Oleh: Hidayat Rahman
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban
——————-
KAMI merasakan denyut siswa-siswi bangun Subuh. Usai salat, para pelajar tersebut tidak lagi tidur atau rebahan. Siswa-siswi SMA dan SMK di Bojonegoro dan Tuban tersebut memilih bersiap untuk berangkat sekolah.
Membuka tas. Menata buku-buku pelajaran. Me-review sekilas materi-materi pelajaran. Menyiapkan seragam. Hingga mengisi tumbler untuk bekal air minum.
Kisah-kisah tersebut sering kali datang dari berbagai guru dan siswa sendiri. Hati pun terasa senang. Bangga. Akhirnya menjadi siswa semangat bersekolah. Sekolah bahagia. Tidak ada kamus terlambat masuk sekolah.
Kisah tersebut tentu menjadi buah tangga atas semangat dan bahagia bersekolah. Hingga kabar bahagia datang Rabu (19/3/25) pagi ini, sebanyak 600 siswa SMA dan SMK di Bojonegoro masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Masuk ke kampus negeri melalui seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP).
Begitu pun di Tuban, ada 472 siswa-siswi SMA dan SMK yang lolos SNBP. Hingga Rabu (19/3/25) siang, total sementara ada 1.072 siswa-siswi SMA dan SMK di Bojonegoro dan Tuban, yang tercatat namanya masuk di PTN. Tentu, kampus pilihan dan idaman sebagai tangga masa depan.
Berdasar data terus bergulir, SMAN 1 Sumberejo Bojonegoro, terbanyak meloloskan siswa menembus SNBP. Yakni, sebanyak 81 siswa. Bagi, SMAN Sumberrejo ini, kelihatannya hat-trick atau tiga kali beruntun terbanyak meloloskan SNBP di Bumi Rajekwesi-sebutan Bojonegoro.
Jenjang kejuruan, SMKN 2 Bojonegoro teratas meloloskan masuk PTN dengan 18 siswa. Ini menunjukkan bahwa siswa kejuruan pun memiliki obor untuk bisa berkuliah di kampus negeri. Memiliki daya juang untuk berkuliah di kampus negeri untuk masa depan.
Fenomena SMAN 1 Sumberrejo beruntun terbanyak meloloskan siswa menembus kampus negeri ini menjadi bukti, pendidikan di Bojonegoro merata. Siswa di wilayah pinggiran atau non-perkotaan Bojonegoro memiliki semangat menembus kuliah di kampus-kampus negeri.
Berarti SMA-SMA di Bojonegoro, sudah sejajar. Mutunya merata. Kualitasnya sepadan. Tidak ada disparitas. Sekaligus ini menunjukkan bahwa pendidikan di Bojonegoro itu semua memiliki kualitas sama. Tidak ada beda sekolah di perkotaan dan non-perkotaan.
Di wilayah Tuban, SMAN 3 Tuban teratas meloloskan PTN dengan 57 siswa. SMKN 1 Tuban juga meloloskan sebanyak 65 siswa. Data-data ini menunjukkan bahwa siswa-siswi semakin banyak yang antusias untuk meneruskan kuliah. Menatap masa depan.
Kebanggaan saya bertambah. Tidak hanya SMA dan SMK negeri, ternyata di Bojonegoro ada juga SMA swasta yang bergerak juga meloloskan siswanya dalam SNBP. Sekolah dan siswa berjuang masuk kampus negeri. Misalnya, SMA Plus Ar-Rahmad Bojonegoro, ada 15 siswanya yang lolos SNBP.
Bahkan, enam siswa di antaranya menembus kampus Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Ada yang lolos jurusan pendidikan dokter, teknik kimia, teknik industri, hingga teknik sipil dan hukum.
27.994 Siswa di Jawa Timur Lolos SNBP, Tertinggi di Nusantara
Kabar membanggakan juga datang dari dunia pendidikan di Jawa Timur. Bahwa, Jatim menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak siswa-siswi yang lolos dalam SNBP 2025 ini. Jumlahnya sebanyak 27.994 siswa. Mereka memastikan diterima di kampus-kampus negeri.
