Dikejar Jam Kerja, Ditimbun Tugas Rumah Tangga, Dinanti Kasihnya

Perempuan Buruh Pabrik Rokok - Bojonegoro Raya
Marko saat menyapu halaman rumahnya, Jumat (26/10/2024) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Tidak gampang menjadi perempuan pelinting rokok. Mereka perlu membagi waktu, tenaga, dan cinta untuk dua lembaga. Pabrik dan rumah tangga. 

BOJONEGORORAYA – Siti Mariyati masih memakai seragam kerja kala terbungkuk-bungkuk menyapu halaman rumahnya menggunakan sapu lidi pada Jumat (26/10/2024) sore. Perempuan itu tidak tampak lelah. Padahal, baru saja melinting ribuan batang rokok kretek selama tujuh jam.

“Ini (menyapu halaman rumah, red) sudah kebiasaan setiap pulang kerja,” tutur pelinting rokok di Mitra Produksi Sigaret (MPS) Kapas itu, saat ditemui Bojonegoro Raya kala menyapu halaman rumahnya, Jumat (26/10/2024) sore.

Betapapun dirinya lelah akibat bekerja di pabrik rokok mitra PT H.M. Sampoerna itu, perempuan pelinting rokok memukimi rumah kecil beralas perlak di tepi Kali Avur Desa Padang Mentoyo, Kecamatan Kapas,  Bojonegoro itu menyebut bahwa rasa lelahnya tidak akan ditampakkan.

“Lelah karena bekerja harus hilang ketika sampai rumah. Begitu pikiran. Kalau tidak, akan merasa berat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti menyapu halaman rumah ini,” tuturnya.

Pin merah merupakan lokasi rumah Marko.

Marko sapaannya sudah terbiasa membagi waktu dan tenaga untuk pabrik dan kelangsungan rumah tanggannya. Kepiawaian itu didapat sekian tahun silam. Tidak lama setelah membangun rumah tangga bersama Komari, suaminya.

Setiap hari, ibu dua anak ini selalu bangun tidur jelang tempo subuh. Kegiatan pertamanya menanak beras di magic com. Sambil menunggu beras disulap menjadi nasi oleh peranti elektronik itu, Marko menunaikan salat ketika azan subuh berkumandang.

Lepas Salat Subuh, Marko menggoreng tempe atau tahu dan meracik-mengorek sambal untuk sarapan suami berikut dua anak lelakinya. Juga untuk bontot-nya seharian bekerja di pabrik. Ketika menu makan jarang sekali berganti itu sudah jadi, dia memburu dua putranya untuk mendampingi mandi dan memakai seragam sekolah.

“Setelah itu, saya menyuapi mereka (dua anak, red) sarapan. Jika sudah, barulah saya mandi. Bersiap ke pabrik. Sarapan dulu, saya tidak pernah. Tapi, saya selalu bawa bontot. Dimakan ketika siang. Saat jam istirahat melinting,” terang Marko.

Marko menyebut, seluruh kegiatan sejak jelang subuh itu harus rampung sebelum pukul 05.30 WIB. Jarum jam pukul 05.30 itu, dia harus berangkat ke pabrik MPS Kapas di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro yang jaraknya sekitar 5 kilometer (km) dari rumahnya.

Saat berangkat kerja mengendarai motor Yamaha Mio warna merah, Marko tidak bisa langsung menuju MPS Kapas. Perempuan pelinting rokok ini harus nyangking anak keduanya. Perlu melipir dulu sekitar 3 km ke Desa Sukorejo, perkotaan Bojonegoro.

Baca Juga :  Menjaga 'Mama' dengan Ekowisata

“Di Sukorejo itu, saya titipkan anak kedua saya di rumah kerabat. Pukul 06.30 WIB, anak kedua saya itu masuk sekolah. Dia sekolah di salah satu SD di Sukorejo itu. Kelas satu,” ungkapnya.

Ketika pulang kerja dari pabrik pada pukul 14.00 WIB, perempuan lulusan SD ini juga tidak bisa segera pulang ke rumah. Melainkan, harus melalui rute sama. Menjemput anak keduanya yang sudah pulang sekolah dan menunggu kehadirannya di rumah kerabat.

“Sampai rumah, saya bergegas nyandak (menangani, red) anak pertama. Umurnya 19 tahun. Mengalami disabilitas mental. Dia selalu menanti saya pulang,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Anak pertamanya itu, ungkap Marko, sangat bergantung kepadanya. Makan harus disuapinya. Mandi harus dimandikannya. Jika bukan dia, anak mengalami disabilitas mental sejak lahir itu tidak mau makan maupun mandi. Marko pun mafhum akan kemauan anak pertamanya tersebut.

