Bojonegoro pernah sangat lekat dengan Mahfud Ikhwan. Terurai karena duka. Dia kehilangan sahabat dan saudaranya: Anas Abdul Ghofur.
BOJONEGORORAYA – Jemari Mafhud Ikhwan meraih buku Anwar Tohari Mencari Mati. Membuka halaman awal novel itu dan menunjukkan satu kalimat di permukaannya. Bertulis: Mengenang sahabat dan saudaraku, Anas AG (1978—2018).
‘’Novel (Anwar Tohari Mencari Mati, red) ini saya dedikasikan untuknya,’’ lirih Mahfud Ikhwan kepada Bojonegoro Raya di Perpustakaan Jenggala, Sabtu (22/8/2026) petang.
Di kalangan jurnalis Bojonegoro, Anas AG atau Anas Abdul Ghofur bukan sosok asing. Mendiang jurnalis profesional. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro, juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro.
Mahfud Ikhwan kenal pria Bojonegoro itu saat kuliah di program studi Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Satu angkatan, sering tidur dan berkelakar satu kamar. Anas kawan diskusinya ihwal sastra dan segala.
‘’Dialah (Anas, red) yang pertama-tama meminjami saya buku-buku sastra. Dia pula yang selalu menilai karya (sastra, red) saya,’’ jelas sastrawan kelahiran Lamongan ini.
Mahfud Ikhwan mengemukakan, masa-masa itu, dia belum sreg dengan karya sastranya, jika karya sastra tersebut belum dinilai atau diperbincangkan dengan Anas. Saking kuat pertaliannya dengan Anas.
‘’Karya-karya saya selalu di-ece (diejek, red) oleh Anas. Kecuali, novel Dawuk. Dia bilang Dawuk itu bagus. Saya senang sekali. Seolah telah berhasil menaklukkannya,’’ kenangnya.
Karena pujian terhadap Dawuk itulah, Mahfud Ikhwan mendedikasikan Anwar Tohari Mencari Mati untuk Anas. Sebab, Anwar Tohari Mencari Mati merupakan sekuel atau kelanjutan dari Dawuk.
‘’Kalau teringat Anas, saya teringat Bojonegoro. Ikatan saya dengan Bojonegoro, adalah ikatan saya dengannya. Ketika dia meninggal dunia, saya sangat kehilangan,’’ imbuhnya.
Pria yang kini tinggal di Bantul itu menyebut, kehilangan Anas pada 2018 meninggalkan duka mendalam. Bertahun-tahun, dadanya berdesir ketika melintas di Bojonegoro. Selalu ragu-ragu menyinggahi Bumi Rajekwesi.
‘’Kedatangan saya di Bojonegoro hari ini, seperti pulang. Sudah lama sekali saya tidak ke sini. Bertahun-tahun. Sejak kepergian Anas itu,’’ pungkas Mahfud Ikhwan.
Untuk diketahui, semasa hidup, Anas tidak menanggalkan kesusastraannya. Dia sering menelusupkan sastra dalam karya-karya jurnalistiknya. Dia juga kurator utama lembar sastra Jawa Pos Radar Bojonegoro.
‘’Almarhum Anas salah satu pegiat jurnalisme sastra di Bojonegoro,’’ kata Pemimpin Redaksi Bojonegoro Raya Khorij Zaenal Assrori, mantan rekan Anas di Jawa Pos Radar Bojonegoro. (sab/kza)



