Menata Ulang Kota Padangan, Kembali ke Era Jipang

PENINGGALAN: Salah satu loji di Padangan. Sisa-sisa kota. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Kecamatan Padangan akan menjadi kota. Layanan kesehatan menjadi pijakan. Mempertegas kredo Padangan sebagai Tanah Kesembuhan.

BOJONEGORORAYA – Kota Padangan yang terdegradasi menjadi kecamatan, akan ditata ulang. Pemkab Bojonegoro berencana mengubah Kecamatan Padangan menjadi kota lagi.

Kepulangan Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno ke Bojonegoro pada awal Agustus 2025 kemarin, bukan kepulangan biasa.

Menko asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro itu punya atensi perihal rencana tersebut. Salah satu buktinya, dia sampai safari ke Kecamatan Padangan selama dua hari.

Dalam safarinya, Pratikno menilik kick off program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di SMPN 1 Padangan pada Senin (4/8/2025) dan meresmikan Katarak Center di RSUD Padangan pada Selasa (5/8/2025).

Saat menyampaikan sambutan di RSUD Padangan, kakak kandung Bupati Bojonegoro Setyo Wahono itu secara terbuka merestui rencana Pemkab Bojonegoro menyalin rupa Kecamatan Padangan menjadi kota.

Dia menyatakan, rencana tersebut relevan dan masuk akal. Juga memiliki latar belakang sejarah. Mengingat, Kecamatan Padangan dulunya memang kota. Pusat pemerintahan era lama.

‘’Dulu, Kecamatan Padangan adalah Ibu Kota Jipang. Pusat pemerintahan,’’ tuturnya, Selasa (5/8/2025).

Selain itu, kata dia, dulu Kecamatan Padangan juga pusat perdagangan. Ketika aktivitas perdagangan masih mengandalkan jalur sungai—via Bengawan. Oleh sebab itu, ada Kota Tua Padangan.


Di era modern ini, ketika perdagangan tidak lagi mengandalkan Bengawan, Kecamatan Padangan tetap berkaliber. Secara geografis, masih strategis. Berlokasi di perbatasan Jawa Timur—Jawa Tengah. Di persimpangan. Titik tengah.

‘’Bojonegoro, Blora, Rembang, Grobogan, Pati, Ngawi, ibu kotanya di Kecamatan Padangan ini,’’ imbuh Pratikno.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu melanjutkan, peningkatan layanan kesehatan adalah opsi ideal untuk pijakan mengubah Kecamatan Padangan menjadi kota. Katalisatornya RSUD Padangan.

‘’Namun, tentu harus berbasis kompetensi. Punya spesialitas layanan. Misalnya, spesialis penyakit mata, kardiovaskuler, atau paru-paru,’’ jelasnya.

Lebih dari itu, Pratikno menyampaikan, pembangunan di sektor lain pun wajib dilakukan. Terutama pendidikan. Sisanya di sektor permukiman, fasilitas publik, perdagangan, hiburan, hingga spiritualitas.

‘’Bangun ekosistem yang baik. Kecamatan Padangan bisa menjadi The Capital of Healing Wellness (Ibu Kota Penyembuhan dan Kesejahteraan, red),’’ tandasnya.

Menurut Pratikno, hal itu tidak muskil dilakukan Pemkab Bojonegoro. Sebab, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro terbilang besar. Disokong Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas (Migas).

Baca Juga :  Tiga Srikandi Pemanah Bojonegoro Kembali Raih Emas, Total Cabor Panahan 3 Medali

‘’Manfaatkan APBD besar itu untuk sesuatu yang lebih produktif,’’ tutur menko lahir di Desa Dolokgede pada 13 Februari 1962 silam tersebut.

Terpisah, Peneliti Jipang Totok Supriyanto menyampaikan, Padangan memang pernah menjadi Ibu Kota Jipang di masa silam. Hal itu terjadi pada 1814 saat Jawa dicengkeram Inggris, dipimpin Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.

‘’Pada 1814, Raffles membentuk Keresidenan Jipang. Ibu kotanya di Padangan,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya, Sabtu (9/8/2025).
Keresidenan Jipang yang beribukota di Padangan, lanjut Totok sapaannya, terdiri dari enam afdeling atau kabupaten. Meliputi afdeling Panolan, Padangan, Rajekwesi, Sekaran, Bowerno, dan Tinawun.

‘’Namun, Padangan tidak lama menjadi Ibu Kota Jipang. Hanya sekitar satu tahun. Menyusul penyerahan Jawa ke Belanda oleh Inggris pada 1816. Tatanan berganti lagi,’’ imbuhnya.

