Sekolah Swasta Kian Banyak, Tantangan SMPN Memenuhi Pagu

Ilustrasi AI Gemini/ Bojonegoro Raya.

BOJONEGORORAYA – Anshori mulai menyiapkan sekolah putrinya yang akan menginjak SMP atau MTs. Melihat ragam sekolah. Memilah. Menimbang SMP atau MTs negeri di Bojonegoro, atau justru SMP swasta terpadu.

Berhari-hari memilah, ayah tinggal di Kecamatan Bojonegoro Kota tersebut akhirnya memilih SMP swasta. Sekolah terpadu sekaligus pondok pesantren (ponpes). Bahkan, memilih SMP terpadu di Kabupaten Tuban.

‘’Iya memilih SMP swasta berbasis pondok pesantren. Terpadu. Ingin membekali anak pada pelajaran agama,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya, Selasa (12/5/2026).

Potret dialami Anshori ini tentu menjadi dinamika tersendiri dalam sistem penerimaan siswa baru. Ternyata, ada orang tua memilih putra-putrinya sekolah di SMP swasta, terpadu, berbasis ponpes. Jumlah sekolah swasta setingkat SMP/MTs semakin bertambah.

Fenomena ini tentu menjadi tantangan keterpenuhan pagu pada pendaftaran SPMB tahun ini. Inovasi dan prestasi sekolah menjadi keharusan jika ingin tarik minat siswa mendaftar. Terutama SMP di kecamatan pinggiran atau jauh dari pusat perkotaan.

Kepala SMPN 1 Ngraho Sucipto mengatakan, berharap pagu terisi penuh pada SPMB tahun ini. Berdasar data, tahap pertama jalur afirmasi terpenuhi. Tetapi,  jalur prestasi dan mutasi masih ada yang bangku kosong.

Pendaftaran jalur domisili atau zonasi masih ada waktu hari ini dan Rabu (13/5/2026). Pendaftaran masih berlangsung.

‘’Untuk jalur domisili (zonasi) yang mulai dibuka Senin (11/5/2026) baru tercatat 56 anak yang daftar dari total 130 pagu,” ungkapnya Senin (11/5/2026).

Sekolah Harus Punya Karakteristik Inovasi

Sucipto berharap pagu bisa terisi penuh pada jalur domisili. Bahkan pihak sekolah berharap pendaftar melebihi pagu untuk mengisi kekosongan jalur prestasi dan mutasi.

‘’Ketika nanti jalur domisili melebihi 130 pendaftar, tentu akan digabung dengan jalur mutasi dan prestasi yang belum terisi penuh,’’ katanya.

Baca Juga :  73 Siswa SMAN Sumberrejo Tembus PTN, Rekor Terbanyak Lolos SNBP se Bojonegoro

Menurut Sucipto, semakin merebaknya sekolah setara SMP di wilayah Ngraho menjadi tantangan untuk memenuhi pagu. Bahkan, orang tua dengan ekonomi menengah ke atas lebih memilih sekolah anak di luar kota/kabupaten.

‘’Saat ini ada lembaga setingkat SMP di 12 desa wilayah Ngraho. Semoga bisa terpenuhi pagunya,” harapnya.

Selain itu, lulusan SD di Kecamatan Ngraho tahun ini semakin berkurang. SMPN Ngraho, menurut Sucipto, mencatat dari jumlah sekitar 500 siswa tahun sebelumnya, menjadi 345 siswa lulus SDN tahun ini.

“Saat ini juga banyak madrasah ibtidaiyah berdiri,” tambahnya.

Menurutnya, jika ingin menarik minat siswa mendaftar di SMPN, jalan keluar yakni sekolah harus menelurkan inovasi dan kreativitas.

‘’Kami selalu berikan inovasi dan prestasi di beberapa bidang untuk menarik minat siswa mendaftar,” ungkap dia.

Orang Tua Menimbang Memilih Sekolah

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Kedewan Wahyudiono mengatakan, pada SPMB jalur domisili tercatat 32 siswa per Senin (11/5/2026) siang. Ia berharap hingga akhir pendaftaran pagu bisa terpenuhi.

Ada potensi pendftar dari lulusan SDN Wonocolo I, dan II. Serta, SDN I dan III Kedewan. Termasuk sebagian SDN Desa Beji.

‘’Kalau tahun ini lulusan dari 11 SDN di kedewan totalnya ada 1111 siswa,” paparnya.

Menurut dia, orang tua dengan ekonomi menengah ke atas lebih menyekolahkan anak ke sekolah swasta. Tentu, untuk memikat pendaftar, SMP harus memiliki inovasi dan karakteristik.

Meski SMPN 1 Kedewan jadi satu-satunya di wilayah kedewan, jarak tempuh antardesa jadi pertimbangan orang tua.

‘’Ada pertimbangan lulusan SDN Kawengan pilih sekolah ke mari, karena jarak jauh,” tambahnya. (man/kza)

error: Content is protected !!