BOJONEGORORAYA – Selangkah lagi, Geopark Bojonegoro menunggu pengumuman resmi menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sarankan Pemkab Bojonegoro membuat paket geowisata.
Gencar promosi, memopulerkan geotrail. Serta, menjadi jujugan penelitian dunia. Terutama mahasiswa geologi.
BRIN menilai alam Bojonegoro memiliki keunikan dan nilai ilmiah tersimpan di masing-masing geosite. Keunikan ini bisa menjadi media pembelajaran untuk pelajar dan mahasiswa.
Mengonsep ragam geosite di Bojonegoro jadi jujugan penelitian. Riset. Menyingkap temuan terbaru untuk pengembangan ilmu pengetahuan geologi.

Chusni Ansori peneliti ahli utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN mengungkapkan, Geopark Bojonegoro sudah mendapat penilaian oleh council UNESCO di Paris, Prancis. Namun, menyisakan pengumuman resmi.
“Insya Allah Geopark Bojonegoro akan menjadi Geopark UNESCO ke – 13 di Indonesia,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (4/11/2026).
Chusni membeberkan, berdasarkan penilaian terdapat warisan geologi dengan nilai internasional yang signifikan (internasional significance value geosite).
Yakni, petroleum system yang komplet. Mulai dari batuan induk, batuan reservoir minyak bumi, dan struktur antiklin. Membentuk sistem minyak bumi. Unik.
“Sistem minyak bumi ini sebagai Lapangan Kawengan yang membentuk struktur antiklin (Antiklin Kawengan). Dan bagian dari Cekungan Jawa Timur bagian utara,” ungkapnya.

Layak Jadi Jujugan Kuliah Lapangan Mahasiswa Geologi
Pria juga menjadi koordinator Riset Geopark dan Geoheritage BRIN itu menambahkan, sekitar lokasi geosite tersebut tersingkap satuan-satuan stratigrafi. Seperti Formasi Ledok, Formasi Wonocolo, dan Formasi Ngrayong.
Pada Geopark Bojonegoro bisa melihat bukti-buktinya. Berupa singkapan batuan, sumur minyak tua, rembesan gas membentuk api abadi Kayangan.
Juga, ragam biosite dan cultersite Geopark Bojonegoro memiliki nilai budaya dan keragaman hayati mendukung penilaian UNESCO. Paket komplet.
“Sebenarnya Bojonegoro sudah lama untuk kegiatan ekskursi atau kuliah lapangan mahasiswa geologi. Mempelajari sistem minyak bumi,” tutur doktor teknik geologi Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut.
Chusni menyarankan, setelah menjadi UNESCO Global Geopark, keunikan dan nilai ilmiah geosite bisa menjadi pengembangan media belajar. Geowisata untuk pelajar, maupun masyarakat umum.
“Geowisata itu bukan wisata geologi, namun bentuk wisata berbasis geologi dengan aspek keragaman budaya dan hayati,” bebernya.
Lanjutnya, badan pengelola Geopark Bojonegoro dengan pemangku kepentingan mempunyai tugas memopulerkan geotrail. Membuat paket-paket geowisata, melakukan branding, mempromosikan, mendidik pemandu lokal.
‘’Sehingga manfaat ekonomi secara berkelanjutan terasa oleh masyarakat,” tegasnya.

Geopark Itu Berbasis Kerja Sama Masyarakat Lokal
Chusni membeberkan, banyak bukti empirik dari berbagai Geopark UNESCO yang mengelola dengan baik. Seperti sektor konservasi dan edukasi. Hal itu mendatangkan pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan, geopark itu berbasis masyarakat lokal, menghargai hukum lokal dan masyarakat adat. Berbasis bottom up. Sehingga yang utama bukan investor yang datang menanamkan modal, mengeruk keuntungan.
“Namun, sebaliknya kerja sama saling menguntungkan,” katanya.
Ditanya terkait perlunya kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk menunjang geopark, Chusni mengatakan kondisi masing-masing geopark berbeda.
‘’Terus terang saya belum berkunjung dan melakukan penelitian di Bojonegoro, sehingga saya tidak bisa berkata banyak,” kata dia.
Chusni mengatakan, praktik pengelolaan geopark yang baik umumnya peningkatan pemahaman masyarakat. Agar mempunyai kebanggaan daerah dapat pengakuan UNESCO.
Selanjutnya, pemkab dan badan pengelola melaksanakan rencana induk secara bertahap dan konsisten.
Serta, menjalankan rekomendasi asesor yang menilai. Aksesibilitas dan meningkatkan amenitas situs. Tentunya kerja sama dengan swasta serta unsur pentahelik lainnya.
“Banyak kok Geopark UNESCO yang melakukan tata kelola dengan baik maka akan membuka peluang swasta untuk kerja sama,” ucapnya. (man/kza)

