Dari Perut Bumi untuk Masa Depan, Merawat Warisan Geologi di Kedung Lantung

17/10/2026
WARISAN GEOLOGI: Peluncuran geosiste Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. Bertema Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya.

BOJONEGORORAYA – Bukan sekadar destinasi wisata anyar, Geosite Kedung Lantung di Bojonegoro menjadi bukti bagaimana industri ekstraktif, akademisi, dan warga bersinergi merawat jejak purba bumi. Menjadikannya sumber ilmu sekaligus penopang ekonomi hijau masyarakat lokal.

Dari atas menara pantau setinggi empat lantai di kawasan Desa Sugihwaras, panorama Bojonegoro terhampar megah. Angin perbukitan berhembus lembut menyapu hijau ranting hutan rimba.

Namun, daya pikat sejati kawasan ini tidak hanya terletak pada lanskap eloknya, melainkan pada rahasia tua tersimpan ribuan tahun di dalam perut buminya: sistem petroleum gas purba yang langka.

Jumat (16/10/2026), Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama SKK Migas, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), serta komunitas Bojonegoro History resmi meluncurkan destinasi wisata edukasi Geosite Kedung Lantung.

Peluncuran lewat perhelatan Festival Lantung 2026. Mengusung tema Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya, peluncuran ini menandai babak baru pengelolaan alam Bojonegoro.

Kehadiran Kedung Lantung menawarkan perspektif baru tentang pariwisata. Ini bukan tentang mass tourism. Wisata masal yang kerap meninggalkan sampah dan merusak lingkungan, melainkan geowisata berkelanjutan.

Bagi masyarakat Bojonegoro, dampak manfaat dari program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ini terasa melintas batas. Bagi pelajar dan generasi muda, Geosite Kedung Lantung menjelma menjadi laboratorium alam raksasa.

Lewat peraga edukasi dan papan informasi interaktif, fenomena geologi rumit kini bisa dipelajari dengan mudah dan menyenangkan.

Bagi warga sekitar, konservasi ini membuka keran ekonomi baru. Keterlibatan komunitas lokal dalam mengelola geosite, menyajikan kuliner khas, hingga menjadi pemandu wisata (storyteller) sejarah lokal.

Menciptakan mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan—sebuah jaminan bahwa denyut ekonomi warga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hasil bumi yang bisa habis.

Baca Juga :  Cantika Wahono Apresiasi Arisan Sampah di Desa Klepek, jadi Inspirasi bagi Desa Lain

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Bojonegoro Machmuddin, menegaskan bahwa nilai geosite tak sekadar diukur dari keunikan batuannya. Melainkan pada ikhtiar warga merawat pengetahuan di dalamnya.

Fenomena sistem petroleum gas di Kedung Lantung menjadikannya laboratorium geologi yang unik di Indonesia.

“Potensi ini adalah modal penting Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp). Kita ingin dunia tahu bahwa Bojonegoro bukan hanya penghasil energi, tetapi juga garda depan konservasi geologi,” ujar Machmuddin.

Kehadiran Kedung Lantung juga membongkar stigma lama tentang industri hulu minyak dan gas bumi.

Kolaborasi strategis antara EMCL dan SKK Migas bersama perguruan tinggi dan komunitas membuktikan bahwa keberadaan industri ekstraktif mampu berjalan berdampingan dengan pemajuan budaya dan kelestarian alam.

Rifqi Romadhon perwakilan EMCL, mengungkapkan bahwa riset dan sains menjadi fondasi utama pengembangan kawasan ini.

Akademisi Unigoro membawa pendekatan ilmiah, komunitas Bojonegoro History menggali narasi sejarah lokal. Sementara warga setempat menjadi benteng utamanya.

Analis Senior SKK Migas Jabanusa, Erwin Andriyanto, menambahkan bahwa kontribusi industri migas harus memberi dampak melampaui angka-angka produksi barel minyak.

“Aktivitas industri dan kehidupan sosial masyarakat berada dalam satu lanskap yang sama. Kebermanfaatan itu harus menyentuh warisan geologi dan kesejahteraan jangka panjang warga,” tutur Erwin.

Camat Sugihwaras Heri Purwanto, berharap denyut di Kedung Lantung tidak meredup seusai perayaan festival. Kunci keberhasilan geosite ini ada pada keberlanjutan aktivitas warga.

Kini, dari atas menara Kedung Lantung, Bojonegoro tidak hanya menatap keindahan alamnya. Tetapi, juga merajut masa depan: ketika warisan bumi dijaga, sains dipelajari, dan masyarakatnya sejahtera bersama. (*)