BOJONEGORORAYA – Komunitas Bojonegoro History menggelar tikar. Sarasehan budaya di kawasan Geosite Kedung Lantung pada Senin (10/8/2026).
Menggali dan menghitung potensi wisata yang bisa dikembangkan. Berbasis edukasi sejarah, geologi, dan budaya hingga membangun memori baik pengunjung.
Sarasehan Budaya mengajak perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung. Juga, mengajak mahasiswa KKN Universitas Bojongoro (Unigoro) dan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri).
Akademisi hingga warga lokal ikut terlibat. Saling bertukar ide dan gagasan di bawah rindangnya pohon beringin.
“Diskusi kami arahkan untuk menggali potensi lokal. Sekaligus membangun gagasan pengembangan desa wisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata. Tetapi juga memiliki nilai edukasi,” tutur Ketua Komunitas Bojonegoro History Muhammad Andre.
Agenda tersebut mendapat dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melalui gerakan Literasi Geopark. Dengan menghadirkan tiga narasumber. Yakni, Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., dosen Unigoro.
Laily sekaligus tenaga ahli biodiversity Badan Pengelola Geopark Bojonegoro.
Alumni Geologi UPN Veteran Yogyakarta Burhanudin Arriza, S.T. Dan, Kepala Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras yang diwakili Pokdarwis turut membersamai.
Andre mengungkapkan, kehadiran narasumber dengan latar belakang berbeda menjadi bagian penting. Perspektif akademik, biodiversitas, geologi, serta mempertemukan pengalaman masyarakat lokal. Ujungnya agar bisa melihat Kedung Lantung secara lebih menyeluruh.
“Dengan demikian, potensi wisata tidak hanya dilihat dari sisi keindahan alam. Tetapi, juga dari nilai geologi, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat sekitarnya,” ucapnya.
Kedung Lantung Potensi Edukasi Alam
Menurut Andre, Kedung Lantung memiliki potensi pengembangan sebagai ruang belajar alam terbuka. Unsur geologi dan lingkungan menjadi bahan edukasi bagi pelajar, mahasiswa, maupun wisatawan.
“Kami juga menyarankan adanya sebuah camping ground sekitar Kedung Lantung untuk menarik wisatawan,” tambahnya.
Sejarah lokal dan kebudayaan masyarakat dapat menjadi bagian dari narasi wisata membuat kunjungan ke Kedung Lantung memiliki pengalaman lebih bermakna.
“Diskusi mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan, penyampaian cerita, hingga pengembangan aktivitas wisata,” jelasnya.
Pokdarwis Kedung Lantung Rico Thomas Mahardika mengaku telah mempunyai konsep wisata Petroleum Kedung Lantung.
Mengajak wisatawan praktik pengambilan lantung untuk mengisi ublik. Selanjutnya, menyalakan untuk penerangan.
“Praktik seperti kebudayaan yang dilakukan masyarakat dahulu. Lantung dimanfaatkan untuk penerangan,” tegasnya.
Pihaknya berterima kasih kepada EMCL telah membantu pengembangan Wisata Kedung Lantung. Mulai pembangunan fasilitas hingga menyemarakkan dengan festival budaya.
Pengembangan Wisata, Membangun Memori Baik
Almaliki Ukay Sukaya Subqy perwakilan EMCL mengatakan, EMCL membantu pemerintah untuk mengembangkan wisata geosite Kedung Lantung. Wujud pembangunan infrastruktur wisata hingga literasi.
Malik menambahkan, bagian penting pengembangan wisata adalah membangun memori baik. Meski destinasi wisata tidak mewah dan megah, jika pengelola bisa membangun memori baik pengunjung wisatawan tidak enggan berkunjung.
“Wisata itu bukan sebagus apa, tapi bagaimana pengelola Kedung Lantung bisa memproduksi memori baik bagi pengunjung,” ujarnya.
Adapun kolaborasi komunitas, perguruan tinggi, pemerintah desa, pemuda, masyarakat, dan EMCL di Kedung Lantung berarah berkembang sebagai desa wisata berbasis potensi lokal dan edukasi.
Sarasehan Budaya Volume VI menjadi salah satu langkah awal untuk membangun gagasan tersebut secara bersama-sama. (*/man)



