Visi Besar Bupati: Bojonegoro menjadi Pusat Medical Tourism

SAMPAIKAN VISI: Bupati Wahono saat sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus IDI Cabang Bojonegoro, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Bag. Prokopim Setda Bojonegoro)

BOJONEGORORAYA – Eksistensi wisata alam dan hiburan di Bojonegoro selama ini naik-turun. Seiring terus berupaya mengonsistenkan naiknya eksistensi wisata dimaksud, Pemkab Bojonegoro kini menengok arah lain.

Bupati Bupati Bojonegoro Setyo Wahono punya visi menjadikan Bojonegoro sebagai pusat medical tourism. Orang berbondong ke Bojonegoro bukan karena wisata alam dan hiburan. Namun, demi mendapat layanan kesehatan.

Hal ini diutarakan Bupati Wahono saat sambutan acara Pelantikan Pengurusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bojonegoro periode 2026—2029 di Hotel Aston Bojonegoro, Sabtu (11/7/2026) lalu.

‘’Jika sulit mendatangkan orang melalui pariwisata, maka Bojonegoro harus mampu menarik orang melalui layanan kesehatan,’’ ujarnya.

Putra Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo ini meneruskan, Bojonegoro punya potensi besar menjadi pusat medical tourism—sebagaimana Penang, Malaysia atau Orchard dan Novena, Singapura.

Total, ada sebelas rumah sakit (RS) di Bojonegoro. Terdiri dari lima rumah sakit umum daerah (RSUD) milik Pemkab Bojonegoro dan enam RS swasta. Beberapa di antaranya, sudah punya spesialisasi layanan.

Misal, RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo punya fokus pada layanan penyakit jantung dan pembuluh darah, RSUD Padangan layanan penyakit mata, RSUD Sumberrejo layanan kebidanan.

Secara lokasi, ada dua RSUD di dekat perbatasan Bojonegoro dengan kabupaten tetangga. Misal, RSUD Padangan dan RSUD Temayang. Keduanya bisa menjadi jangkar menarik orang luar.

“(RS, red) Yang swasta juga harus tumbuh, gak boleh yang (RS, red) swasta itu dibunuh,’’ tegas Bupati Wahono.

Penegasan itu menunjukkan semua pihak perlu terlibat menjadikan Bojonegoro sebagai pusat medical tourism. RS swasta harus ikut meningkatkan kualitas layanan.

‘’Pengembangan (Bojonegoro sebagai pusat medical tourism, red) ini akan membawa dampak signifikan bagi kemajuan daerah,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Banjir di Lima Titik Bojonegoro, Setyo Wahono Minta Atasi Tahun Ini

Sebab, medical tourism akan turut meningkatkan eskalasi ekonomi masyarakat. Sekaligus meningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui optimalisasi layanan rumah sakit.

Lebih lanjut, Bupati Wahono mengakui, visi menjadikan Bojonegoro sebagai pusat medical tourism mungkin terlalu muluk. Namun, dengan masterplan atau perencanaan matang, dia optimistis bisa terealisasikan.

Salah satu pihak nongovernment yang tentu berperan penting dalam pencapaian visi dimaksud, terang dia, tidak lain adalah para dokter dan tenaga kesehatan (nakes) lain di Bojonegoro.

Hatta, Bupati Wahono ingin para nakes itu ikut terlibat. Mendukung penuh visinya mengenai Bojonegoro sebagai pusat medical tourism. Aktif dalam sinergi dan kolaborasi yang baik.

‘’Saya yakin. Dengan sinergi dan kolaborasi, visi (Bojonegoro sebagai pusat medical tourism, red) akan akan terwujud,” pungkasnya.

Untuk diketahui, visi menjadikan Bojonegoro sebagai pusat medical tourism juga pernah dikemukakan Menteri Koordinator PMK Pratikno. Bersamaan dengan rencana menjadikan Kecamatan Padangan sebagai kota.

Guna lebih mengetahuinya, silakan baca Laporan Utama diterbitkan Bojonegoro Raya pada 11 Agustus 2025. Berjudul Menata Ulang Kota Padangan, Kembali ke Era Jipang. Klik di sini. (sab/kza)

error: Content is protected !!