Ayo Menabung Air, Bojonegoro Belum Punya Tandon Raksasa

15/04/2026

Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya

——————

SEGAR. Hujan membasahi sejumlah kawasan Bojonegoro secara berturut-turut. Empat hari beruntun. Deras. Air tumpah ruah. Tanah dan ladang menjadi basah. Anugerah.

Potensi hujan, masih berlangsung. Wilayah Kabupaten Bojonegoro, perkiraan atau prediksi masih terjadi hujan. Ini menandakan, air dari Tuhan, masih akan membasahi Bumi Rajekwesi, sebutan Bojonegoro.

Sampai kapan? Nah, berdasar perkiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya, potensi hujan masih terjadi sampai akhir April 2026.

Berarti, masih akan ada hujan di sejumlah wilayah Bumi Rajekwesi. Menjadi berkah bagi masyarakat, seiring musim kemarau akan segera tiba. Musim kemarau akan segera menyambut.

Berdasar data BMKG tersebut, misalnya, Kecamatan Tambakrejo, Rabu (15/4/2026) cuaca berawan dengan suhu 24-31 derajat Celsius. Kamis (16/4/2026) terjadi hujan ringan. Jumat (17/4/2026) cerah dengan suhu 23-30 derajat Celsius. Sabtu, (18/4/2026) potensi terjadi hujan ringan.

Namun, ada juga wilayah di Bojonegoro, yang potensi hujannya cukup tipis hingga 22 April 2026. Berdasar prediksi BMKG, sejumlah wilayah seperti Kecamatan Kedungadem, Sugihwaras, Baureno, dan Kepohbaru, prediksi cuacanya rerata cerah dan berawan.

Daerah tersebut mulai minim hujan. Namun, sekali lagi, itu masih perkiraan cuaca sementara. Bisa jadi ada pengaruh alam, terjadi hujan. Tentu, tidak merata dari 28 kecamatan di Bojonegoro.

Berarti, saat ini sudah memasuki musim pancaroba. Musim peralihan dari penghujan menuju musim kemarau. Menyambut musim kering.

Prediksi BMKG: Musim Kemarau Lebih Kering

Berdasar prediksi BMKG, musim kemarau 2026 di Indonesia ini akan lebih kering. Potensi berlangsung lebih panjang. Puncaknya Agustus 2026 mendatang.

Sekitar 57 persen, wilayah Indonesia prediksi mengalami kemarau di atas normal. Berpotensi memicu bencana kekeringan. Sulit mendapat pasokan air. Penurunan debit air.

Baca Juga :  Setyo Wahono dan Istri Atensi Pentingnya Digital Parenting

Gambaran tersebut menjadi peta. Menjadi alarm atau peringatan dini agar masyarakat menyambut kemarau dengan tepat. Bisa memprediksi dan menghitung pasokan air untuk rumah tangga atau sektor pertanian.

Mitigasi ini penting. Edukasi cuaca ini menjadi urgen agar kita semua bisa menyambut kemarau dengan antisipasi dan langkah.

Mumpung, masih musim pancaroba, ayo bersama gerakan menabung air. Nyimpen banyu. Gerakan menabung air ini harus menjadi bagian bersama. Menabung, berarti tidak boros.

Menabung air atau rainwater harvesting merupakan bagian konservasi air tanah. Bagian upaya untuk menangkap, mengumpulkan, dan meresapkan air ke dalam tanah.

Atau, menyimpan/ menabung air dalam wadah sebagai ketersediaan air. Istilahnya, tandon. Upaya menabung air ini agar dapat menggunakan kembali saat kemarau. Sebagai ketersediaan air tanah saat kemarau.

Nah, mumpung saat ini masih ada potensi hujan, mari bersama-sama ayo menabung air. Tatkala air turun dari langit, kita tidak membiarkan air meluber ke selokan. Menuju sungai. Nantinya, mengalir sampai ke laut. Terbuang.

