BOJONEGORORAYA – Geliat ketoprak, ludruk, sandur, geguritan, dan penulisan cerkak, di kalangan pelajar Bojonegoro, butuh ruang lebih lebar.
Tidak hanya lingkup sekolah. Namun, meluas di pementasan. Pertunjukan. Dan, penyediaan ruang berekspresi. Semua itu agar keterampilan siswa tersalurkan.
Ekspresi seni budaya Jawa tersebut menjadi sajian publik. Masyarakat umum bisa menyaksikan tumbuh kembang kesenian daerah di tengah himpitan budaya modern.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Emi Sudarwati mengatakan, rasa bangga dengan geliat kesenian dan kebudayaan di kalangan pelajar.
Tidak hanya belajar di kelas, anak-anak berlatih ketoprak, sandur. seni peran. Namun, pelajar SD, SMP, dan SMA sederajat, mulai ramai dengan cerkak dan geguritan.
“Dulu kesenian tradisional dianggap kuno. Sekarang justru anak-anak kita yang paling semangat,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya Jumat (6/11/2026).
Emi menegaskan, disbudpar komitmen untuk mengembangkan bakat pelajar di bidang kebudayaan.
Dia bakal mengupayakan pentas selama ini hanya di lingkup sekolah bisa menjadi sajian khalayak umum. Pentas di luar sekolah.
“Tetap kami usahakan ada, walaupun ada efisiensi 50 persen,” tutur perempuan sebelumnya menjadi guru bahasa Jawa tersebut.
Emi mengatakan, pertunjukan kesenian bukan sekadar hiburan. Namun, mengasah keterampilan. Serta, keberanian siswa tampil di depan umum.

Cerkak Melatih Ide, Geguritan Melatih Kepekaan
Geguritan dan cerkak, menurut Emi, cara anak-anak berpikir dan merasa memiliki bahasa ibu. Ketika anak-anak menulis geguritan, melatih kepekaan.
Menulis cerkak, anak-anak bisa mengolah ide. Menyampaikan pesan moral. Era digital ini, ia tidak ingin anak-anak hanya jadi penonton konten.
“Kami ingin mereka jadi pencipta karya. Melalui lomba geguritan, lomba cerkak, dan antologi karya pelajar. Kami beri panggung untuk mereka,” tutur alumnus doktoral di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Menurut Emi, disbudpar tahun ini sudah melakukan pembinaan. Pelatihan sandur dan tari sekolah. Bekerja sama dengan seniman Bojonegoro dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) seni budaya.
“Kami libatkan seniman sepuh sebagai guru, agar ilmunya tidak putus,” tutur perempuan pernah bertugas di dinas komunikasi dan informasi.
Emi berharap, pelajar Bojonegoro tidak hanya pandai berhitung. Tapi, juga pandai berkesenian. Ketoprak, sandur, geguritan, cerkak, dan kesenian lainnya semua hidup lagi di sekolah.
“Panggung pertama adalah sekolah, panggung berikutnya adalah Bojonegoro, lalu Indonesia,” tandasnya.
Sastra Jawa Tumbuh di Tengah Budaya Modern
Ketua Pamarsudi Bahasa Jawi Bojonegoro (PSJB) Suwarno mengungkapkan, seni budaya di kalangan pelajar tetap bergeliat di tengah desakan budaya mancanegara. Tumbuh dengan baik sesuai dengan kurikulum yang ada.
“Bahkan ekstrakurikuler tetap bergeliat di tengah serbuan budaya asing,” tutur Nono sapaan akrabnya.
Sebagai wahana tumbuh kembangnya karakter anak, lembaga pendidikan niscaya mengajarkan seni budaya sejak dini.
Menurut Nono, pemkab harus mendorong dan memfasilitasi tampilan seni budaya siswa di forum atau fasilitas umum.
“Ini sesuai program badan bahasa Jakarta ingin menyebarkan bahasa daerah melalui seni budaya semacam ketoprak. Serta, kesenian lainnya kepada generasi muda,” tutupnya. (man/kza)