“Anak pertama saya itu terlahir spesial. Butuh ditangani secara spesial pula. Setelah anak pertama itu selesai tertangani, saya lanjut menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga. Menyapu, mencuci piring, dan baju, serta lain-lain,” lanjutnya.

Perempuan Buruh Pabrik Rokok - Bojonegoro Raya
Marko di depan rumah bersama dua anaknya, Jumat (26/10/2024) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Pelinting rokok kelahiran 1982 ini mengungkapkan, anak pertamanya yang mengalami disabilitas mental itu suatu petikan tersendiri bagi hidupnya. Anak pertamanya itu memang kelewat manja dengannya. Hanya mau dengan ibunya. Dengan Komari selaku bapaknya, tidak mau.

“Dia (anak pertama, red) selalu menunggu saya pulang kerja. Ingin ngobrol-ngobrol dan bercanda dengan saya. Saat melinting rokok di pabrik, saya tentu kerap kepikiran dia,” terangnya.

Marko mengatakan, anak pertamanya mengalami disabilitas mental sekaligus sulit berbicara itu juga cukup mengkhawatirkan. Tengaranya, sering kabur dari rumah tanpa sepengetahuan tetangga maupun suaminya yang sehari-hari mencari barang rongsok di Desa Padang Mentoyo dan sekitar.

“Tidak terhitung dia kabur dan hilang. Beruntung, selalu dapat ditemukan polisi. Suatu kali, dia pernah kabur dan hilang lalu ditemukan di desa sebelah. Pernah pula ditemukan di kecamatan sebelah,” jelasnya.

Kali terkahir, anak pertama Marko yang sempat menempuh pendidikan di salah satu SD Luar Biasa turut Kecamatan Baureno, Bojonegoro itu kabur dan hilang sekitar enam bulan lalu. Beruntung, dapat ditemukan polisi dan dikembalikan lagi ke rumah.

Baca Juga :  Energi Jambaran Tiung Biru, Menyalakan Seni-Budaya di Desaku

“Waktu dia hilang kali terkahir itu, saya sedang melinting rokok di pabrik. Begitu saya dikabari tetangga, saya bergegas pulang dari pabrik untuk mencari. Alhamdulillah, pabrik mengizinkan. Mengerti kecemasan saya,” tuturnya.

Jika tega dan durhaka, Marko bisa menyebut kendala di hidupnya adalah keberdaan anaknya yang pertama tersebut. Namun, dia tentu tidak sekeji itu. Marko tetap mensyukuri kehadiran anak pertama tersebut. Setiap anak adalah amanah dari Allah Maha Kuasa.

“Saya tidak malu memiliki anak seperti dia. Saya dan suami bersyukur. Dia itu anak yang baik. Putra kami. Dititipkan Allah kepada kami. Akan kami jaga, kami rawat sebaik-baiknya,” tegasnya.

Perempuan bekerja sektor tembakau sejak 1998 itu meneruskan ingin tetap melinting rokok di MPS Kapas hingga pensiun usia 55 tahun. Gaji dari melinting rokok di MPS milik Koperasi Karyawan Redrying Bojonegoro (Kareb) itu sangat menopang hidupnya dan keluarga.

“Dengan tenaga dan waktu yang dibagi untuk keluarga, saya ingin tetap melinting rokok di MPS Kapas sampai waktunya pensiun. Tanpa bekerja di MPS itu, saya tidak tahu bagaimana keluarga ini,” jelasnya.

Perempuan Buruh Pabrik Rokok - Bojonegoro Raya
Marko saat mencuci baju dan memandikan dua anaknya di Kali Avur dekat rumahnya, Jumat(26/10/2024) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Komari mengaku bangga dan terbantu dengan apa yang dilakukan istrinya selama ini. Tanpa usaha Marko itu, pria asal Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Bojonegoro ini mengemukakan bahwa keluarga kecil dipimpinnya mungkin akan kekurangan.

“Alhamdulillah. Dia (Marko, red) istri yang baik. Mau membantu suami mencari rezeki. Dia pun tetap berbakti pada suami. Juga tidak mengabaikan anak dan tugas rumah tangga,” tuturnya.

