BOJONEGORORAYA – Sebanyak 50 jurnalis dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Timur (Jatim), Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Regional Jatimbalinus, bertemu di Kota Batu.
Di kota wisata berhawa dingin tersebut, 50 jurnalis dari 50 media itu mengikuti Bootcamp Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) 2026 Regional Jatimbalinus di Hotel Royal. Tiga hari. Selasa (18/8/2026) hingga Kamis (20/8/2026).
Hari pertama, mereka mengikuti sharing session di Ballroom Panderman, Hotel Royal. Menyimak presentasi serba-serbi pelaksanaan AJP 2026 yang dibawakan Sr. Officier III Media Communication Pertamina Ely Chandra Perangin-angin.
Lain itu, mereka juga menyimak presentasi bisnis dan nonbisnis Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Pertamina Gas Negara (PGN) Sales and Operation Region (SOR) III, serta Pertamina EP Cepu (PEPC) Regional 4 Indonesia Timur.

Serampungnya, sharing session dilanjutkan dengan santiaji dari salah satu Dewan Juri AJP 2026 Kumaidi Notonegoro. Direktur Eksekutif Reforminer Institute ini mengungkap sejumlah tips agar karya jurnalis diikutkan AJP 2026 dilirik juri, menyabet prestasi.
Yang juga ditekanan Kumaidi Notonegoro, karya jurnalis diikutkan dalam AJP 2026 harus tetap mengandung daya kritis. Ceritakan masalah dan tantangan dihadapi Pertamina. Pakai data, analisa, temukan makna. Tawarkan solusi atau sarannya.
‘’Jangan menjadi jubir (juru bicara, red) Pertamina,’’ tegas Dewan Juri AJP 2026 berprofesi sebagai dosen di Pascasarjana Universitas Trisakti tersebut.

Dalam santiajinya pula, Kumaidi Notonegoro meyakinkan, penjurian dalam AJP 2026 maupun AJP tahun-tahun sebelumnya, selalu dilakukan secara profesional, objektif, independen. Sonder intervensi. Bahkan, dari internal Pertamina sendiri.
‘’Untuk jurnalis daerah (lokal, red), tidak perlu kecil hati dalam mengikuti AJP 2026. Lima tahun terakhir, (karya, red) pemenang AJP berasal dari (jurnalis, red) daerah semua,’’ imbuhnya.
Dalam kesempatan serupa, Riska Desiandra menceritakan pengalamannya meraih juara dalam AJP 2025. Dia jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) Singaraja, Bali. Dalam AJP 2025, karyanya terpilih sebagai Juara I Teritori Jatimbalinus.
Tilik Fuel Terminal Malang, Heritage Kayutangan, hingga Griya Batik
Berlanjut hari kedua, para jurnalis diajak turun ke lapangan. Visit site. Mula-mula, menilik Fuel Terminal Malang yang dioperasikan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus di Jalan Halmahera, Kota Malang.
Manager Fuel Terminal Malang Doly Pratama Yudha menyambut para jurnalis di kantornya. Dia menceritakan operasi bisnisnya. Juga menuturkan aneka program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) digulirkan pihaknya.
Usai itu, para jurnalis diajak keliling area Fuel Terminal Malang. Melihat langsung bagaimana aneka jenis bahan bakar minyak (BBM) dipasok, disimpan, dan didistribusikan ke SPBU-SPBU di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.

Lepas dari kunjungan di Fuel Terminal Malang, para jurnalis diajak ke Heritage Kayutangan. Masih di Kota Malang. Di kampung wisata sejarah ini, para jurnalis melihat jejak-jejak masa lalu Kota Malang. Menikmati suasananya. Mendengarkan ragam kisahnya.

Salah satu rumah produksi batik di Kota Batu menjadi lokasi terakhir dikunjungi para jurnalis dalam Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus, Rabu (19/8/2026) itu. Namanya Griya Batik Olive.
Di griya batik binaan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus ini, para jurnalis mengamati pembuatan batik tulis. Juga mendengarkan perjalanan griya batik tersebut dari empunya: Iwan Achmad Irawan.

Yang istimewa, para jurnalis diberi kesempatan mewarnai batik tulis produksi Griya Batik Olive. Para pewarta pun tidak menyiakan. Jemari mereka bergerak berkreasi. Membubuhkan rupa-rupa warna pada batik tulis tanpa rona.
‘’Sepertinya (mewarnai batik tulis, red) ini mudah. Ternyata, sulit,’’ heran jurnalis beritakata.id Nugraha Perdana dalam kesempatan itu.