MELIMPAH: Air Bengawan di Bojonegoro cukup melimpah ketika musim hujan. Salah satu sudut Aliran Bengawan Tinggang, salah satu geosite baru Geopark Bojonegoro. Lokasi lektotipe Elephas hysudrindicus. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Bikin Biopori dan Sumur Resapan

Di sinilah, letak edukasi bersama. Mitigasi bersama menjelang kemarau. Bagaimana mempolakan laku agar menabung air hujan yang melimpah ruah ini.

Menabung air bisa dengan memanfaatkan embung atau cekungan atau kolam kecil di sekitar rumah. Bagaimana air hujan bisa tertampung di cekungan belakang atau samping rumah.

Langkah lainnya, dengan sumur resapan. Bagaimana air hujan tidak mengalir terbuang ke sungai. Memanfaatkan sumur resapan. Air hujan dari talang rumah agar masuk ke sumur resapan. Sumur yang bagian dasar berupa batu atau kerikil. Tidak disemen. Berguna sekali saat kemarau.

Bagian konservasi air lainnya, dengan membuat biopori. Yakni, lubang resapan sederhana. Membuat lubang silindris vertikal ke dalam tanah berisi sampah organik. Sampingnya berupa bebatuan atau kerikil.

Baca Juga :  Setyo Wahono Temui Dirut Perhutani Wahyu Kuncoro, Bahas Penanganan Banjir Bandang

Biopori ini air akan meresap ke tanah. Menabung ke dalam tanah. Bermanfaat. Hanya, perlu gerakan masif membuat biopori. Semakin banyak biopori, justru lebih bagus. Menyimpan air ke dalam tanah.

Perlu ada gerakan satu rumah, 10 biopori. Bisa membuat biopori di halaman rumah. Teras, atau samping dan belakang rumah. Gerakan biopori ini harus menjadi agenda bersama.

Seandainya Punya Tandon Raksasa seperti di Lapangan Banyu Urip

Bojonegoro punya waduk. Waduk Pacal dan Waduk Gongseng. Hanya, peruntukan lebih banyak untuk sektor pertanian. PDAM sudah memanfaatkan air Waduk Gongseng. Mengalirkan sambungan rumah (SR) ke sejumlah kecamatan tadah hujan.

Masih teringat Penjabat (Pj) Bupati Bojonegoro Adriyanto. Saat itu, Pj Bupati tersebut tertarik dengan konsep raw water basin atau tandon air raksasa. Tandon untuk menabung air yang nantinya digunakan ketika kemarau.

Water basin tersebut berada di Lapangan Banyu Urip yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited. Berbentuk bendungan besar. Bendungan air menunjang operasional industri minyak.

Water basin ini mampu menyimpan sekitar 5 juta meter kubik air. Setara seribu lebih kolam renang. Suplai airnya dari Bengawan Solo. Kebetulan, Bojonegoro satu-satunya kabupaten terpanjang dialiri Bengawan.

Tentu, potensi besar, ketika air Bengawan, bisa tertampung seperti water basin. Nyimpen banyu di tandon raksasa selayaknya water basin. Mengingat saat ini air melimpah ruah di Bengawan mengalir begitu saja ke hilir.

Tetapi, perlu terobosan dengan membuat water basin atau tandon raksasa ini. Butuh anggaran besar. Perlu kemauan besar. Dan, butuh pengorbanan besar seiring menipisnya kuota anggaran infrastruktur.

Saat ini memang belum musim kemarau. Tetapi, Bojonegoro sudah terasa terjadi “kekeringan” anggaran. Efisiensi. Dana transfer keuangan daerah (TKD) dari pusat dikepras. Dana perimbangan seperti dana bagi hasil (DBH) migas debitnya mulai menurun.

Baca Juga :  Menakar Eksistensi Sekolah Rakyat

Hujan anggaran sudah berlalu. Empat-lima tahun lalu. Saat itu, belum ada kuota menabung anggaran. Dana abadi migas, yang tidak ngegas. Mari menyambut kemarau. (*)

error: Content is protected !!