Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andong Sari: Membedah Sejarah, Melanjutkan Keteladanan

NARASUMBER: Supitono saat menuturkan riwayat Ki Andong Sari dalam Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andong Sari, Rabu (15/7/2026) malam. (Foto: Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Supitono duduk bersila di Pendapa Balai Kelurahan Ledok Kulon, perkotaan Bojonegoro, Rabu (15/7/2026) malam. Pria paruhbaya itu mengenakan kaus lengan panjang dan sarung hitam. Kepalanya mengenakan udeng hitam pula.

Di pendapa balai kelurahan itu, Supitono menjadi pusat perhatian. Khusuk mengisahkan riwayat Ki Andong Sari dan tlatah Ledok. Malam itu, dia narasumber dalam Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andongsari yang digelar Bojonegoro Raya.

Puluhan orang duduk melingkar menyimak tutur kata Supitono. Mereka warga Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetan, pegiat literasi, serta perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Bojonegoro.

Sejumlah mahasiswa dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur juga hadir dalam Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andongsari tersebut. Mereka tengah kuliah kerja nyata (KKN) di Kelurahan Ledok Kulon.

Adapun, dalam agenda itu, Supitono bukan narasumber tunggal. Ada dua narasumber lain. Yakni, salah satu penulis buku Historiografi Ki Andong Sari Ahmad Wahyu Rizkiawan dan wakil Disbudpar Bojonegoro Herry Abdi Gusti.

Dalam sarasehan dan bincang buku dimaksud, Supitono mewedar Ki Andong Sari berdasarkan cerita tutur dan kisah ketoprak. Sedangkan, Ahmad Wahyu Rizkiawan mengaitkannya dengan data sejarah. Perpaduan keduanya, serupa isi buku Historiografi Ki Andong Sari.

Sementara, Herry Abdi Gusti menuturkan seputar peran buku Historiografi Ki Andong Sari sebagai sumber literasi baru. Dia mengamini bahwa buku tersebut berkontribusi dalam memperkaya khazanah sejarah atau budaya lokal di Bojonegoro.

Supitono dalam closing statement-nya menyampaikan, sejarah lokal mayoritas memang samar. Termasuk, sejarah Ki Andong Sari. Namun demikian, setiap sejarah lokal sudah pasti memberi tinggalan pelajaran untuk para penerusnya di masa kini.

Baca Juga :  Sinden Cilik Galuh Mustiko Mumpuni, Pelantun Tembang dari Kasiman

Dalam konteks sejarah Ki Andong Sari, Supitono menyebut, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Ki Andong Sari mewariskan pentingnya sikap ksatria, beradab pada alam dan manusia, hingga pentingnya menebar bermanfaat pada sesama.

‘’Menjadi manusia, harus bermanfaat bagi orang lain. Demikian laku Ki Andong Sari yang harus kita teladani sampai hari ini,’’ tutur Juru Kunci Makam Ki Andong Sari itu.

Lurah Ledok Kulon Anton Simbolon bersyukur atas terselenggaranya Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andongsari. Dia berterima kasih kepada para warga dan seluruh pihak yang telah guyub rukun hadir mengikuti.

Anton sapaannya mengemukakan, buku Historiografi Ki Andong Sari memang penting. Dengan buku tersebut, riwayat leluhur dan budaya Ledok telah tercatat baik. Menjadi bahan literasi dan orkestrasi bagi warga Ledok maupun Bojonegoro secara luas.

‘’Ini menjadi upaya nguri-uri sejarah dan budaya Ledok. Atas dukungan warga dan berbagai pihak, kami menyampaikan terima kasih,’’ ujarnya.

Sementara, Ketua Panitia Pelaksana Sarasehan dan Bincang Buku Historiografi Ki Andong Sari Khorij Zaenal Assrori mengatakan, pihaknya berterima kasih atas seluruh apresiasi dan dukungan dari aneka pihak untuk acaranya.

‘’Acara ini menandaskan, kita tidak bisa berhenti mengulik sejarah dan budaya lokal. Kita harus terus mencari dan merelevankannya dengan masa kini,’’ terangnya. (luk/sab)

error: Content is protected !!