Oleh: Sukir
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bojonegoro
——————-
SEMERBAK inspirasi Raden Ajeng Kartini begitu dirasakan perawat perempuan di Bojonegoro. Inspirasi Kartini, perawat, pengabdian, dan kesejahteraan–menjadi satu kesatuan tidak terpisahkan dari sosok garda kesehatan.
Jumlah total perawat di Bojonegoro ada sebanyak 2.500 orang, separonya merupakan perempuan. Data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bojonegoro, jumlah perawat perempuan sekitar 1.300 orang.
Perawat perempuan cukup banyak. Menyebar. Mulai bertugas di rumah sakit umum daerah (RSUD), rumah sakit swasta, puskesmas, klinik, mendampingi dokter praktik, hingga mendampingi warga usia lanjut atau lansia.
Bojonegoro memiliki jumlah penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa. Mempunyai empat RSUD, 35 puskesmas, satu RS Bhayangkara, serta lima rumah sakit (RS) swasta. Sementara, perawat di Bojonegoro sebanyak 2.500 jiwa. Tidak sebanding.
Mengingat, jumlah perawat hanya 2.500 orang saja. Siang malam menemani pasien dan warga usia lanjut. Kesejahteraan, pengabdian, dan inspirasi perawat perempuan harus menjadi isu strategis untuk diperjuangkan.
Kartini telah lama menjadi simbol perjuangan emansipasi perempuan Indonesia. Gagasan-gagasannya tentang kesetaraan, pendidikan, dan kepedulian sosial tidak hanya relevan di masanya.
Tetapi, terus menginspirasi hingga kini–terutama bagi para perempuan yang memilih jalan pengabdian sebagai perawat. Profesi perawat, khususnya perawat perempuan, melekat makna sangat dalam. Mereka penjaga harapan.
Di garis depan pelayanan, perawat yang kali pertama menyapa pasien. Menyentuh luka. Baik luka fisik maupun luka emosional. Mereka memberikan ketenangan di tengah kecemasan.
Dalam setiap senyuman, sentuhan, dan perhatian mereka, tersimpan nilai-nilai luhur yang diperjuangkan Kartini: kasih sayang, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama.
Peran perawat perempuan semakin terasa penting dalam merawat pasien usia lanjut—kakek dan nenek–yang sering kali datang dengan rasa cemas dan rindu akan sentuhan kekeluargaan.
Dalam momen-momen seperti itu, kehadiran seorang perawat tidak sekadar memberi perawatan medis. Tapi, juga menjadi pendamping jiwa, penguat semangat, pelipur lara.
Kartini mengajarkan kita bahwa perempuan mampu menjadi cahaya bagi sekitarnya. Dan, para perawat perempuan hari ini membuktikan, semangat itu hidup dalam setiap langkah di ruang rawat.
Mereka adalah Kartini masa kini, yang terus mengabdi dengan hati dan merawat dengan cinta. Sosok Kartini layak menjadi inspirasi besar bagi perempuan Indonesia, termasuk para perawat perempuan.
Kartini mengajarkan bahwa perempuan harus berdaya—berpendidikan, berpikiran terbuka, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Perawat perempuan wujud nyata dari nilai-nilai itu.
Mereka bukan hanya tenaga profesional terampil. Tetapi, sosok yang tulus mengabdi dan peduli terhadap sesama. Lebih dari itu, banyak perawat tetap menjalankan peran sebagai ibu dan istri di rumah.
Mereka merawat pasien dengan penuh kasih. Di saat yang sama, mereka juga mendidik anak-anak serta setia mendampingi suami. Peran ganda di pundak perawat perempuan.
Ini bukan beban. Tapi, bentuk nyata dari perempuan tangguh yang mengelola cinta dan pengabdian. Kartini tidak hanya menginspirasi perempuan cerdas. Tetapi, juga peduli dan berkontribusi.
Perawat perempuan membuktikan, kaum hawa bukan hanya “di belakang layar”. Mengasuh anak atau pendamping suami. Tapi, mampu berdiri di garis depan. Menopang kesehatan masyarakat.
Mereka adalah Kartini masa kini: merawat, mendidik, dan mengabdi—bukan karena mereka lemah, tetapi justru mereka kuat. Berdaya. Punya ketebalan kasih dan cinta untuk sesama.
Kesejahteraan Perawat Masih Belum Maksimal
Hanya, terkadang kesejahteraan perawat tersisihkan. Masih banyak perawat mendapatkan gaji tidak standar. Ada perawat mendapat gaji di bawah upah minimum kabupaten (UMK).
Kepedulian belum merata. Masih ada gap antara perawat berstatus ASN dan non-ASN. Keberadaan PPNI Bojonegoro bisa menjadi wadah. Persaudaraan. Kekeluargaan. Tukar pikiran dan saling bergagasan.
Yoyok Bekti Prasetyo, guru besar bidang Keperawatan Komunitas FIK Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pernah menulis opini berjudul Menjadi Perawat Profesional di Indonesia.
Dalam opini itu, Yoyok Benlkti Prasetyo mengemukakan, kesejahteraan perawat Indonesia memang masih perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemilik jasa layanan kesehatan.
Antara perawat berlabel pelat merah (ASN) dan non-ASN, masih ada gap luar biasa. Masih banyak perawat yang diupah di bawah UMR. Profesionalisme dan kesejahteraan dipertaruhkan.
Sosok perawat, terutama perempuan juga berposisi gelandang serang. Bisa memberikan home care atau perawatan di rumah. Mendatangi pasien yang tidak bisa ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Perawat begitu tabah. Fenomena antrean pasien membeludak menjadi jamuan sehari-hari. Masih banyak pasien antre di rumah sakit. Butuh kebersamaan memangkas antrean panjang.
Pelayanan kesehatan harus ditingkatkan. Mengurai benang kusut antrean pasien panjang. Lelah. Sampai ada pasien menunggu di UGD selama dua hari. Perawat yang menemani. Mendampingi.
Petikan tulisan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang masih relevan bagi perawat. Bahwa: ‘’Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang padamu.’’ (*/kza)


