Kisah Pendidikan dari Pinggiran Kedungadem (2)

Anak-Anak Penembus Batas

ANAK LAMONGAN: Zahra dan Feni saat pulang sekolah. Meninggalkan SMPN 3 Kedungadem. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

NIRWANA Azzahra mesti bangun pagi saban Senin-Sabtu. Dia harus bersekolah pada enam hari itu. Menembus batas Lamongan—Bojonegoro. Menuju SMPN 3 Kedungadem.

Kendati demikian, siswi tinggal di Dusun Gampeng, Desa Talunrejo, Kecamatan Bluluk, Lamongan itu tidak pernah sambat. Perjalanan antarkabupaten ditempuhnya dekat. Sekitar 3 km. Cepat.

‘’Kira-kira 15 menit saja. Naik Vario,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya di sekolahnya, Selasa (28/4/2026) siang.

Zahra sapaannya memersiskan, dia selalu berangkat pukul 06.30 WIB. Motor dilajukan dengan kecepatan sedang. Sampai di SMPN 3 Kedungadem sekitar pukul 06.45 WIB.

‘’Selalu aman di perjalanan. Hanya, jalannya Lamongan jelek. Rusak. Tidak mulus seperti jalannya Bojonegoro,’’ imbuhnya.

Remaja kelahiran 2012 itu mengungkapkan, orang tua mengizinkannya mengendarai motor untuk pulang-pergi bersekolah. Bahkan, sejak kelas 7.

‘’Pesannya, selalu hati-hati di jalan,’’ tutur siswi kelas 8, beruang saku Rp 15.000 per hari tersebut.

Selain Zahra, ada Feni Julianti. Dia teman sekelas Zahra. Juga siswi SMPN 3 Kedungadem yang tinggal di Dusun Gampeng, Desa Talunrejo, Kecamatan Bluluk, Lamongan.

‘’Kami (Feni Julianti dan Zahra, red) selalu berangkat bersama,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Selasa (28/4/2026) siang.

Feni sapaannya meneruskan, dia dan Zahra senang bersekolah di SMPN 3 Kedungadem. Sudah mereka pilih sejak sebelum lulus dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Talunrejo I.

‘’Begitu lulus SD, kami langsung pilih bersekolah di sini. SMPN 1 Bluluk jauh. Sekitar 9 km dari rumah kami,’’ ungkapnya.

Terpisah, Maulana Malik Ramadhan mengatakan hal senada. Bedanya, siswa SMPN 3 Kedungadem asal Dusun Majenon, Desa Talunrejo itu tidak mengendarai motor sendiri.

‘’Selalu diboncengkan teman sekelas. Namanya Awang,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya, Selasa (28/4/2026) siang.

Remaja akrab disapa Maulana  itu pun merasa nyaman sekolah di SMPN 3 Kedungadem. Kerasan. Banyak teman. Baik-baik. Para gurunya pun baik-baik.

Baca Juga :  Bersapa Arus, Mengapung tanpa Pelampung

‘’Yang juga senang, di sini dapat MBG,’’ imbuh anak dari keluarga petani, beruang saku Rp 7.000 per hari tersebut.

Baik Zahra, Feni, maupun Maulana, sama mengakui kedekatannya dengan Bojonegoro. Terutama, Kecamatan Kedungadem. Main, cari jajan dan hiburan, di Kecamatan Kedungadem. (sab/kza)

error: Content is protected !!