BRIN Beri Saran Geopark Bojonegoro, Geowisata dan Jujugan Penelitian Dunia

05/11/2026
Kahyangan Api - Bojonegoro Raya
SAMAR: Nyala api di Kahyangan Api tidak kentara pada siang hari. (Foto: Khorij Zaenal Assrori)

BOJONEGORORAYA – Selangkah lagi, Geopark Bojonegoro menunggu pengumuman resmi menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sarankan Pemkab Bojonegoro membuat paket geowisata.

Gencar promosi, memopulerkan geotrail. Serta, menjadi jujugan penelitian dunia. Terutama mahasiswa geologi.

BRIN menilai alam Bojonegoro memiliki keunikan dan nilai ilmiah tersimpan di masing-masing geosite. Keunikan ini bisa menjadi media pembelajaran untuk pelajar dan mahasiswa.

Mengonsep ragam geosite di Bojonegoro jadi jujugan penelitian. Riset.  Menyingkap temuan terbaru untuk pengembangan ilmu pengetahuan geologi.

JELAJAH: Rombongan KaGeT saat memasuki kawasan tambanyak minyak bumi tradisional di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Sabtu (30/5/2026) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Chusni Ansori peneliti ahli utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN mengungkapkan, Geopark Bojonegoro sudah mendapat penilaian oleh council UNESCO di Paris, Prancis. Namun, menyisakan pengumuman resmi.

“Insya Allah Geopark Bojonegoro akan menjadi Geopark UNESCO ke – 13 di Indonesia,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (4/11/2026).

Chusni membeberkan, berdasarkan penilaian terdapat warisan geologi dengan nilai internasional yang signifikan (internasional significance value geosite).

Yakni, petroleum system yang komplet. Mulai dari batuan induk, batuan reservoir minyak bumi, dan struktur antiklin. Membentuk sistem minyak bumi. Unik.

“Sistem minyak bumi ini sebagai Lapangan Kawengan yang membentuk struktur antiklin (Antiklin Kawengan). Dan bagian dari Cekungan Jawa Timur bagian utara,” ungkapnya.

CHUSNI Ansori peneliti ahli utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN.

Layak Jadi Jujugan Kuliah Lapangan Mahasiswa Geologi

Pria juga menjadi koordinator Riset Geopark dan Geoheritage BRIN itu menambahkan, sekitar lokasi geosite tersebut tersingkap satuan-satuan stratigrafi. Seperti Formasi Ledok, Formasi Wonocolo, dan Formasi Ngrayong.

Pada Geopark Bojonegoro bisa melihat bukti-buktinya. Berupa singkapan batuan, sumur minyak tua, rembesan gas membentuk api abadi Kayangan.

Juga, ragam biosite dan cultersite Geopark Bojonegoro memiliki nilai budaya dan keragaman hayati mendukung penilaian UNESCO. Paket komplet.

Baca Juga :  Nurul Azizah Buka Perkemahan Wirakarya Jawa Timur: Wujudkan Asa, Berbakti Nyata

“Sebenarnya Bojonegoro sudah lama untuk kegiatan ekskursi atau kuliah lapangan mahasiswa geologi. Mempelajari sistem minyak bumi,” tutur doktor teknik geologi Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut.

Chusni menyarankan, setelah menjadi UNESCO Global Geopark, keunikan dan nilai ilmiah geosite bisa menjadi pengembangan media belajar. Geowisata untuk pelajar, maupun masyarakat umum.

“Geowisata itu bukan wisata geologi, namun bentuk wisata berbasis geologi dengan aspek keragaman budaya dan hayati,” bebernya.

Lanjutnya, badan pengelola Geopark Bojonegoro dengan pemangku kepentingan mempunyai tugas memopulerkan geotrail. Membuat paket-paket geowisata, melakukan branding, mempromosikan, mendidik pemandu lokal.

‘’Sehingga manfaat ekonomi secara berkelanjutan terasa oleh masyarakat,” tegasnya.

UNIK: Kawasan Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. Tampak rembesan lantung atau minyak mentah di perairan dangkal. (Foto: Lukman Hakim / Bojonegoro Raya)

Geopark Itu Berbasis Kerja Sama Masyarakat Lokal

Chusni membeberkan, banyak bukti empirik dari berbagai Geopark UNESCO yang mengelola dengan baik. Seperti sektor konservasi dan edukasi. Hal itu mendatangkan pertumbuhan ekonomi.

Ia menambahkan, geopark itu berbasis masyarakat lokal, menghargai hukum lokal dan masyarakat adat. Berbasis bottom up. Sehingga yang utama bukan investor yang datang menanamkan modal, mengeruk keuntungan.

“Namun, sebaliknya kerja sama saling menguntungkan,” katanya.

Ditanya terkait perlunya kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk menunjang geopark, Chusni mengatakan kondisi masing-masing geopark berbeda.

‘’Terus terang saya belum berkunjung dan melakukan penelitian di Bojonegoro, sehingga saya tidak bisa berkata banyak,” kata dia.

Chusni mengatakan, praktik pengelolaan geopark yang baik umumnya peningkatan pemahaman masyarakat. Agar mempunyai kebanggaan daerah dapat pengakuan UNESCO.

Selanjutnya, pemkab dan badan pengelola melaksanakan rencana induk secara bertahap dan konsisten.

Serta, menjalankan rekomendasi asesor yang menilai. Aksesibilitas dan meningkatkan amenitas situs. Tentunya kerja sama dengan swasta serta unsur pentahelik lainnya.

“Banyak kok Geopark UNESCO yang melakukan tata kelola dengan baik maka akan membuka peluang swasta untuk kerja sama,” ucapnya. (man/kza)

Baca Juga :  Realisasi BKKD Bojonegoro 2025 Dikawal Tim Khusus, Melibatkan Polisi dan Jaksa