Peneliti Jipang asal Desa Kamolan, perkotaan Blora itu meneruskan, di bawah pemerintahan kolonial Belanda, Padangan beralih status menjadi district atau kawedanan. Dinaungi Keresidenan Rembang.

‘’Kendati demikian, Padangan tetap diperhitungkan pemerintah kolonial Belanda. Sebab, selain pusat perdagangan, juga simpul pergerakan Islam,’’ jelasnya.

Kota Padangan Nanti, Penang Saat Ini

Penang merupakan negara bagian Malaysia. Terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaya, dekat Selat Malaka. Banyak orang luar Malaysia rela ke Penang. Berobat di sejumlah rumah sakit (RS) di sana.

Penang dikunjungi para sakit karena sejumlah RS di sana terkenal berkualitas tinggi. Fasilitas medisnya berstandar internasional. Juga masyhur melayani para pasien dan keluarganya dengan sangat humanis.

Apa yang menjadi citra Penang itu, akan menjadi citra Kecamatan Padangan mendatang. Ketika Pemkab Bojonegoro sukses merealisasikan rencananya: mengubah Kecamatan Padangan menjadi kota.

Hal itu diutarakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro Achmad Gunawan Ferdianysah. Kecamatan Padangan diproyeksi menjadi kota yang core-nya adalah layanan kesehatan.

‘’Kota Padangan nanti, adalah Penang saat ini,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya, Rabu (6/8/2025).


Pejabat akrab disapa Gunawan itu meneruskan, objek yang akan digarap Pemkab Bojonegoro untuk mengantarkan Kota Padangan serupa Penang adalah RSUD Padangan.

‘’RSUD Padangan akan ditingkatkan fasilitas dan pelayanannya. Menjadi RS berkualitas tinggi. RS jujugan,’’ imbuhnya.

Sebagaimana pesan Menko PMK Pratikno, RSUD Padangan akan memiliki kompetensi khusus. Punya spesialitas layanan yang bisa diunggulkan ketimbang RS-RS lain di sekitarnya.

Baca Juga :  Pelatihan Jurnalistik di SMPN 1 Ngraho: Memahami Berita, Opini, hingga Fotografi

‘’Berdasarkan aneka pertimbangan, RSUD Padangan akan menjadi RS spesialis penyakit kardiovaskuler dan paru-paru. Unggulannya itu,’’ terangnya.

Saat ini, berbagai kebutuhan untuk mengualitaskan RSUD Padangan telah dipersiapkan. Agenda meningkatkan sarana, prasarana, hingga pemenuhan sumber daya manusia (SDM) untuk RSUD Padangan, sudah dimulai.


Pejabat lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tersebut mengemukakan, ada sejumlah alasan mengapa layanan kesehatan dipilih sebagai pijakan merancang Kota Padangan.

‘’Salah satunya, layanan kesehatan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak hanya orang Bojonegoro saja. Tapi juga sekitarnya,’’ terangnya.

Dengan demikian, ada motif fundamental yang menyebabkan banyak orang mengunjungi Kota Padangan mendatang. Membuat Padangan menjadi kota yang bergeliat. Bereskalasi.

‘’Selain sektor kesehatan, tentu ada sektor lain yang akan menunjang pembentukan Kota Padangan. Saat ini sudah diinventarisir,’’ imbuhnya.

Di antaranya, ungkap Gunawan, Pemkab Bojonegoro akan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan dini, dasar, dan menengah di Kecamatan Padangan. Hingga, membangun atau merehabilitasi fasilitas publik.

‘’Akses jalan cukup menjadi perhatian. Ke depan, Kota Padangan butuh jalan baru. Entah jalan lingkar atau poros,’’ terangnya.
Jalan baru tersebut, kata dia, untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah sekitar Kota Padangan. Kurang memungkinkan jika Kota Padangan mendatang hanya mengandalkan jaringan jalan yang tersedia saat ini.

‘’Adapun, untuk sektor ekonomi, Kota Padangan akan ditunjang Pasar Padangan dan Pasar Cendono. Sektor pariwisata, ditunjang Waduk Sonorejo,’’ imbuhnya.

Ihwal pengembangan pariwisata Waduk Sonorejo, Gunawan mengatakan, Pemkab Bojonegoro telah menerima masukan Menko PMK Pratikno. Waduk seluas delapan hektare itu akan dipermak menyerupai Telaga Sarangan.

