Ekspedisi Naga Api, Jahit Sejarah Kekayaan Geopark Bojonegoro untuk Edukasi

14/06/2026
OBSERVASI: Ekspedisi Naga Api dilakukan Bojonegoro History mengunjungi enam situs Geopark Bojonegoro. Juga, berlangsung diskusi penuh edukasi. (Foto: Bojonegoro History).

BOJONEGORORAYA – Ekspedisi Naga Api yang dilakukan Bojonegoro History menyingkap khazanah sejarah minyak dan kekayaan geopark. Menyasar situs di enam titik lokasi.

Disajikan melalui literasi media sosial (medsos) dan diskusi. Mengedukasi. Membangun Geopark Bojonegoro lewat narasi. Penuh aksi.

Ekpedisi Naga Api menyusuri enam situs telah dimulai sejak pertengahan Mei lalu. Bermula dari Situs Dandangilo Kecamatan Kedewan. Berlanjut di Situs Janjang Kabupaten Blora dan Teksas Wonocolo.

Selanjutnya, Situs Prangi, Situs Jari, dan situs Kedunglantung di penghujung ekspedisi.

‘’Enam situs yang dikunjungi kami sajikan dalam narasi literasi geopark di media sosial. Tentu, untuk mendukung UGGp yang sedang diupayakan Pemkab  Bojonegoro,”  ujar Ketua Komunitas Bojonegoro History Muhammad Andre.

Observasi terhadap setiap situs dengan kecermatan. Mencatat dan mendiskusikan. Berlanjut mengemas dalam konten media sosial yang menarik. Tujuannya untuk memeberikan edukasi.

Mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dan bangga mempunyai kekayaan geologi. Sebab, saat ini Pemkab Bojonegoro tengah mengusulkan geopark Bojonegoro menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp).

‘’Ada tiga kerangka yang kami sajikan yakni geodiversitas, biodiversitas dan kulturaldiversitas,” tutur Andre.

Ekspedisi, Observasi, Selaraskan Literatur

Selama ekspedisi telah banyak menjumpai, seperti di Dandangilo dan Wonocolo yang dalam kajian geologi tesambung dengan struktur antiklin kawengan, zona rembang Cekungan Jawa Timur Utara.

Mempunyai resevoir minyak dangkal. Menyebabkan rembesan minyak yang dimanfaatkan hingga saat ini.

Temuan observasi lapangan tersebut diselaraskan dengan literatur-literatur sejarah. Dari era kolonial hingga kerajaan. Dijahit menjadi narasi bisa dinikmati pembaca melalui layar kaca smartphone.

‘’Wawancara warga lokal yang telah bergelut dengan kekayaan geologi secara turun-temurun. Lalu memadukan dengan literatur sejarah yang ada,” tutur pria asal Kecamatan Sugihwaras tersebut.

Baca Juga :  Ke Wisata Edukasi Gerabah, Bicara Soal Warna Produk

Tidak hanya di ranah geologi, tidak luput mencatat sejarah biodiversitas dan kultural masyarakat. Beberapa hewan seperti monyet, beruk, dan kijang sejak dahulu berdampingan dengan warga saat ini sudah hilang.

Namun, tim ekspedisi masih menjumpai capung, semut, hingga biawak di ladang minyak.

Ragam flora, fauna, dan geologi, berkesinambungan dengan kehidupan dan kultur masyarakat. Bagi tim Bojonegoro History, khazanah tersebut harus bisa dijamah dan dikunyah oleh mayarakat Bojonegoro melalui narasi literasi.

‘’Kami berharap dengan narasi kami sajikan bisa mengedukasi warga tentang sejarah kekayaan geopark terutama segmen petroleum perminyakan,” ungkapnya.

Ekspedisi baru saja berlangsung berada di Situs Prangi pada Sabtu (13/6/2026). Mengunjungi Undak Bengawan. Serta, serpihan fosil yang berada di sekitar bantaran sungai. Menjumpai banyak rumah warga masih menghadap bengawan.

‘’Selanjutnya kami akan mendiskusikan beberapa temuan di lapangan dengan mengajak komunitas lainnya,” tambahnya.

Situs terakhir akan memfokuskan di Kedung Lantung Kecamatan Sugihwaras. Tim Ekspedisi Naga Api Bojonegoro History akan mengulik tentang sejarah minyak lantung yang sudah dimanfaatkan warga secara turun-temurun.

Ekspedisi ini bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. EMCL mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk pengembangan geopark sebagai kebanggaan dan identitas daerah. (*/man)

error: Content is protected !!