red) sekitar 8.00 meter kubik per detik,’’ jelasnya.

Arif menyebut, outflow sekitar 8.00 m³/detik itu sudah dihitung. Menyesuaikan inflow atau debit air masuk ke Bendungan Gerak yang juga sekitar 8.00 m³/detik. Jadi, antara inflow dan outflouw seimbang. Dinamika air di Bendung Gerak stabil dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Bersapa Arus, Mengapung tanpa Pelampung

‘’Dengan inflow 8.00 meter kubik per detik, air (Bengawan Bojonegoro barat, red) yang dibendung bisa terus dialirkan perlahan (ke Bengawan Bojonegoro timur, red) sampai Desember 2026,’’ imbuhnya.

Pria baru setahun berdinas di Bendung Gerak ini turut berharap kemarau segera rampung dan musim penghujan lekas tiba. Jika Desember 2026 masih tidak turun hujan, elevasi Bengawan akan makin susut dan manajemen air di Bendung Gerak lebih repot.

‘’Dalam kondisi tertentu, masyarakat bisa mengajukan pembukaan pintu Bendungan Gerak ini. Ada prosedurnya di kantor kami,’’ pungkas pria sebelumnya berdinas di Floodway Bridge Plangwot–Sedayu Lawas itu. (sab/kza)