‘’Jadi, Waduk Sonorejo tidak sekadar objek wisata. Tapi juga ada penginapannya. Ada vila atau home stay-nya,’’ ungkapnya.


Lain hal untuk landmark Kota Padangan, lanjut Gunawan, Pemkab Bojonegoro punya proyeksi merevitalisasi kawasan Kota Tua Padangan yang mencakup eksotisme sejarah kolonial, riwayat Pecinan, hingga peradaban Bengawan.

‘’Kawasan Kota Tua Padangan akan menjadi heritage district bagi Kota Padangan mendatang,’’ jelasnya.

Padangan sebagai Tanah Kesembuhan

Pada 1834, sepulang beribadah haji di Makkah, Syekh Abdurrahman Klotok singgah di Penang. Ulama asal Padangan itu merampungkan sebuah catatan perjalanan yang ditulis tangan. Beraksara Jawa Pegon.

Di akhir catatannya tersebut, Syekh Abdurrahman Klotok secara implisit menyatakan Penang mirip Padangan. Syekh Abdurrahman Klotok merasa, berada di Penang seperti berada di negeri sendiri: Padangan.

Baca Juga :  Wahyudiono, Pengalaman Tangani Siswa Kesurupan dan Tidak Bisa Membaca

Kini, catatan perjalanan Syekh Abdurrahman Klotok yang diselesaikan dalam persinggahan di Penang itu masih ada. Menjadi manuskrip. Disimpan para dzuriah Kasepuhan Padangan.

Ahmad Wahyu Rizkiawan adalah salah satu dari sekian dzuriah Kasepuhan Padangan. Dia menyambut baik rencana pembentukan Kota Padangan. Terlebih, core-nya adalah layanan kesehatan serupa Penang.

‘’Padangan dan Penang punya kesamaan. Itu yang dirasakan Syekh Abdurrahman Klotok. 191 tahun lalu. Sebagaimana catatan perjalanannya,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Minggu (10/8/2025).

Jika saat ini Penang terkenal karena kualitas layanan kesehatan, Rizki sapaannya memperkirakan, Kota Padangan mendatang juga bisa serupa. Penang dan Padangan memiliki ‘energi’ yang sama.

‘’Mengingat, Padangan sedari dulu juga masyhur sebagai lemah tetombo atau Tanah Kesembuhan. Ada kredo seperti itu,’’ imbuhnya.

Hanya saja, kata Rizki, layanan kesehatan atau langkah penyembuhan di Padangan yang selama ini dikenal masyarakat, tidak sama seperti persepsi modern. Dinilai kuno, konservatif, metafisis, bahkan mitologis.

‘’Sebab, penyembuhan penyakit di Padangan lebih banyak memakai suwuk (doa atau mantra, red). Bukan tindakan medis,’’ jelasnya.

Langkah penyembuhan dengan model demikian itu dilakukan para kyai, barisan dukun, hingga tabib. Mereka bagian dari suatu thoriqoh Islam atau aliran kepercayaan tertentu yang berkembang di seantero Padangan.

‘’Medium digunakan untuk penyembuhan memakai suwuk pun beragam. Yang paling umum, menggunakan tanah dan air,’’ terangnya.

Khusus penggunaan tanah itu, ungkap Rizki, ada istilahnya. Namanya turbah. Dan, tanah yang diambil harus berklasifikasi Sabda Dadi, memiliki residu baik. Bukan Idu Geni yang kebalikannya, beresidu buruk.

‘’Bagi mereka yang mempelajarinya, dua jenis tanah berlainan residu itu mudah sekali ditemukan di Padangan,’’ ujarnya.

Sampai saat ini, langkah penyembuhan di Padangan yang dicap kuno, konservatif, metafisis, bahkan mitologis itu masih ada. Sebagian masyarakat juga masih mengaksesnya guna melapisi pengobatan modern.

‘’Atau karena sebagian masyarakat itu sangsi terhadap pengobatan modern,’’ imbuh penulis buku Tarikh Padangan tersebut.

Pria yang juga etnograf peradaban Bengawan Bojonegoro itu berharap, masyarakat modern tidak membuang muka dalam menyikapi kearifan lokal di Padangan. Kuno atau konservatif berbeda dengan takhayul.

Kelak, lanjut Rizki, saat Padangan menjadi kota berbasis kesehatan, penyembuhan medis dan nonmedis mungkin bisa saling melengkapi. Mempertegas kredo Padangan sebagai Tanah Kesembuhan. (sab/kza)

error: Content is protected !!