Alunan Lesung Nyaring, Pembuka Festival Geopark Bojonegoro di Kebun Belimbing

SIAP TAMPIL: Seni kelotekan lesung warga Desa Ngringinrejo akan tersaji dalam Festival Geopark Bojonegoro di Kebun Belimbing Desa Ngringinrejo, Sabtu (7/11/2026). (Foto: Agus Prasetyo / Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Lesung Jemungglung akan mewarnai perayaan Festival Geopark Bojonegoro berlangsung di Kebun Belimbing, Sabtu (7/11/2026).

Lima emak-emak bersiap tampil. Ibu-ibu petani tersebut bersedia berkreasi dalam seni kelotekan lesung alu. Lesung jemungglung hingga lagu Lir-Ilir akan mengirama dalam pembukaan Festival Geopark.

Festival Geopark ini sekaligus hajatan akbar gerebek gunungan belimbing. Wujud syukur warga Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, atas limpahan panen.

‘’Anggotanya ada lima ibu-ibu (yang bakal memainkan seni kelotekan lesung),’’ kata Mbah Tar salah satu penabuh kelotekan lesung kepada Bojonegoro Raya.

Jumat malam, Mbah Tar bersama rekan-rekannya latihan di lokasi kebun belimbing. Memakai sarung tangan, bergegas mengambil alu terbuat dari kayu.

Kayu memanjang tersebut sebagai pemukul lesung (wadah penumbuk padi). Hentakan alu dan lesung itulah mengerucut sebuah irama. Bernada sederhana. Penuh makna.

Menurut Mbah Tar, memainkan lesung jemungglung ini sebagai untaian syukur atas capaian panen padi. Sekaligus panen belimbing.

ALUNAN: Lima emak-emak latihan memainkan seni lesung. Budaya sederhana ini akan mewarnai Festival Geopark Bojonegoro di Kebun Belimbing, Sabtu (7/11/2026).
BUAH LOKAL: Gunungan belimbing sudah terangkai. Warga sengkuyung membuat gunungan belimbing meramaikan Festival Geopark Bojonegoro. (Foto: Agus Prasetyo / Bojonegoro Raya).

Wujud Syukur Panen Padi dan Belimbing

Kebetulan Desa Ngringinrejo merupakan kawasan tepi Bengawan. Air cukup melimpah. Banyu tersedia menjadi berkah.

Warga Ngringinrejo ini kemarau masih merasakan panen padi. Pasokan air dari Bengawan mengaliri keberkahan tanaman padi.

‘’Nyambut tamu dan lambang panen padi,’’ tutur Mbah Tar dengan senyum.

‘’Cah angon-acah angon penekno belimbing kui

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro’’

Sepenggal lirik lagu Lir-Ilir tersebut akan menjadi penanda warga Desa Ngringinrejo dalam merayakan gunungan belimbing. Tembang dolanan tersebut akan dimainkan oleh emak-emak dengan musik lesung.

Warga Desa Ngringinrejo membuat gunungan belimbing cukup besar. Buah dengan khas kemuning dan oranye tersebut ditata dengan rapi. Berwujud gunungan.

Nantinya, berlangsung kirab. Arakan gunungan belimbing di arak bersama. Oleh warga. Sengkuyung meramaikan acara. Memutari pintu masuk agrowisata kebun belimbing.

Baca Juga :  Sidak Kehadiran ASN-Pegawai di Hari Pertama Kerja Pasca Libur Lebaran

Ada hiburan reog. Seni budaya reog akan menggetarkan suasana Festival Geopark tersebut. Hiburan warga berlanjut. Nada-nada musik campur sari menjadi kudapan sambil nyam-nyam belimbing.

Mbah Tar mengatakan, acara gunungn belimbing ini merupakan tradisi warga. Setiap tahun. Selalu terjaga.

Adapun, Agrowisata Kebun Belimbing ini adalah salah satu biosite Geopark Bojonegoro. Dan, belum lama ini Geopark Bojonegoro mendapat pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).

Status UGGp hasil sidang dewan UNESCO di Paris, Prancis. Pengakuan secara resmi bakal terwujud tahun depan. Rencananya pemberian UGGp berlangsung di Portugal. Geopark Bojonegoro ini menahbiskan sebagai UGGp ke-12 di Indonesia. Mendunia. (kza)