Di sela-sela pekerjaannya mencari rongsok, Komari berupaya ikut meringankan tugas-tugas istrinya mengurus rumah tangga. Misalnya, membantu mencuci piring dan baju atau membersihkan rumah. Juga, senantiasa memastikan anak pertamanya tak kabur dan hilang lagi dari rumah.

Pekerja Pelinting Rokok Mayoritas Perempuan

Ketua Pengurus Cabang (PC) Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP-RTMM) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bojonegoro Anis Yuliati mengemukakan, fenomena dialami Marko dan keluarganya itu juga dialami para perempuan pelinting rokok lainnya.

“Di MPS Kapas, lebih kurang ada 2.300 pekerja. Sebanyak 99 persen perempuan. Sekitar 75 persen dari mereka merupakan tulang punggung keluarga. Bukan lagi tulang rusuk,” ungkap Anis sapaannya.

Perempuan yang juga bekerja di MPS Kapas ini mengutarakan, 75 persen suami dari para perempuan pelinting rokok itu tidak bekerja atau pekerjaannya serabutan. Kurang bisa mencukupi nafkah keluarga. Sebaliknya, nafkah keluarga dicukupi istri.

Baca Juga :  Amati Warga dengan CCTV, Pantau Bayi Pakai Aplikasi, Desa Kauman Optimistis Desa Digital Nasional

“Jadi, ada semacam keterbalikan peran dalam rumah tangga. Yang bekerja di luar adalah istri. Yang mengurus rumah tangga adalah suami. Di MPS Kapas ini, fenomena seperti itu sudah umum,” jelasnya.

Perempuan Buruh Pabrik Rokok - Bojonegoro Raya
Ketua FSP-RTMM SPSI Bojonegoro Anis Yuliati saat diwawancara, Sabtu (26/10/2024) sore. (Foto: Yusab Alfa Ziqin)

Anis meneruskan, tidak ada bisa dihardik perihal para suami yang perannya terdegradasi oleh peran para istri itu. Kesempatan kerja di Kabupaten Bojonegoro memang sedikit. Minim pabrik atau industri padat karya. Sekali ada, itu pabrik rokok yang mayoritas butuh perempuan.

“Awal 2024 misalnya, pabrik rokok MPS Dander di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, Bojonegoro mulai buka atau beroperasi. Butuh 3.000 karyawan. Mayoritas yang dibutuhkan perempuan. Bukan laki-laki,” terangnya.

Perihal dilema dalam memprioritaskan pekerjaan atau keluarga sebagai pekerja pabrik, Anis juga mengalami hal tersebut. Menururt dia, opsi itu tidak bisa dipilih salah satu sebagai prioritas tunggal. Keduanya perlu diproritaskan secara bersamaan.

“Saya single parents. Memiliki satu putri. Dengan pekerjaan dan jabatan di pabrik saat ini, tidak mudah membagi waktu, tenaga, dan cinta untuk pekerjaan serta putri saya tersebut,” ungkapnya.

Anis bercerita, ritme hidupnya sehari-hari tak jauh berbeda dengan yang dijalani Marko. Bedanya, sang putri hanya diurus olehnya. Jadi, dia sangat sedih jika sekolah sedang libur.

“Jika libur sekolah, putri saya di rumah sendirian. Saya tak bisa menemani. Karena, harus bekerja,” jelas perempuan kelahiran 1977 berdomsili di Perumahan Puri Dander Asri, Bojonegoro itu.

Beruntung, putrinya yang kini duduk di bangku SD itu mulai terus mengerti keadaannya sebagai ibu plus pekerja pabrik. Sehingga, mulai tidak menuntut terlalu keras akan kehadirannya di rumah sepanjang waktu. Terutama saat sekolah sedang libur.

“Dengan keadaan ibunya bekerja di pabrik, anak-anak kami akhirnya tumbuh lebih tangguh. Bisa lebih mandiri. Kami sering berbicara soal itu di antara kami di sini,” imbuh Anis.

Lebih lanjut, sarjana komputer alumni Universitas Darul Ulum Jombang ini mengatakan, dia dan para ibu lain di MPS Kapas akan sama-sama mempertahankan diri sebagai perempuan karir sekaligus perempuan yang sadar tanggung jawab terhadap keluarga.

“Sebab, pada hakikatnya, pekerjaan dan keluarga itu saling berhubungan. Kami bekerja untuk kebaikan keluarga. Untuk biaya hidup anak. Jajan anak. Pendidikan anak. Kami bekerja, tidak untuk kami sendiri,” pungkasnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!