Capaian ini menunjukkan bahwa Provinsi Jatim enam kali berturut-turut terbanyak meloloskan siswanya ke PTN melalui SNBP. Disusul Provinsi Jawa Barat dengan 18.437 siswa yang lolos SNBP 2025 ini. Berlanjut Provinis Jawa Tengah dengan 14.676 siswa lolos SNBP.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pun ikut bangga atas peran para siswa yang bersemangat menembus kuliah. Gubernur Jatim tersebut bangga karena 27.994 siswa tersebut lolos masuk kampus negeri atau PTN, dengan jalur tanpa tes.
Tidak mudah mempertahankan capaian ini. Misalnya, guru dan kepala sekolah (Kasek) SMA dan SMK di Bojonegoro dan Tuban telah menyiapkan strategi untuk meloloskan siswa menembus PTN.
Setiap SMA dan SMK di Bojonegoro dan Tuban, telah memiliki strategi dan tim khusus menyiapkan SNBP tersebut. Terutama guru BK. Memetakan satu per satu siswa dengan prestasi hasil belajarnya. Membuka ruang diskusi. Menebar data jurusan-jurusan kampus negeri.
Pemetaan berdasar data tersebut, tentu menjadi tahapan penting. Sehingga bisa memetakan setiap siswa tersebut, layak masuk di jurusan yang dituju. Golnya tentu harus menembus SNBP. Kelak, kuliah di kampus negeri.
Siswa yang lolos SNBP tidak perlu jumawa. Justru ini menjadi start awal untuk persiapan memasuki kampus negeri. Begitu pun, yang belum lolos, masih ada peluang masuk ke kampus negeri melalui jalur seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT).
Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Bojonegoro dan Tuban pun ikut bangga atas capaian Jatim kembali meraih scudetto (meminjam istilah Liga Italia sebagai jawara) sebagai provinsi terbanyak meloloskan siswa menembus PTN melalui jalur tanpa tes.
Cabdisdik Jatim wilayah Bojonegoro dan Tuban turut serta atau bahu membahu untuk menjaga ikhtiar capaian ini. Cabdisdik tentu berterima kasih kepada semua guru, tenaga pendidik, hingga siswa atas capaian ini.
Cabdisdik juga matur suwun kepada semua orang tua, yang terus memberi semangat agar anak-anak dari Bojonegoro dan Tuban untuk bahagia. Sekolah bahagia. Hingga akhirnya lolos SNBP menembus kampus negeri.
Sekolah Bahagia
Andrea Hirata penulis buku Laskar Pelangi mengemukakan, bahwa pendidikan bisa menjadi alat perubahan sosial. Lewat buku Laskar Pelangi memberi kisah bagaimana 10 anak di Belitung yang semangat juang bersekolah dengan ruang dan sarana terbatas.
Ahmad Fuadi penulis buku Negeri 5 Menara juga menggambarkan bagaimana sosok Alif yang semangat mengenyam pendidikan. Meski awalnya merasa terpaksa masuk ke pesantren karena keinginan orang tua.
Berjalannya waktu, Alif menemukan karakter saat di pesantren. Man jadda wa jadda, berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Sekolah bahagia seakan menjadi teladan. Bagaimana mengedukasi anak-anak agar sekolah bahagia. Sekolah yang tidak tertekan. Sekolah yang tidak membosankan.
Dengan sekolah bahagia, tentu siswa menjadi bersemangat.
Sekolah bahagia ini menjadi ikatan atau tali agar siswa selalu serius belajar. Sejak subuh bersiap. Berangkat pagi dan pulang sore. Merasa tak nyaman meski sehari saja tidak bisa masuk sekolah.
Siswa lolos SNBP ini mengajarkan tentang kedisiplinan dan keteladanan. Disiplin dan serius bersekolah kelak menjadi buah tangga memasuki ruang kampus negeri. Dengan berkuliah, kelak menjadi buah tangga kesuksesan.
Lembaran masa depan untuk generasi mendatang, harus dimulai dari tahap saat ini. Yakni, sejak sekolah. Sejak mengenyam pendidikan di bangku meja sekolah dasar. Tidak ujug-ujug atau tiba-tiba. Ada proses panjang.
Ki Hadjar Dewantara mengemukakan: “Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir.” (*/kza)


