Bukan Hanya Peresmian Geosite, Festival Lantung Jadi Perayaan Masyarakat dengan Ragam Seni Lokal

17/10/2026
GEOLOGI: Pesona Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORORAYA – Festival Lantung 2026 tidak hanya jadi penanda peresmian Geosite Kedung Lantung. Selama dua hari, 15–16 Oktober 2026, perayaan masyarakat di Dusun Lantung, Desa Drenges, Sugihwaras, Bojonegoro, itu juga jadi ruang edukasi hingga pertunjukan kesenian lokal.

Sehari sebelum peresmian, Kamis (15/10/2026) sore, sebanyak 60 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bojonegoro mengikuti camping ground.

Mahasiswa menyusuri perbukitan dan jurang di kawasan Kedung Lantung. Berinteraksi dengan alam Lantung.

Sarasehan budaya mempertemukan pengetahuan geologi dengan cerita dan praktik budaya masyarakat setempat. Peserta juga mengikuti lokakarya pembuatan ublik, lampu tradisional berbahan bakar minyak tanah.

Dari lanskap perbukitan hingga warisan benda-benda dalam kehidupan sehari-hari, Kedung Lantung sebagai ruang belajar tentang hubungan manusia, alam, dan kebudayaan.

Petroleum Gas Keunggulan Geopark Bojonegoro

Asisten Daerah III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Bojonegoro Machmuddin, menyoroti keistimewaan Kedung Lantung dari sisi geologi. Terutama fenomena sistem petroleum gas tergolong langka.

Potensi tersebut, kata Machmuddin, perlu dikenali, diteliti, dan dikembangkan agar masyarakat semakin memahami kekayaan geologi Bojonegoro.

Machmuddin mengatakan, keistimewaan Kedung Lantung sebagai geosite petroleum cukup istimewa. Sedang tahap UNESCO Global Geopark (UGGp).

Camat Sugihwaras Heri Purwanto mengapresiasi peresmian geosite Kedung Lantung. Ia berharap, keberadaan fasilitas membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan wilayah desa tersebut.

“Berharap, kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut. Tidak berhenti pada festival saja,” ucap Heri

BUDAYA: Tari Lantung menjadi pertunjukan seni lahir dari budaya masyarakat Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. (Foto: Istimewa)

Sandur, Keroncong, hingga Tari Lantung

Malam pasca peresmian, suasana di venue Festival Lantung kian bergerak. Anak-anak berlarian, sementara ibu-ibu dan bapak-bapak gayeng menikmati pertunjukan.

Panggung menghadirkan beragam penampilan, mulai dari keroncong modern, tari lantung, hingga kesenian Sandur khas Bojonegoro.

Pertunjukan sandur menjadi salah satu penampilan menarik perhatian. Kesenian tradisional Bojonegoro ini memadukan seni peran, tari, musik, dan humor lekat dengan kehidupan masyarakat.

Baca Juga :  G7KAIH Bersinergi dengan Program Gayatri, Disnakkan Mengapresiasi

Sementara tari lantung menghadirkan ekspresi kesenian tumbuh dari lingkungan setempat.

Kehadiran kedua kesenian tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan Kedung Lantung tidak hanya tersimpan dalam lapisan batuan dan fenomena geologinya. Ada pula tradisi, pengetahuan, dan ekspresi budaya hidup di tengah masyarakat.

Melalui Festival Lantung 2026, peresmian geosite bertemu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Panggung kesenian, kemah bersama, sarasehan, dan pengenalan fenomena geologi menjadi bagian dari satu perhelatan saling melengkapi. (wr/kza)