BOJONEGORORAYA – Kejadian orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengamuk harus bisa dicegah. Bersama-sama memitigasi terjadinya kasus serupa tidak terjadi lagi di Bojonegoro.
Terlebih ODGJ mengamuk hingga mengakibatkan korban terluka, bahkan hilangnya nyawa. Ada tiga kasus ODGJ mengamuk hingga merenggut nyawa. Korban dalam satu keluarga ODGJ tersebut.
‘’Tugas kita sebagai orang-orang yang sadar untuk mencegah dan memeriksakan. Kita tidak bisa menuntut ODGJ,’’ tutur Camat Padangan Novita Sari saat monitoring dan evaluasi Forum Kabupaten Sehat (FKS) bersama kader Pokja Desa Sehat, pada Kamis (27/8/2026) siang.
Kejadian ODGJ mengamuk, menurut Novita, harus menjadi evaluasi bersama-sama. Semua berperan aktif. Mendata, mencegah, dan mengobati para ODGJ yang berada di desa atau permukiman warga.
‘’Mari bersama-sama jaga desa. Perangkat desa dan warga harus memitigasi bersama-sama untuk mencegah dan mengajak memeriksakan ODGJ,’’ tutur mantan Camat Kasiman tersebut.
Ancaman ODGJ mengamuk masih rentan terulang. Terlebih data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, terdapat 2.788 ODGJ di Bumi Rajekwesi.
Rumah Sakit di Bojonegoro Tersedia Poli Kejiwaan
Menurut Novita, pihaknya merasa terenyuh atas kejadian diduga ODGJ mengamuk di Desa Bungur, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Korban yakni ibu kandungnya hingga hilang nyawa akibat amukan dengan paving.
MF inisial pelaku ODGJ mengamuk di rumah. Ayah kandungnya bisa selamat. MF berusia 30 tahun. Belum lama diduga depresi. Baru sebulan pulang dari merantau di Kalimantan.
Adapun data dihimpun, MF masih menjalani sederet penyelidikan. Masih mendekam di Mapolres Bojonegoro. Satreskrim polres akan mendalami kejiwaannya.
Butuh ahli kejiwaan, psikolog, hingga psikiater untuk memastikan status ODGJ atau masih waras. Kepastian ini untuk memastikan langkah berikutnya kasus hilangnya nyawa korban.
‘’Ini contoh yang berakibat fatal, terlebih kalau kita tidak melakukan (pencegahan dan pengobatan),’’ tutur Novita kepada perwakilan Pokja Desa Sehat se Kecamatan Padangan.
Novita mengajak aparatur perangkat desa, terutama relawan Pokja Desa Sehat mendata warga yang ODGJ. Langkah mitigasi. Lalu, mengajak dan mengantarkan periksa.
Terutama, rumah sakit di Bojonegoro, terdapat poli kejiwaan. Serta, mengajak aparatur desa atau warga mengambilkan obat bagi pasien ODGJ.
‘’ODGJ itu tidak bisa kita tuntut. Justru, kita sebagai orang-orang sadar ini harus punya kepekaan,’’ jelasnya.
Tiga Kasus ODGJ Mengamuk hingga Korban Meninggal
Sementara itu, rentetan kasus ODGJ mengamuk menjadi problema sosial. Semua pihak harus mitigasi ODGJ mengamuk. Kolaborasi dengan warga, pemerintah desa, untuk pencegahan.
Kejadian serupa terjadi di Desa Pilanggede, Kecamatan Balen. Seorang pria diduga ODGJ membunuh ibu kandungnya dengan senjata tajam. Warga baru mengetahui jenazah korban tiga hari setelahnya. Lebih menyedihkan.
Ada kasus serupa terjadi di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang. Rentang 2024 lalu. F, pemuda 26 tahun ODGJ mengamuk dan menyerang neneknya. Neneknya hingga tewas.
Lalu, keluarga mengurung F hingga dua tahun. Februari 2026, belum lama Dinas Sosial Jawa Timur membebaskannya. Mendapat rehabilitasi di Pelayanan Sosial Tresna Werdha, Sidoarjo. (kza)



