BOJONEGORORAYA – Kring, kring, kring…!!! Bel pulang sekolah berbunyi lantang. Pelajar berhamburan keluar gerbang di bawah sengatan terik matahari.
Cuaca Bojonegoro akhir-akhir ini cukup panas. Panas terik menyengat kulit. Siswa di Bojonegoro harus menghadapi panas saat di jam sekolah.
Nismara, siswi SMPN 5 Bojonegoro mengeluarkan tumbler besar dari ranselnya. Tumbler miliknya sudah habis airnya. Ia bersama tiga temannya antre membeli es teh di depan sekolah.
Meneguk es teh. Dingin. Melepas dahaga saat cuaca panas Bojonegoro menyentuh 38 derajat Celsius. Untungnya di sepanjang trotoar ada pohon-pohon untuk berteduh.
Mira salah satu potret siswa menghadapi panas saat jam sekolah. Berselimut cuaca panas saat di ruang kelas. Hampir enam jam di sekolah. Saat jam sekolah, panas terik cuaca menyengat.
“Setiap pulang sekolah panas sekali. Haus. Ini beli es teh untuk isi ulang tumbler,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (21/10/2026).
Mara sapaannya mengaku, bekal minuman merupakan suatu keharusan saat cuaca panas seperti saat ini. Saban hari harus membawa tumbler saat berangkat sekolah. Tumbler dengan isi air putih 2 liter. Botol tumbler jadi amunisi untuk melepas dahaga. Menghindari dehidrasi.
“Setiap kali haus saya minum di kelas, kalau pulang masih beli es,” ungkapnya mengantisipasi cuaca panas.
Siswa kelas 7 SMP itu mengaku, cuaca panas juga berpengaruh pada suasana ruang kelas. Meski sudah ada kipas angin, rasa gerah masih terasa.
“Ongkep, sumuk,” keluhnya dengan memakai seragam putih.

Hindari Dehidrasi, Siswa Sehari Minimal Minum Air 2.000 Mililiter
Berdasar laman alodokter, kebutuhan air untuk siswa berusia 10 tahun ke atas sekitar 1.900-2.400 mililter (ml) atau lebih. Kebutuhan air itu untuk per hari.
Sementara, siswa yang membawa tumbler rerata dengan volume air sekitar 600 ml. Tentu butuh sekitar 4 kali tumbler tersebut untuk mencukupi kebutuhan air untuk tumbuh menghindari dehidrasi.
Sementara siswa yang tidak membawa tumbler, harus membeli air botol kemasan. Seperti Roni, rela menyisihkan uang saku untuk membeli air mineral kemasan. Upaya menghadapi panas saat jam sekolah.
Roni mengaku tidak cukup satu botol saat menghadapi panas saat jam sekolah. Ia harus membeli dua botol air minum kemasan di kantin sekolah. Sebagai persediaan saat haus melanda tenggorokan.
‘’Tersisa sedikit satu botol, sudah saya minum tadi di kelas,” ucap siswa kelas 9 tersebut.
Menurut Roni, selalu menyiapkan air minum di sekolah. Cuaca panas saat ini mengharuskan dirinya mengonsumsi air putih lebih banyak. Agar kondisi tubuh tidak kekurangan cairan.
“Panas seperti saat ini sering haus, minum airnya lebih banyak,” ujarnya.
Siswa-siswi di sekolah lain pun juga mengalami hal yang sama. Cuaca panas mengharuskan membeli air kemasan atau es selepas pulang sekolah.
Tidak Bawa Tumbler, Pilih Beli Air Kemasan
Terpisah, Marcel, siswa SMPN 2 Bojonegoro mengaku tidak membawa tumbler saat bersekolah. Namun, ia membeli air mineral di kantin sekolah.
Begitu pula saat pulang sekolah, beli minuman di pedagang pinggir jalan sambil menunggu jemputan orang tua.
Menurut Marcel, cuaca panas seperti saat ini haus sering menghampiri tenggorokannya. Namun, di sekolahnya terik matahari tidak begitu terasa. Sebab, ada pepohonan di antara ruang kelas. Bisa untuk berteduh.
“Kalau di sekolah sih tidak panas karena ada pohonnya,” ungkapnya.
Rohman, guru pendidikan jasmani dan olahraga membeberkan, saat cuaca panas seperti saat ini bisa berdampak pada kekurangan cairan tubuh. Dehidrasi.
Kondisi tersebut perlu strategi. Dengan cara membawa bekal air minum di sekolah. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
Rohman menganjurkan tidak perbanyak minum es. Sebab, minum es hanya menghilangkan dahaga sesaat. Lebih bagus konsumsi air putih. Agar cairan tubuh kembali terisi.
‘’Anak-anak saya anjurkan untuk minum air putih dibandingkan minum es,” tutur guru asal Kecamatan Temayang tersebut.
Rohman mengatakan, sejak cuaca panas ini, ada penyesuaian kegiatan jam olahraga di luar ruangan disesuaikan. Sebab, pukul 08.30 atau pukul 09.00 sudah terasa panas. Cahaya matahari sudah terasa menyengat.
“Olahraga lebih awal. Jam setengah sembilan sudah panas sekali,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro Anwar Mukhtadlo belum memberikan tanggapan saat dihubungi sambungan seluler Bojonegoro Raya pada Rabu (21/06/2026).

Suhu Panas di Bojonegoro Urutan Atas se Jatim
Cuaca panas terik ini sudah melanda Bojonegoro selama kemarau. Terutama satu dua bulan ini.
Berdasar laman Instagram bmkg.iklimjatim selama seminggu ini suhu panas di Bojonegoro menduduki urutan lima besar di Jawa Timur. Selalu menduduki urutan atas.
Misalnya, pada Rabu (21/10/2026) Bojonegoro menduduki urutan kedua se Jatim dengan suhu mencapai 38,3 derajat Celsius. Selasa (20/10/2026) suhu mencapai 37,9 derajat Celsius.
Pada Senin (19/10/2026) suhu mencapai 38,4 derajat Celsius. Serta Minggu (18/10/2026) suhu mencapai 37,4 derajat Celsius. Berlanjut pada Sabtu (17/10/2026) lagi-lagi suhu Bojonegoro mencapai 37,9 derajat Celsius.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, suhu cuaca panas ekstrem menyentuh 40-41 derajat Celsius pada satu minggu kebelakang.
Terutama mulai pukul 11.00 hingga pukul 13.30 itu menjadi puncak cuaca terik. Jam tersebut menjadi waktu belajar di sekolah.
“Dari catatan kami selama satu minggu lalu suhu mencapai 40 hingga 41 derajat Celsius,” beber Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi. (man/kza)

