Tujuh Desa di Bojonegoro Dilanda Kekeringan

KRISIS: Masyarakat desa di Bojonegoro saat mengakses air bersih yang disalurkan BPBD Bojonegoro, beberapa waktu lalu. (Foto: BPBD Bojonegoro)

BOJONEGORORAYA — Perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) bahwa kemarau menjerang Bojonegoro mulai akhir April 2026, meleset.

Pada April hingga Mei 2026, hujan masih sering turun di Bojonegoro. Kemarau baru terasa di Bumi Rajekwesi mulai awal bulan ini, Juni 2026.

Meski demikian, masyarakat Bojonegoro di beberapa desa sudah terkena dampak serius. Wilayahnya dilanda kekeringan. Krisis air bersih.

Menindaklanjuti hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro bergerak. Mengirimkan air bersih ke desa-desa terdampak.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi membenarkan itu. Dia mengemukakan, sepanjang Juni 2026 ini, tujuh desa dilaporkan kekeringan.

‘’Tersebar di lima kecamatan,’’ ujarnya saat dihubungi Bojonegoro Raya, Jumat (26/6/2026) siang.

Heru sapaannya meneruskan, 6.589 jiwa terdampak kekeringan dimaksud. Pihaknya telah distribusikan air bersih di empat desa di empat kecamatan.

‘’Kami telah distribusikan tujuh tanki air bersih sepanjang bulan ini. Per tanki, 5.000 liter,’’ imbuhnya.

Tiga desa yang belum mendapat distribusi air bersih, lanjut dia, adalah Desa Wotan, Desa Sumberharjo, dan Desa Papringan. Saat ini masih diproses.

Adapun, mantan Camat Kepohbaru ini mengungkapkan, kekeringan paling parah dilaporkan terjadi di Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo.

‘’Sepanjang Juni 2026 ini, kami distribusi air bersih tiga kali di Desa Deru,’’ terangnya.

Lebih lanjut, Heru mengimbau, masyarakat yang desanya dilanda krisis air bersih, lekas melapor. Pihaknya akan menindaklanjuti. (sab/kza)

Baca Juga :  Bantuan Bojonegoro untuk Aceh dan Sumatera Dikirim dalam Dua Gelombang, Diangkut 18 Truk
error: Content is protected !!