BOJONEGORORAYA – Baru-baru ini, Nur Hasan berhenti menjual daging sapi. Lapak jualannya di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pedagang Pasar Kota Bojonegoro, ditutup.
Pedagang daging sapi akrab disapa Hasan itu mengatakan, dia dan para sejawat kesulitan mendapat stok daging sapi dalam beberapa hari terakhir ini. Sedang langka di Bojonegoro.
‘’Harga daging sapi sedang tinggi. Tapi kami juga kesulitan mendapatkan barang (daging sapi, red),’’ ujar Hasan, Kamis (20/8/2026) kemarin.
Harga daging sapi, kata Hasan, mencapai Rp 140 per kilogram (kg) baru-baru ini. Itu yang kelas satu. Harga daging sapi kelas dua, Rp 130 per kg. Kelas tiga, Rp 120 kg.
‘’Harga (daging sapi, red) itu tergolong mahal. Per kelas, selisih Rp 10 ribu,’’ imbuhnya.
Dia menceritakan, sebelum menutup lapak, para pedagang daging sapi di Bojonegoro sempat diserbu pedagang daging sapi dari luar daerah. Lantas dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
‘’Ada yang dari Surabaya, Madura, bahkan dari Jakarta. Biasanya, mereka jual kembali dengan harga sekitar Rp 200 ribu per kg,’’ ungkapnya.
Hasan berharap, kelangkaan daging sapi di Bojonegoro segera teratasi. Sehingga, harganya kembali stabil. Dan, dia dan sejawatnya bisa kembali berjualan.
‘’Kami berharap kondisi sulit mendapatkan daging sapi ini segera teratasi, supaya aktivitas pedagang bisa kembali normal,” pungkasnya.
Terpisah, Ketua Paguyuban Jagal Sapi Bojonegoro Agus Setyono membenarkan sapi potong di Bojonegoro sedang langka. Dia dan sejawatnya pun menutup rumah jagalnya.
Agus sapaannya menegaskan penghentian aktivitas jagal bukan merupakan aksi demonstrasi. Melainkan, upaya meminta perhatian Pemkab Bojonegoro terhadap kondisi terkini.
“Kami tidak demo. Tapi, ingin meminta perhatian dan solusi,” tegasnya saat diwawancara di TPS Pedagang Pasar Kota Bojonegoro, Kamis (20/8/2026) kemarin.
Agus sapaannya menjelaskan, kelangkaan sapi potong di Bojonegoro disebabkan minimnya ketersediaan sapi di tingkat peternak pasca-Iduladha 2026.
Setelah Iduladha itu, peternak butuh waktu untuk kembali mengisi kandang dengan sapi bakalan. Stok sapi telah mencapai usia dan bobot siap potong, menjadi terbatas.
Kondisi tersebut, kata Agus, turut diperparah dengan banyaknya pembeli sapi potong dari luar daerah yang datang ke Bojonegoro untuk mendapatkan sapi potong.
‘’Harga sapi potong di Bojonegoro dinilai lebih murah dibandingkan sejumlah daerah lain. Sehingga, menarik minat pembeli dari luar daerah,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Agus belum dapat memastikan sampai kapan kelangkaan sapi siap potong di Bojonegoro akan berlangsung. Butuh intervensi Pemkab Bojonegoro. (sab/kza)



