Lanskap Pecinan dan Perahu Kuno di Galeri Bengawan Kini Bisa Dikunjungi Setiap Hari

SEPERTI DI TIONGKOK: Lanskap Pecinan di Galeri Bengawan. Daya tarik wisata selain perahu kuno berukuran jumbo. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORORAYA — Bangunan berarsitektur Tionghoa di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, kini lebih terbuka untuk umum.

Bangunan dikenal dengan nama Kampung Bengawan atau Galeri Bengawan itu tidak lagi menjadi tempat kegiatan insidental. Namun, sudah dibuka tetap. Setiap hari.

Jadi, masyarakat kini bisa mengunjungi Galeri Bengawan sewaktu-waktu. Menikmati lanskap Pecinan, seperti di Tiongkok—negeri seberang lautan.

Masyarakat juga bisa melihat perahu kuno Bengawan yang ditemukan masyarakat pada 2005 silam. Panjangnya 25 meter. Lebarnya empat meter.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro M. Amin Asrofin membenarkan hal tersebut.

“Galeri Bengawan dibuka setiap hari. Mulai Rabu (1/10/2025) besok,” ujarnya saat dihubungi Bojonegoro Raya, Selasa (30/9/2025) pagi.

Amin sapaannya meneruskan, setiap hari, Galeri Bengawan dibuka selama delapan jam. Mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Pagi sampai sore.

“Tiket masuknya terjangkau. Rp 5.000 per pengunjung,” imbuh pejabat kelahiran 1986 tersebut.

Perihal peniketan di Galeri Bengawan, Amin optimistis hal itu tidak memberatkan. Sebab, nominalnya tidak besar. Masih ramah di kantong.

“Peniketan itu juga sesuai Perda (Peraturan Daerah, red) Bojonegoro Nomor 8 Tahun 2025,” imbuhnya.

Diketahui, Perda Bojonegoro Nomor 8 Tahun 2025 diterbitkan Pemkab Bojonegoro pada awal Juli 2025 lalu. Berisi tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Melalui perda tersebut, Pemkab Bojonegoro mengatur sumber pendapatan asli daerah (PAD) untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya, via pariwisata. (sab/kza)

Baca Juga :  Medhayoh Haji dan Asa Penggerak Mengentas Kemiskinan
error: Content is protected !!