Menyelami Pikiran Mahfud Ikhwan, Berkarya dengan Realita di Sekitar Kita

BERCERITA: Mahfud Ikhwan saat mengisahkan proses kepengarangannya di Perpustakaan Jenggala. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA – Tohir duduk bersila di barisan paling depan. Istrinya mendampingi di sisi. Mereka dan puluhan orang lainnya, khusuk mendengarkan Mahfud Ikhwan.

Tohir, istrinya, dan puluhan orang lain itu, dalam acara Menyelami Pikiran Mahfud Ikhwan. Digelar di Perpustakaan Jenggala, Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Sabtu (22/8/2026) sore.

Mahfud Ikhwan tampak semringah dalam acara tersebut. Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini menjawab sekian pertanyaan. Menjelaskan panjang, sarat isi, mudah dipahami.

Sejumlah hal diutarakannya dalam acara itu di antaranya seputar proses kepengarangan dan karya-karya yang dilahirkan. Mulai Ulid, Kambing dan Hujan, Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati, hingga Bek.

Mahfud Ikhwan menyebut, karya-karya itu merupakan mimesis realita di sekitarnya. Berangkat dari hal-hal sederhana yang terjadi di kampungnya, dialami atau dilakukan orang-orang di dekatnya.

‘’Apa saja yang dekat dengan kita, itulah yang bisa kita tulis. Tidak perlu menjadi orang lain dengan hal yang juga lain,’’ ujar sastrawan asal pesisir Lamongan ini.

Karena itulah, alumnus Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada ini mengatakan, karya-karyanya tidak jauh dari realitas masyarakat pesisiran. Menceritakan orang biasa, budayanya, menyentuh dangdut hingga film India.

‘’Untuk bisa menulis dengan baik, seseorang tentu harus menjadi pembaca yang baik. Baca banyak buku. Mengerti kualitas buku,’’ imbuh peraih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 itu.

Dia juga meyakinkan, penulis bisa tumbuh dan berkembang di mana saja. Tidak melulu di Jogja atau Jakarta. Di Bojonegoro pun memungkinkan. Karena, Bojonegoro juga memiliki banyak hal yang bisa ditulis.

‘’Beberapa karya saya, setting tempatnya menukil Bojonegoro. Seperti jalanan Watu Jago itu. Semasa kuliah dulu, saya kan sering lewat situ ketika pulang kampung,’’ kenangnya.

Baca Juga :  Pembukaan Sekolah Rakyat Bojonegoro Ditunda Dua Pekan

Perihal lesunya gairah literasi di daerah yang acap dituding menyiutkan perkembangan penulis, Mahfud Ikhwan menyatakan, hal tersebut bukan persoalan serius. Hari ini, dunia telah lebih terbuka.

Selain itu, acara seperti Menyelami Pemikiran Mahfud Ikhwan oleh Perustakaan Jenggala telah menunjukkan Bojonegoro memiliki gairah literasi yang tidak mati. Ada harapan. Bisa terus dikembangkan.

‘’Yang terpenting (dari gairah literasi, red) bukan gelegarnya. Tapi, napas panjangnya,’’ tutur sastrawan yang juga essais produktif tersebut.

Pengurus Perpustakaan Jenggala Bahruddin Romadhoni  menyampaikan terima kasih atas kehadiran Mahfud Ikhwan dalam acara yang digelar pihaknya bersama Gramedia Bojonegoro itu.

‘’Kami berharap, apa yang disampaikan Mahfud Ikhwan dalam acara ini menjadi wawasan baru bagi kita. Dalam memulai, merawat, maupun mengembangkan aktivitas kepengarangan,’’ tuturnya. (sab/kza)