Dulu, Agus Sismanto tidak tahu Bojonegoro. Kini, guru asal Wonogiri itu sudah adem di Kecamatan Kedungadem.
—————–
TIDAK ada Bojonegoro di pengetahuan Agus Sismanto. Tidak tahu Bojonegoro berada di mana dan kabupaten seperti apa. Dia tidak mengerti. Sama sekali.
Guru SMPN 3 Kedungadem itu baru ngeh Bojonegoro ketika mengikuti seleksi aparatur sipil negara (ASN) pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru 2023 lalu.
Waktu itu, Agus sapaannya diajak mendaftar seleksi ASN PPPK di Pemkab Bojonegoro oleh dua teman. Hasilnya, dua teman yang mengajaknya malah tidak lolos. Hanya dia yang lolos.
‘’Jadi, saya sendirian ke Bojonegoro,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya di SMPN 3 Kedungadem, Selasa (28/4/2026) siang.
Pendidik asal Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri itu melanjutkan, dia dilantik sebagai ASN PPPK guru pada 2024. Dapat penempatan di SMPN 3 Kedungadem. Hingga kini.
‘’Saya mengajar Prakarya, IPA, dan TIK. Kadang-kadang juga matematika. Tapi, pokoknya Prakarya,’’ jelasnya.
Agus mengemukakan, sejak pertama bertugas di SMPN 3 Kedungadem pada 2024, dia memilih berdomisili di dekat sekolah. Menyewa kos di pusat Kecamatan Kedungadem.
‘’Di dekat Pasar Kedungadem situ,’’ imbuh sarjana pendidikan kimia alumnus Universitas Negeri Jakarta tersebut.
Adapun, meski mengajar di sekolah pelosok atau pinggiran, Agus tidak banyak beradaptasi. Rupa wilayah Kecamatan Kedungadem relatif serupa dengan kampung halamannya.
‘’Rumah saya juga di pedesaan seperti di sini. Bedanya, Kecamatan Kedungadem ini cuacanya lebih panas. Terik,’’ jelasnya.
Sedikit hal yang butuh adaptasi, ungkap pendidik kelahiran 1995 itu, ialah cita rasa masakan. Di Wonogiri, manis-manis. Di Kecamatan Kedungadem, pedas dan asin.
‘’Bahasa endemik Kecamatan Kedungadem juga butuh penyeseuaian. Sempat bingung dengan leh dan nem,’’ jelasnya.
Kini, Agus mengaku sudah bisa beradapatasi secara total untuk hidup di Kecamatan Kedungadem maupun mengajar di SMPN 3 Kedungadem.
Masyarakat Kecamatan Kedungadem sama baik dan ramah. Para guru senior di SMPN 3 Kedungadem pun baik-baik. Siswa-siswinya manut. Mudah diatur.
‘’Saya merasa nyaman. Sudah adem di Kedungadem,’’ tutur mantan guru SMP Muhammadiyah BK Giriwoyo itu.
Lebih lanjut, ayah satu anak ini mengatakan, cukup sering pulang ke Wonogiri. Biasanya seminggu sekali. Naik Beat. Menempuh perjalanan sekitar lima sampai enam jam.
‘’Dulu, istri sempat ikut tinggal di sini. Saat hamil, istri balik ke Wonogiri,’’ kenangnya. (sab/kza)

