BOJONEGORORAYA – Maryam tersenyum melihat pohon anggurnya semakin tumbuh. Berbuah. Bergerombol. Menggantung di samping teras rumah. Menyenangkan.
Ada dua pohon anggur ditanam ibu tinggal di Gang Harmoni Jalan Letda Suraji, Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro, tersebut. Satu pohon di belakang persis bengkel. Satunya di teras lorong di antara dua rumah.
Bertanam anggur di lahan sempit. Memanfaatkan lahan dari lorong di antara dua rumah. Rumah Maryam tidak ada pekarangan. Lahan depan rumah sebagai bengkel membuka jasa mesin bubut. Mesin-mesin besar dengan besi-besi besar di bengkel tersebut.
Uniknya, ada satu pohon tumbuh dan berbuah di teras bengkel. Satu talang (atap seng) dibuka dan menjadi tempat daun-daun pohon anggur yang menjalar. ‘’Sudah dua tahun menanam pohon anggur ini. Tumbuh dan berbuah. Enak rasanya,’’ tutur Maryam sambil melihat buah-buah anggur bergerombol menggantung di ranting, Sabtu (26/9/2026).

Konsep Urban Farming di Tengah Perkotaan
Konsep bertanam di lahan sempit oleh Maryam ini layak ditiru. Serta, mampu memberikan ide bahwa lahan sempit justru tumbuh pohon anggur berbuah. Segar.
Urban viticulture istilah memastikan bahwa praktik bertanam atau budidaya pohon di kawasan perkotaan yang padat penduduk. Memanfaatkan ruang. Serta, upaya mendukung pertanian perkotaan. Bagian urban farming di tengah pemukiman padat penduduk.
Maryam menceritakan, cukup menyenangkan saat melihat pohon anggur yang berbuah. Tinggal memandang dari bengkel dan teras rumah, sudah tampak daun-daun hijau menjalar. Bekerja sambil bertanam pohon.
‘’Awalnya membeli bibit. Merawatnya. Hanya memakai pupuk. Ternyata bisa berbuah di lahan sempit,’’ tutur Maryam dengan ceria.
Satu pohon di tanam di lorong di antara dua rumah. Kebetulan sampingnya rumah saudaranya. Sehingga tidak mengganggu. Bukan gang. Tapi, lorong di antara dua rumah.
Kini, batang pohon anggurnya sebesar kayu sapu. Merambat ke atas dengan jarak sekitar 2 meter. Memasang kawat di atap. Rantingnya semakin menjalar dan menyebar. Daun-daun pohon anggur pun kian lebat. Ruang kosong pun seperti beratap.
Jarak 2 meter dari lantai itu memudahkannya untuk memantau perkembangan buah anggur yang bergerombol. Sambil santai di teras sambil memandang pohon anggur.


Leyeh-Leyeh Sambil Memandang Anggur
Dua pohon anggurnya sudah pernah panen berbuah. Terutama saat kemarau seperti ini, rasanya manis. Segar. Dua pohon, satu anggur hijau. Satunya anggur merah.
Ada kendala, saat musim hujan tiba. Maryam mengakui saat air langit turun, buah anggur merah kerap kali tidak bisa berbuah normal. Tidak segar.
‘’Sehingga ada rencana untuk membungkus buah saat musim hujan tiba,’’ tutur ibu dengan tiga putri tersebut.
Ikhwan, suaminya juga bersemangat ketika istrinya menanam dua buah anggur. Ikhwan juga tidak menyangka dari lahan sempit tersebut, pohon anggur bisa tumbuh.
‘’Nyenengke (bikin senang) pas berbuah,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya.
Menurut Ikhwan, tidak ada perawatan khusus. Hanya rajin memberi pupuk dan menyiram air. Menyenangkan saat leyeh-leyeh di teras rumah. Bersantai sambil bertanam.
‘’Terutama perogosi (memangkas daun-daun) agar cepat berbuah,’’ tuturnya.
Cukup mudah bertanamnya. Bersamaan saat menggarap di bengkel mesin bubut, sambil memantau perkembangan anggur. Jadi, hiburan bagi pelanggannya yang datang saat menunggu mesin bubut selesai.
Maryam dan Ikhwan menunjukkan bahwa tidak ada alasan tidak bisa bertanam anggur karena tidak memiliki lahan atau pekarangan. Sebaliknya, dua pasangan suami istri (pasutri) ini memberi contoh bahwa lahan sempit bisa tumbuh pohon anggur hingga berbuah.

Bersebelahan Tempat Jemur Pakaian
Tidak hanya Maryam dan Ikhwan, Yulaikah juga menanam satu pohon anggur di samping rumahnya. Samping kamar. Bertanam di antara dua rumah. Lahan sekitar 2 meter, namun tumbuh pohon anggur berbuah.
Yulaikah tinggal di sebuah gang kecil. Tidak memiliki pekarangan rumah yang luas. Namun, sebagai ibu peduli alam dan mencintai pohon, tetap menyempatkan bertanam. Bertanam di sela aktivitas keseharian.
Pohon berhimpitan dengan tempat menjemur pakaian. Tidak mengganggu, karena daun-daunnya tidak banyak. Daunnya tidak mudah rontok. Itupun daun tipis. Daun tidak terlalu besar.
‘’Pohonnya bisa terkena sinar matahari,’’ jelasnya kepada Bojonegoro Raya.
Kebetulan Yulaikah, merupakan saudaranya Ikhwan. Sehingga, berangkat bersama saat bertanam pohon anggur tersebut. Saling memantau perkembangan pohon anggur.

Yulaikah menunjukkan dua pupuk yang dipakai untuk menanam pohon anggur tersebut. Dan, ternyata pohon anggur hingga berbuah. Buahnya bergerombol.
Perempuan-perempuan tinggal di lahan penduduk ternyata banyak yang kreatif. Dari lahan sempit, tumbuh pohon anggur yang legit.
Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, ada perempuan-perempuan menyempatkan bertanam buah. Membuka ruang. Meneguhkan pohon-pohon perkotaan. (kza)

