Kisah Pendidikan dari Pinggiran Kedungadem (3)

Butuh Pengajar, Perlu Pagar

BUTUH GURU: Sejumlah siswa SMPN 3 Kedungadem saat diajar oleh guru mapel nondefinitif. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

SUDAH lama tidak ada guru definitif untuk mata pelajaran (mapel) Bahasa Jawa di SMPN 3 Kedungadem. Bekti Wahyuni menjadi saksi ketiadaan itu.

‘’Kira-kira sudah sekitar lima tahun,’’ tutur Bekti Wahyuni saat diwawancara Bojonegoro Raya, Selasa (28/4/2026) siang.

Guru senior di SMPN 3 Kedungadem itu kurang mengetahui mengapa guru definitif Bahasa Jawa tidak kunjung ada. Mungkin, stok dimiliki Pemkab Bojonegoro memang sedikit.

‘’Sehingga, belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh sekolah. Termasuk sekolah ini,’’ imbuhnya.

Kepala SMPN 3 Kedungadem Ef Supriyadi memiliki perkiraan yang sama. Jumlah guru Bahasa Jawa untuk SMPN di Bojonegoro sepertinya memang tidak banyak.

‘’Sebagai solusi, mapel Bahasa Jawa di sini, diampu guru lain,’’ terangnya kepada Bojonegoro Raya, Selasa (28/4/2026) siang.

Selain Bahasa Jawa, di SMPN 3 Kedungadem ada dua mapel lain yang tidak memiliki guru definitif. Yakni, pendidikan kewarganegaraan (Pkn) dan tekonologi informasi komunikasi (TIK).

‘’Kekosongan (guru definitif, red) ini semoga segera terisi. Begitu harapan kami,’’ tutur Ef Supriyadi.

Pendidik menamatkan pendidikan sarjananya di IKIP Bojonegoro itu melanjutkan, ada hal lain yang dibutuhkan sekolahnya. Soal sarana prasana.

‘’Sekolah ini butuh pagar keliling. Itu penting untuk keamanan sekolah ini,’’ jelasnya.

Untuk ruang kelas, Ef Supriyadi mengatakan, ada empat yang sudah kurang layak. Ditambah ruang perpustakaan. Kelimanya butuh perbaikan atau direhabilitasi.

‘’Kabarnya, itu akan direhabilitasi pada tahun ini. Semoga terealisasi,’’ harapnya. (sab/kza)

Baca Juga :  Koleksi Buku Terbatas, Daya Baca Meranggas
error: Content is protected !!