BOJONEGORORAYA – Komunitas Bojonegoro History kembali melangkahkan kaki dalam Ekspedisi Naga Api. Kali ini menapaki situs geosite Kedung Lantung, salah satu ragam Geopark Bojonegoro.
Geosite berada di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro, ini cukup menakjubkan. Rembesan minyak bercampur air jadi pintu masuk obeservasi geodiversity, culturaldiversity, dan biodiversity.
Peserta yang mengikuti ekspedisi melihat lanskap geologi. Terhampar dua singkapan batuan sedimen. Yakni, Formasi Klitik dan Formasi Sonde.
Keduanya menjadi saksi bisu terciptanya petroleum system. Masih eksis hingga saat ini. Menjadi situs yang diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGGp) oleh Pemkab Bojonegoro.
Ketua Komunitas Bojonegoro History Muhammad Andrea mengungkapkan, mengamati formasi geologi pembentuk Kedung Lantung jadi lanskap bebatuan.
Menyajikan panorama alam menakjubkan dan penghidupan bagi warga sekitar sejak dahulu. Tercatat dalam sejarah lisan maupun tulisan.
‘’Sebelum observasi kami baca literatur lama dan konfirmasi memori kolektif warga melalui wawancara,” ujarnya.
Sejak dahulu, masyarakat memanfaatkan lantung untuk bahan bakar penerangan. Memisahkan lantung dari air menggunakan bulu ayam. Kedung Lantung masih menghidupi hingga era kiwari.
Warga masih menggunakan air yang bercampur lantung tersebut untuk pengairan irigasi. Denyut nadi penghidupan sektor pangan saat musim kemarau tiba. Kedung Lantung jadi satu-satunya sumber yang diharapkan warga.
Andre menambahkan, ekspedisi di situs geosite Kedung Lantung bertujuan membumikan narasi geopak kepada masyarakat awam. Memberi edukasi agar informasi kekayaan geopark bisa dicerna dengan mudah melalui platform media sosial.
“Supaya masyarakat juga mengetahui keunikan Geopark Bojonegoro. Kemudian masyarakat tertarik dan ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Rembesan Minyak Kedung Lantung Jadi Manifestasi Alami
Burhanuddin Arriza praktisi geologi membeberkan, rembesan minyak di Kedung Lantung berasal dari batuan induk (source rock) Formasi Klitik. Formasi ini kaya material organik.
Minyak mentah tercipta selama proses pematangan dari peningkatan suhu dan tekanan. Material organik mengalami transformasi menjadi hidrokarbon.
“Rembesan minyak di Kedung Lantung merupakan manifestasi alami sistem petroleum yang masih aktif di bawah permukaan,” ujar alumnus UPN Veteran Yogyakarta tersebut.
Riza sapaannya mengungkapkan, minyak kemudian bermigrasi menuju batuan reservoir. Formasi Sonde memiliki porositas dan permeabilitas cukup baik menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon.
Di atas reservoir tersebut, lapisan batu lempung dalam Formasi Sonde berperan sebagai batuan penutup (cap rock). Bertujuan menghambat migrasi minyak. Sehingga hidrokarbon dapat terakumulasi di bawahnya.
‘’Aktivitas tektonik membentuk rekahan di lapisan batuan penutup ini menyebabkan sebagian lapisan penutup kehilangan sifat kedapnya,” tutur akademisi asal Desa Kalianyar Kecamatan Kapas tersebut.
Menurut Riza, Rekahan tersebut menjadi jalur migrasi sekunder yang mengakibatkan minyak bergerak naik menuju permukaan bumi. Sehingga, terbentuk rembesan minyak alami hingga kini masih dapat diamati di Kedung Lantung.
“Fenomena ini menunjukkan keterkaitan antara batuan induk, batuan reservoir, batuan penutup, serta pengaruh struktur geologi yang mengakibatkan keluarnya hidrokarbon ke permukaan,” terangnya.
EkspedIsi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang mendapat dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas.
Program ini mendukung upaya Pemkab Bojonegoro dalam mengembangkan geopark sebagai identitas daerah. Sekaligus sarana pendidikan kebumian yang dapat dinikmati masyarakat luas. (man)

