BOJONEGORORAYA – Ledre akan menjadi camilan yang bakal menjadi menu wajib di Bojonegoro. Setiap destinasi wisata, acara, hingga tempat oleh-oleh, harus ada ledre. Ledre harus selalu ada. Setiap acara. Dalam rasa.
‘’Setiap destinasi wisata akan disediakan ledre. Tindak lanjut nanti akan ada edaran setiap kegiatan Pemkab Bojonegoro, harus ada ledre,’’ tutur Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Elzadeba Agustina dalam Sarasehan Ledre Bojonegoro di SMKN Purwosari, Rabu (7/10/2026).
Sarasehan dengan 85 peserta ini menjadi pembuka gelaran akbar Festival Ledre Bojonegoro berlangsung pada Kamis (8/10/2026). Festival Ledre berlangsung sejak Kamis pagi. Puncaknya malam di Desa/Kecamatan Purwosari.
Kriuk-kriuk, bakal ada ribuan ledre. Puluhan produsen ledre bakal demo. Emak-emak akan tampil dan membuat langsung ledre di lokasi festival. Semarak.
Ketangguhan ledre menembus zaman inilah, membuat Elzadeba, optimistis bahwa camilan sebagai identitas Bojonegoro ini bakal menasional. Hingga saat ini masih awet. Lebih 120 produsen ledre masih bertahan.
Ledre sebagai camilan renyah asal Bojonegoro ini sejak 1930. Hingga saat ini, justru semakin beragam dan kian merambah semua kalangan.
‘’Saya pastikan setiap tempat oleh-oleh mesti ada ledre. Dan, yakin, pasti laku. Apalagi ledre murah dan enak,’’ tutur Elzadeba.
Elzadeba akan menggagas dengan usulan surat edaran agar setiap kegiatan atau acara di Pemkab Bojonegoro, terdapat ledre. Sebagai jajanan khas Bojonegoro. Identitas.
Terlebih, setelah ada Festival Ledre Bojonegoro ini, Elzadeba optimistis jajanan gulungan berbahan rasa pisang raja ini bakal menjadi unggulan.
‘’Hanya butuh inovasi lagi. Tidak hanya produk, namun juga kemasan. Atau sentuhan kemasan dengan toples atau hiasan,’’ tutur perempuan pernah menjabat kepala dinas perdagangan dan koperasi tersebut.

Ledre Bisa Menghidupi Ratusan Warga
Dalam Sarasehan Ledre Bojonegoro, Elzadeba cukup senang banyak siswa SMKN Purwosari yang antusias dengan ledre. Banyak yang bertanya rasa dan cara membuatnya.
Elzadeba juga mengajak agar para siswa ke depan menjadi pengusaha ledre. Tidak sekadar membuat, tapi jadi pelaku usaha ledre.
‘’Nanti kami akan usulkan bimtek atau pelatihan belajar membuat ledre untuk para siswa-siswi,’’ tutur Elzadeba mendapat teriakan senang para peserta Sarasehan Ledre Bojonegoro.
Kumilah salah satu produsen ledre hadir dalam sarasehan mengatakan, bahwa camilan khas Bojonegoro ini menjadi berkah. Banyak ibu-ibu yang menjadi produsen ledre. Setiap hari, memproduksi.
‘’Hasil produksi dijual ke agen-agen ledre di Padangan. Agen ledre hingga tempat oleh-oleh,’’ tutur perempuan tinggal di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari tersebut.
Ledre semakin beragam cita rasanya. Ada rasa cokelat, macha, hingga durian. Namun, bahan baku ledre tetap pisang raja.
‘’Ada satu yang unik, membuat ledre harus tenang. Kalau tidak tenang, tidak akan bisa membuatnya,’’ tutur Kumilah.

Menuju Satu Abad Ledre
Sementara itu, Yusab Alfa Ziqin jurnalis dan periset Bojonegoro Raya mengatakan, bahwa pencetus ledre kali pertama adanya Min Tjie. Seorang perempuan tinggal di Desa/Kecamatan Padangan.
Dari sentuhan jemari Min Tjie tersebut, ledre semakin memasyarakat hingga di Kecamatan Purwosari. Min Tjie membuat ledre pada 1930 silam. Sehingga, tidak lama lagi akan satu abad ledre.
Yusab menceritakan perjalanannya melakukan liputan jurnalistik dan riset tentang ledre Bojonegoro. Perjalanannya selama satu minggu. Mendata, meliput, hingga wawancara dari Kecamatan Padangan, Purwosari, hingga kawasan perkotaan.
‘’Titik nolnya di kawasan Pecinan Padangan. Bahkan, sampai mencari pusara Min Tjie di Bong Cino (tempat pemakaman etnis Tionghoa di Desa Purworejo, Kecamatan Padangan),’’ jelasnya.
Sarasehan Ledre Bojonegoro berjalan santai. Duduk lesehan. Berdiskusi dan saling bertanya. Camat Purwosari Ike Widyaningrum memberi motivasi. Selain siswa, hadir pula para produsen ledre. Juga, dari jurnalis dan perwakilan Pertamina EP Cepu (PEPC).
Sarasehan juga berlangsung unik. Diawali dengan makan ledre bersama. Serta, yel-yel mengangkat kertas dengan menerikaan Ledre Bojonegoro Melegenda.
‘’Tidak hanya melegenda. Ledre Bojonegoro, juga mendunia,’’ tutur Lukman Hakim, moderator Sarasehan Ledre Bojonegoro. (sab/kza)

