Sumur di Tepi Bengawan Mengering, Warga Desa Sarirejo, Ngangsu Air Pakai Galon

KEKERINGAN: Masduki bersiap menderek 20 galon air untuk kebutuhan air baku keluarga. Sumur di rumahnya sudah mengering sebulan lalu. Desa Sarirejo, Bojonegoro, kawasan tepi Sungai Bengawan. (Foto: Lukman Hakim / Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Sudah satu bulan, Masduki ngangsu (menimba/ mengangkat dengan bak) air untuk kebutuhan sehari-hari. Menggunakan gledekan kayu.

Hilir mudik menderek 20 galon penuh air tanpa bantuan motor. Mendorong manual. Pakai otot. Punggungnya sudah terbiasa. Demi ketercukupan air keluarga.

Sejak kemarau melanda, Masduki warga Desa Sarirejo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, ini mengalami krisis air bersih. Rumahnya tidak jauh dari Sungai Bengawan, tidak jaminan tak mengalami kekeringan. Bengawan mengering.

‘’Ngangsu banyu. Untuk mandi, mencuci, minum ternak sapi, dan kebutuhan lainnya,” tutur Masduki saat wawancara dengan Bojonegoro Raya usai mengambil air di sumur sibel Desa Sarirejo.

Meski rumahnya tidak berjarak jauh dengan Sungai Bengawan, sumur di rumahnya sudah tidak mengeluarkan air. Mampet. Bengawan mengering.

Sehingga, ngangsu banyu sudah biasa ia lakukan. Bahkan, sejak tahun sebelumnya, saat musim kemarau panjang datang.

“Iya dekat dengan sungai (Bengawan), tapi sumur sudah tidak bisa mengeluarkan air,” ujarnya.

Masduki mengatakan, perlu menggali sumur lebih dalam agar sumber air bisa keluar. Mesin pompa air harus menyentuh kedalaman sekitar 25 meter sampai 30 meter.

Namun, lagi-lagi masalah biaya. Kondisi ini, membuat Masduki mengurungkan niatnya. Terpaksa, ngangsu banyu.

‘’Butuh dana Rp 7,5 juta untuk bisa keluar air. Sumur yang saat ini masih keluar itu sumur sibel,” ungkapnya.

ANGKAT AIR: Masduki warga Desa Sarirejo, Bojonegoro, mengambil air dengan galon dan mendorongnya. Terjadi sejak Bengawan Mengering. (Foto: Lukman Hakim / Bojonegoro Raya).

Warga Tepi Bengawan, Tetap Kekeringan

Tidak hanya, Masduki saja yang mengalaminya. Beberapa tetangga dengan kedalaman sumur 10 meter juga tidak keluar air.

Untungnya, ada sumur sibel yang bermanfaat bagi warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Terutama sejak Bengawan mengering.

Menurut Masduki, belum ada bantuan air yang datang dari pemerintah kabupaten. Ia berharap sumur asat (kering) saat musim kemarau itu bisa berakhir. Agar tidak lagi ngangsu air.

Baca Juga :  Mampir Kantor Kecamatan Bubulan, Disuguhi Botok hingga Walang Goreng

Kepala Desa (Kades) Sarirejo Arif Rohman membenarkan jika sebagian sumur warganya yang berada di bantaran Sungai Bengawan sudah mengering.

Tidak keluar air. Kondisi tersebut sudah terjadi setiap tahun. Terlebih, kemarau panjang tahun ini.

‘’Tahun tahun sebelumnya juga seperti itu, tidak keluar air meski dekat bantaran sungai,” ujarnya Senin (26/10/2026).

Arif mengaku pernah mengalami sumur rumahnya asat. Namun, akhirnya mempedalam pompa sumur miliknya.

Sementara, warga yang sumurnya dangkal, memanfaatkan air dari sumur sibel milik warga lainnya. Bantu-membantu air.

Adapun, permukiman warga Desa Sarirejo, menurut Arif, belum tersambung dengan jaringan PDAM. Juga tidak mengajukan bantuan air bersih dari pemkab.

Alasannya, warga masih bisa memenuhi kebutuhan air baku dari sumur warga lainnya. Meski harus ngangsu, menurut Kades, sumur-sumur warga yang asat bakal terisi saat irigasi areal pertanian berlangsung.

‘’Keluar lagi sumbernya seiring tanah persawahan sudah aktif lagi (irigasi),” klaimnya.

Tidak hanya Desa Sarirejo, kawasan lain tepi Bengawan mengering. Misalnya, Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota, juga alami kekeringan. Sumur-sumur permukiman warga mengering.

Sumber air mulai mengering. Pihak kelurahan sudah melaporkan ke BPPB Bojonegoro. Pertengahan Oktober lalu, sejumlah pihak mengirim air bersih ke kelurahan Ledok Kulon. Kawasan di tepi aliran air, justru kekeringan.

Mendatang BPBD Mitigasi Kawasan Tepi Bengawan

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Bojonegoro Heru Wicaksi mengungkapkan, kejadian sumur warga dekat Sungai Bengawan mengering baru kali ini terjadi.

Sehingga, belum ada mitigasi. Intervensi sementara, pemerintah desa (pemdes) bisa mengajukan bantuan air.

“Melalui pemdes bisa mengajukan bantuan air bersih kepada kami (BPBD), seperti di Kelurahan Ledok (kawasan tepi Bengawan),” ungkapnya.

Selain Ledok Kulon, Heru Wicaksi mengaku juga menerima laporan di Desa Rendeng, Kecamatan Malo.

Baca Juga :  Bengawan Bojonegoro Asat, Air Tersedak di Bendung Gerak

Meski dekat dengan Sungai Bengawan, ternyata sumur warga tidak keluar air. Kejadian seperti ini bakal jadi bekal untuk mitigasi bencana kekeringan mendatang. (man/kza)