Pemilik Griya Batik Olive Iwan Achmad Irawan mengatakan, pembuatan batik tulis memang menantang. Lebih rumit, butuh ketelitian, dan waktu panjang. Pewarnaannya pun menggunakan bahan-bahan alami. Tidak seperti batik print.
‘’Kami konsisten dengan batik tulis. Karena, kami punya market (pasar, red) tersendiri,’’ ungkap pria mulai berkecimpung di dunia batik sejak 1995 tersebut.
Dia meneruskan, pasar batik produksinya ialah kalangan berekonomi menengah ke atas. Berpunya. Sebab, harga batik tulis produksinya agak mahal. Konsekuensi dari rumitnya pembuatan dan kuatnya nilai seni budaya.
Lebih lanjut, pria 60 tahun akrab disapa Iwan itu mengemukakan, Pertamina sangat membantu pihaknya mengeksiskan Griya Batik Olive. Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) ini mengulurkan tangan. Membantunya keluar dari petaka.
Petaka itu ialah Pandemi Covid 19. Saat itu, perekonomian nasional terengah. Banyak usaha kehabisan napas, termasuk Griya Batik Olive. Sedang, usaha tersebut sesungguhnya harus terus berjalan. Para karyawan tetap butuh gajian.
Dalam kondisi itu, Pertamina memberikan pinjaman dana Rp 250 juta untuk Griya Batik Olive, melalui Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK). Hasilnya, Griya Batik Olive kembali bernapas. Pulih perlahan. Kini, sudah berdiri tegak lagi.
‘’Yang luar biasa, setelah pinjaman lunas, kami tidak dilepas (oleh Pertamina, red). Kami tetap dibina, diberi pelatihan, dibantu sertifikasi, dan diajak pameran,’’ imbuhnya.
Meloncat hari ketiga, tidak ada agenda penting dalam Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus. Pada Kamis (21/8/2026) itu, para jurnalis punya cukup waktu untuk menikmati Kota Batu. Lantas, pulang ke daerah masing-masing.
Insight Baru untuk Karya Jurnalistik Lebih Bermutu
Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus di Kota Batu selama tiga hari itu, diselenggarakan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Bekerja sama dengan Pertamina, PEPC Regional 4 Indonesia Timur, dan PGN SOR III.
Area Manager Communication Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi menyampaikan, Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus diselenggarakan untuk sejumlah keperluan.
Selain mempererat hubungan Pertamina dengan insan media di Regional Jatimbalinus, juga memberikan wawasan baru kepada jurnalis mengenai AJP serta operasi bisnis-nonbisnis Pertamina di Regional Jatimbalinus. Terutama, Pertamina Patra Niaga.
Karena itu, Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus berlangsung sarat isi. Ada sharing session dengan para narasumber terkait, ada pula kunjungan ke tempat yang terhubung dengan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus.
‘’Kami berharap, acara ini menambah insight baru untuk para jurnalis,’’ ujarnya saat gala dinner Bootcamp AJP 2026 Regional Jatimbalinus di Paolo Fest, Kota Batu, Rabu (19/8/2026) malam.

Insight atau wawasan baru itu, kata Ahad sapaannya, penting bagi jurnalis untuk meningkatkan mutu berita ihwal Pertamina. Juga penting bagi jurnalis dalam mengikuti AJP 2026 yang pada bulan ini memasuki tahap pendaftaran karya.
‘’Kami berharap, melalui acara ini, muncul karya terbaik dari para jurnalis di Regional Jatimbalinus. Diikutkan AJP 2026, meraih juara,’’ imbuh alumnus Universitas Padjajaran itu.
Ahad meneruskan, pihaknya tentu akan senang jika jurnalis di Regional Jatimbalinus meraih juara dalam AJP 2026. Ikut bangga. Jurnalis, media, dan Pertamina di Regional Jatimbalinus yang menjadi materi berita, melenting bersama.
Sebagaimana diketahui, AJP merupakan kompetisi jurnalistik yang digelar Pertamina. Tingkat nasional. Rutin. Setiap tahun. Sejak 2003 silam. Kompetisi ini menarungkan karya-karya jurnalistik terbaik seputar operasi bisnis dan nonbisnis Pertamina.
Rangkaian AJP pada 2026 ini, dimulai awal Juli 2026 kemarin. Dirilis di Gedung Grha Pertamina, Jakarta. Mengusung tema Energizing Innovation. Terbuka untuk karya jurnalistik berupa tulis, foto, video, dan audio. (sab/kza)



