BOJONEGORORAYA – Marsam, hari-harinya kini tidak lagi masam. Warga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, kini saban pagi ceria. Semringah melihat ayam-ayam Gayatri di kandangnya berkokok dan ngendok atau bertelur.
Ayah tiga anak ini telah berhasil menjalankan ternak ayam petelur Gayatri sejak tahun lalu. Marsam memasuki babak baru dalam gerakan beternak ayam petelur mandiri (Gayatri).
Bahkan, Marsam telah mengembangkan peternakan ayam Gayatri dengan pendekatan biasa lakukan pada ayam peliharaannya sendiri. Kebiasaan itu membuatnya bisa konsisten menghasilkan telur 3 kilogram (kg) saban hari.
‘’Alhamdulillah kami masih dipercaya mendapatkan Gayatri. Kami akan bersungguh-sungguh menjalankannya dan menjadi peternak yang andal,” tutur Marsam dengan optimistis Minggu (16/8/2026).
Marsam salah satu warga Desa Sudu mendapat bantuan ayam Gayatri tahap dua dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Alas Institute sebagai pendampingnya.
Program gayatri tahap dua tersebut tidak hanya memberikan ayam, kandang, dan pakan awal, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem peternakan. Tentu, secara mandiri oleh masyarakat.
“Saya bersyukur karena Bumdes selama ini telah membantu me-supply pakan dan telur dibeli,” ujar Marsam dengan syukur.

Gayatri Tahap Dua Bangun Ekosistem Peternakan
Berbagai evaluasi berjalan agar program peningkatan ekonomi masyarakat ini mampu mengangkat kesejahteraan warga Bojonegoro. Perbaikan krusial antara lain dengan pembentukan ekosistem usaha desa.
Program Gayatri Tahap 2, Alas Institute telah melakukan asesmen kepada lebih dari 100 penerima program sebelumnya. Hasil observasi ini menemukan beberapa evaluasi dan tindak lanjut.
“Tahun ini kita akan fokus pada pengembangan ekosistem,” tutur Manajer Program ALAS Institute Khoirul Huda.
Huda menyampaikan, bantuan tersebut merupakan bagian dari program pelibatan dan pengembangan masyarakat (PPM) SKK Migas dan EMCL.
Program ini menyasar lima desa, yakni Desa Sukoharjo dan Leran di Kecamatan Kalitidu.
Serta, Desa Sudu, Bonorejo, dan Gayam di Kecamatan Gayam. Jumlah penerima manfaat dari lima desa tersebut sebanyak 50 orang. Bermanfaat.
Dukungan program dalam bentuk paket ayam petelur, kandang, serta pakan awal. Merancang program untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, produksi telur, dan kualitas hidup.
Sekaligus mendorong swadaya penerima manfaat dan keberlanjutan usaha. Membentuk ekosistem.
EMCL: Tidak Berhenti Bantuan, Harus Manfaat Jangka Panjang
Feni K. Indiharti perwakilan EMCL mengatakan, pengembangan peternakan masyarakat membutuhkan keterlibatan penerima manfaat sejak awal.
Menurut Feni, berharap dukungan program diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan. Tetapi, berkembang menjadi usaha dapat memberikan manfaat jangka panjang.
“Keberhasilan program bergantung pada keterlibatan dan komitmen bersama,” tutur Feni.
Feni menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen industri hulu migas mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Bermuara meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya sekitar wilayah operasi migas di Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris.
Dukungan ini apresiasi kepada masyarakat selalu memberikan dukungan kepada EMCL. Sehingga operasi migas nasional bisa sukses seperti saat ini.
“Terima kasih untuk dukungan pemerintah dan masyarakat selama ini. Pemenuhan energi untuk negeri ini tidak akan terpenuhi tanpa dukungan Bapak Ibu sekalian,” ucapnya saat sosialiasi di Desa Sudu, Kamis (13/8/2026) lalu.
Sosialisasi berlangsung di Balai Desa Sudu. Melibatkan unsur pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, penerima manfaat, penanggung jawab program EMCL, dan ALAS Institute.
Selain menyampaikan informasi mengenai program, kegiatan menjadi ruang menyampaikan dan menetapkan data hasil verifikasi lapangan calon penerima manfaat.
Sinkronisasi agar program berjalan sesuai kondisi masyarakat dan mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan di tingkat desa. (*/kza)



